Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
APAKAH BENAR KAMU ADALAH PACARKU? #2


__ADS_3

Ken merasa sangat kesepian ketika sedang kuliah karena gak ada Ara. Dia jadi suka melamun apalagi memikirkan kalau Ara sudah melupakannya. Duh, Ra! Kasihan tuh Ken jadi linglung begitu!


"Keeen!" Laras muncul dan langsung mendekati Ken.


"Hai, Ras. Ada apa?" tanya Ken gak semangat.


Laras pun duduk di samping Ken. Dia gak sabar memberitahukan berita baik kepadanya.


"Kemarin aku menjenguk Ara, Ken! Kamu tahu gak, Ara sudah ingat kalau kamu itu adalah pacarnya!" ungkap Laras tanpa basa basi.


Ken tercengang. Tak percaya dengan kata-kata Laras. Dia pun langsung berdiri, "apa? Ara sudah ingat siapa aku?"


Laras tersenyum penuh semangat, "iya, Ken! Sudah sana temui Ara!"


Ken benar-benar sudah linglung karena saking senangnya. Dia pun segera berjalan menuju ke parkiran.


"Eeeh, kamu mau ke mana, Ken? Parkiran ada di sana!" teriak Laras sambil menunjuk ke arah yang berbeda.


Ken pun langsung berbalik arah. Kali ini, dia pun berlari kencang. Wajah Ara terbayang di pelupuk matanya. Tunggu aku, Ra!


Laras hanya tertawa melihat tingkah Ken. Seperti itulah jika orang lagi jatuh cinta. Dunia seakan hanya milik berdua.


"Kenapa kamu senyum sendirian, Ras?" Ternyata, Andre sudah memerhatikannya sejak tadi.


"Kak Andre, ada berita baik. Ara sudah ingat kalau Ken adalah pacarnya!" jawab Laras masih dengan senyuman lebar.


Andre mengerutkan keningnya. Dia merasa ada yang aneh.


"Ara sudah ingat kalau Ken adalah pacarnya. Seharusnya Ara juga ingat siapa yang sudah menabraknya!"


Laras terpaku mendengar ucapan Andre, "Ara memang sudah ingat, kak. Tapi dia gak yakin kalau orang yang menabraknya adalah Janet!" Laras keceplosan dan segera menutup mulutnya dengan tasnya. Padahal Ara menyuruhnya untuk merahasiakan soal Janet.


"Janet? Apa dia yang sudah menabrak Ara?" tanya Andre penasaran.


Sepertinya, Laras gak bisa berbohong di depan Andre.


"Kata Ara sih itu cuma mimpi. Tapi, Ken juga mendengar Ara menyebut nama Janet setelah kecelakaan itu!"

__ADS_1


"Ken juga mengetahuinya? Kenapa dia ga cerita? Aldy harus tahu soal ini!" Andre segera mengeluarkan hape dari kantong celananya.


"Jangan, kak. Ara bilang jangan kasih tahu kakaknya. Soalnya dia belum yakin. Sama seperti Ken, Ara juga bilang gak ingat benar," cegah Laras.


Andre tak jadi menghubungi Aldy setelah mendengar perkataan Laras. Dia juga gak bisa membayangkan, bagaimana perasaan Aldy setelah tahu kalau yang menabrak adiknya adalah Janet!


"Lalu, dimana Janet? Apa tadi dia kuliah? Aku ingin menemuinya!" ungkap Andre dengan sedikit geram. Entah apa yang akan dilakukannya kepada Janet bila bertemu.


Laras mengerti Andre semarah itu. Dia pun tidak bisa menahan amarahnya bila bertemu Janet.


"Janet sudah gak kuliah lagi disini. Ken sudah menemui Janet, tapi dia gak ngaku juga. Katanya, dia langsung kabur keluar negeri!"


Andre semakin mengerti apa yang sudah terjadi, "keluar negeri? Jadi Janet sengaja melarikan diri. Itu berarti benar kalau dia yang sudah menabrak Ara!" katanya lagi.


Laras mengangguk pelan, "aku hanya berharap Janet mau jujur. Setidaknya masih ada sedikit rasa manusia di dalam dirinya," ucap Laras lirih.


Andre pun sama. Semua tergantung penyelidikan polisi. Jika buktinya ada, Janet tidak bisa kabur lagi. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya.


*****


Ken sudah tiba di rumah sakit. Dia berjalan dengan cepat dengan seikat bunga yang lebih besar di tangannya. Kali ini, Ken membawa mawar merah yang melambangkan hatinya yang penuh cinta kepada Ara.


"Nak Ken? kamu ke sini lagi. Tapi Aranya lagi ke taman bersama dokter Raffi," sambut Mak Isah begitu melihat Ken.


Ken tertegun, "dengan dokter Raffi? Siapa dia, nek?"


"Dia adalah dokter yang merawat Ara. Kalau mau kamu menyusul Ara saja di taman."


"Iya, nek. Aku ke taman aja!" Ken langsung ngeluyur pergi. Kerinduan semakin memuncak, Ken gak bisa menunggu lagi.


Ken mengira kalau dokter yang bersama Ara sudah tua. Tapi, langkahnya terhenti ketika melihat Ara bersama laki-laki muda yang lumayan tampan dan memakai jas putih.


Ara sepertinya sangat akrab dengan dokter itu. Dia tertawa lebar seakan sudah lama mengenalnya.


Ken hanya berdiri mematung. Sempat merasa ragu untuk mendekati Ara. Dia merasa Ara sangat berbeda atau Ken hanya cemburu aja.


"Ra ...," tegur Ken yang memberanikan diri menyapa Ara.

__ADS_1


Ara menoleh dan menemukan Ken ada di hadapannya, "Ken? Ka-kamu di sini?"


"I-iya, Ra. Aku bawa bunga ini untukmu." Ken menyerahkan rangkaian bunga itu kepada Ara.


Ara tersenyum cerah, bunga yang dibawa Ken sangat cantik, "terima kasih, ya Ken. Oh iya, ini adalah dokter Raffi yang selama ini merawatku. Dokter, ini kawanku Ken!"


Ara tidak lupa mengenalkan Ken dan dokter Raffi.


"Oh, iya. Aku adalah dokter Raffi!" dokter Raffi mengulurkan tangannya.


Ken juga melakukan hal yang sama. Namun, dia ingin meluruskan sesuatu.


"Aku Ken, dok. Namun bukan cuman kawan Ara, tapi pacarnya!" ungkap Ken tegas.


Ken! Gila kamu ya. Di depan dokter setampan itu memulai peperangan!


"Keeen," panggil Ara. Wajahnya memerah karena menahan malu. Tidak seharusnya Ken bersikap seperti itu di depan dokter Raffi.


"Jadi, kamu adalah pacar Ara. Baiklah, aku akan serahkan Ara kepadamu karena aku masih ada tugas lain. Ara, maaf aku harus pergi. Jangan lupa rawatlah Buddy dengan baik!" pesan dokter Raffi tanpa menyinggung kondisi kesehatan Ara.


"Ba-baik, dokter. Terima kasih sudah menemaniku," ucap Ara dengan tatapan penuh arti.


Ken merasa hatinya sedikit panas ketika melihat tatapan Ara kepada dokter Raffi.


"Sepertinya kamu mengenal dokter Raffi dengan sangat baik, Ra!" ungkap Ken setelah dokter Raffi pergi.


"Iya, Ken. Dokter Raffi sangat baik. Bahkan dia memberikan aku ini. Namanya Buddy, dia bukan boneka jari biasa!" ucap Ara seraya menunjukan boneka yang ada di jarinya.


Boneka itu biasa saja. Ken berusaha untuk tidak cemburu kepada boneka itu. Aah, Ken ada-ada aja sih!!!


"Ra, kamu sudah ingat kalau aku adalah pacarmu, kan?" tanya Ken memastikan.


Ara tertegun, dia menatap Ken penuh arti. Memang tidak banyak kenangan. Tapi hatinya mengatakan siapa Ken sebenarnya.


"Apa benar kamu adalah pacarku, Ken?" Ara malah balik bertanya.


Ara ingin memastikan lagi. Entah kenapa, Ara merasa kalau Ken sudah lama mengisi hatinya.

__ADS_1


"Iya, Ra. Aku adalah pacar kamu!" jawab Ken sangat yakin. Dia gak mau kehilangan Ara lagi.


*****


__ADS_2