Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
TERLAHIR KEMBALI #1


__ADS_3

Raffi masih diam termangu ketika melihat bayangan Ara di taman depan rumah sakit. Penampilannya sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Kini, Ara sudah terlahir kembali menjadi gadis cantik dan mempesona.


Baru saja, Raffi akan menghampiri Ara, ada seorang gadis muncul. Raffi ingat gadis itu yang ada di depan ruangan Ugd bersama Kakak Ara. Berarti Ara akan mengunjungi gadis korban kecelakaan yang juga pernah menabraknya.


Apa yang akan dilakukan Ara? Gadis itu pernah membuatnya hampir mati. Raffi jadi ingin tahu apa yang diperbuat Ara kepadanya. Apa akan memakinya?


Ara segera menuju ke ruang Ugd bersama Laras. Dadanya terus berdegup kencang. Apapun yang pernah terjadi, Ara tetap mencemaskan keadaan Janet.


"Selamat sore, tante. Saya adalah Ara!" ucap Ara memeperkenalkan dirinya di depan Mamah janet.


Mamah Janet langsung berdiri begitu mendengar nama Ara.


"Ara? Apa kamu gadis yang dulu ditabrak Janet?"


Ara mengangguk meski dia gak mau mengungkit masa lalu.


"Iya, tante. Bagaimana kabar Janet?"


Tiba-tiba, Mamah Janet langsung memeluk.Ara. airmatanya kembali mengalir.


"Maafkan Janet ya, Nak Ara. Terima kasih sudah datang meskipun Janet pernah menyakitimu," ujar Mamah Janet disela tangisnya.


Ara mengusap punggung Mamah Janet pelan. Matanya jadi ikutan basah.


"Saya sudah memaafkan Janet sejak lama, tante. Apapun yang terjadi, dia tetaplah kawan saya!" sahut Ara sambil mengusap airmatanya. Hatinya ikut bersedih melihat Mamah Janet.


Tiba-tiba, seorang perawat datang, "maaf, bu. Sebentar lagi anak ibu mau dioperasi. Apakah sudah mendapatkan pendonor darah buat anak ibu?"


"Pendonor darah? Saya belum punya, sus. Saudara saya ada dikampung. Mereka gak bisa datang cepat!"


"Tapi, darah itu sangat dibutuhkan, bu. Silakan ibu ke PMI dan mencari darah yang cocok!"

__ADS_1


Mamah Janet sangat kebingungan. Dia gak tahu harus bagaimana.


"Saya akan memberikan darah saya, tante. Apa bisa, sus?" ucap Ara spontan.


"Iya, sus. Saya juga mau memberikan darah saya!" Laras juga mau memberikan darahnya.


Seorang perawat datang lagi dan membisikan sesuatu pada temannya.


"Maaf, bu. Operasinya sudah bisa dilakukan. Ada seorang laki-laki yang mendonorkan darahnya barusan!" kata perawat yang pertama datang.


"Syukurlah, sus. Siapa yang sudah memberikan darahnya buat anak saya, sus!"


"Maaf, bu. Kami gak bisa memberitahu!"


Ara dan Laras saling pandang. Mereka juga ingin tahu siapa orang yang sudah memberikan darahnya untuk Janet.


"Apa orang itu adalah Kak Aldy ya, Ras?" bisik Ara.


Ara terdiam. Kakaknya sangat mencemaskan Janet. Sebenarnya apa yang sudah terjadi diantara kakaknya dengan Janet. Jangan-jangan .... Kak Aldy menyukai Janet!


Raffi masih memerhatikan Ara dari jauh. Ternyata Ara mempunyai hati yang sangat baik. Bahkan akan memberikan darahnya untuk orang yang hampir membunuhnya.


Irena juga tahu soal kedatangan Ara. Acara yang dibawakan Ara cukup terkenal begitu juga dengan Ara sebagai host. Caranya membawakan acara itu sangat menyentuh. Mungkin karena Ara mempunyai pengalaman sebagai penyintas.


"Eeh, ada host acara Penyintas Beruntung di Ugd!" bisik salah seorang perawat yang membantu Irena. Sekarang, dia bukan lagi bertugas di Ugd dan mempunyai ruang praktek sendiri.


"Hostnya bernama Ara, kan? Katanya dia pernah dirawat disini karena kecelakaan juga!" sahut temannya.


"Aku dengar, orang yang menabraknya lagi kritis di Ugd. Dia juga ditabrak orang."


"Jadi, beneran ada karma, ya?!"

__ADS_1


"Ekheeem!" Irena sengaja berdehem agar perawatnya diam. Pembicaraan mereka membuat kuping Irena menjadi panas. Raffi pasti sudah tahu kedatangan Ara. Terkadang, Irena tahu kalau Raffi sedang memikirkan Ara. Namun, dia hanya bisa bersabar. Entah sampai kapan, Ara akan menghilang dari hati Raffi.


*****


Ternyata, Aldy yang sudah memberikan darahnya untuk Janet. Dia juga berhak hidup walau pernah melukai Ara.


"Kak Aldy!"


Aldy baru saja keluar dari ruang donor darah ketika seseorang memanggilnya. Dia pun menoleh. Ternyata di depannya sudah ada Ara dan Laras.


"Ara? Kamu ngapain disini?" tanyanya heran.


"Jadi kakak yang sudah memberikan darah buat Janet? Kami juga mau melakukan hal yang sama!" sahut Ara yang gak marah setelah mengetahui apa yang dilakukan kakaknya.


"Gak usah, Ra. Biar kakak aja. Kamu juga masih suka kecapean. Kamu juga, Ras!"


Aldy malah melarang Ara dan Laras.


"Gak apa-apa kok, kak. Kondisi Janet lebih parah dari Ara. Dia pasti memerlukan banyak darah!" ucap Ara yang tetap kekeh pada pendiriannya.


"Iya-iya. Nanti saja kalau darahnya kurang. Tadi kakak sudah memberikan banyak darah. Sekarang malah jadi lapar. Mending makan aja, yuks!"


Aldy langsung menarik tangan adiknya. Ara terpaksa mengikuti kemauannya.


"Kenapa bengong, Ras. Ayo ikut makan!" tegur Aldy ketika melihat Laras gak bergerak dari tempatnya berdiri.


"Ba-baik, kak!"


Laras segera berlari menyusul keduanya. Dia berusaha mengerti dengan sifat kakaknya Ara. Semakin lama, Laras semakin menyukainya.


*****

__ADS_1


__ADS_2