
Raffi membuat kopi sendiri di kantin rumah sakit. Kemudian teringat tatapan Ken ketika Ara akan memberikan buku kecil kepadanya. Sepertinya Ken tahu buku itu sementara Ara gak mengingatnya sama sekali.
"Apa yang membuat kamu melamun begitu, dok?"
Tiba-tiba terdengar suara. Lamunan Raffi langsung buyar. Ternyata, Irena sudah berdiri di depannya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit mengantuk! Apa kamu mau ngopi juga, Ren?" jawab Raffi.
Irena sedikit terkejut ketika dokter Raffi memanggil namanya. Meski ada sesuatu yang membuatnya sedikit kecewa.
"Apa kamu lupa kalau aku gak ngopi? Aku akan membuat teh sendiri aja!"
"Duduklah! Biar aku buatkan. Maafkan aku terakhir ini sedikit sibuk," ucap Raffi yang langsung membuatkan Irena secangkir teh.
"Apakah sangat sibuk sampai bisa ke taman hiburan?" tanya Irena sedikit menyindir.
Raffi tersenyum. Dia tahu kalau Irena menyukainya sejak lama.
"Iya. Aku mengajak Ara ke taman hiburan agar ingatannya sedikit demi sedikit kembali. Seharusnya, dia sudah mengingat kenangannya saat ini!"
Raffi menyodorkan secangkir teh untuk Irena dan duduk di sebelahnya.
"Terima kasih. Aku sangat senang akhirnya kita bisa duduk bersama. Tapi, kenangan lama akan kembali jika bersama dengan orang yang terhubung. Jika dengan orang yang berbeda adalah menciptakan kenangan. Seperti kita sekarang, entah kapan bisa terulang lagi!" celetuk Irena yang lumayan panjang.
Raffi yang tengah menyeruput kopinya terdiam. Yang dikatakan Irena ada benarnya. Sekarang Ken sudah kembali, bisa jadi ingatan Ara juga.
"Baiklah! Bagaimana minggu depan kita menciptakan kenangan di tempat lain. Mungkin di bioskop atau di restoran!" sahut Raffi yang berniat menghibur Irena. Dia merasa bersalah karena pernah melupakan janjinya tempo hari.
Irena tersenyum. Entah kenapa hatinya tidak berapi-api lagi.
"Lihat aja nanti! Mungkin kamu bisa membatalkannya lagi!"
"Kali ini janjiku seribu kali! Kalau batal, kamu bisa memulas wajahku dengan kopi!" ucap Raffi.
Wajah Irena langsung berubah. Dia sangat tahu kalau Raffi memiliki wajah yang tampan. Bagaimana kalau wajah tampan itu dipenuhi bubuk kopi?
"Oke! Janji, ya!" Irena mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Raffi tertawa kecil dan menyambut uluran tangan Irena.
*****
Ken masih penasaran dengan buku kecil yang dibawa Ara. Dia sangat ingat kalau dirinya yang sudah memberikan buku itu. Namun, Ara mengira kalau dokter Raffilah yang memberikannya.
Sepanjang pelajaran, Ken selalu memerhatikan Ara yang selalu ceria dan banyak bicara. Sangat berbeda dengan sikapnya dahulu.
"Apa kamu mau melihat sekolah yang jauh lebih besar, Ra?" tanya Ken setelah jam sekolah selesai.
Ara tertegun sesaat kemudian matanya langsung berbinar, "apa ada sekolah seperti itu Pak dokter?" tanyanya antusias seperti biasa jika mendengar sesuatu yang baru.
Ken tersenyum, "tentu saja ada! Apa kamu mau melihatlah sekarang?" tanyanya lagi.
"Tentu saja Ara mau! Tapi, Ara harus tanya nenek dulu," sahut Ara yang langsung berlari menemui neneknya.
"Neneeek, Ara mau melihat sekolah yang lebih besar dengan dokter Ken. Apa boleh, nek? Boleh, ya? Ara juga mau sekolah di sana nanti!" tanya Ara langsung.
Mak Isah sedikit ragu. Dia harus menanyakannya kepada Satrio dahulu.
"Baiklah, Nak Ken eeh Pak dokter. Tapi jangan lama-lama, ya!"
Akhirnya Mak Isah setuju. Dia merasa kasihan juga melihat cucunya menjadi seperti itu. Berharap kehadiran Ken bisa membuat Ara kembali seperti dulu.
Tak lama kemudian, mobil Ken sampai juga di Universitas Nusantara. Kampus itu menyimpan banyak kenangan meski pun Ara gak mengingatnya sama sekali.
"Waah! Sekolah ini besar sekali. Tamannya juga sangat indah. Ara pasti betah lama-lama di sekolah ini!" ujar Ara yang langsung berlari ke taman.
"Hei. Tunggu, Ra!" Ken segera mengejar Ara.
Mak Isah membiarkan Ken mengejar cucunya. Dia hanya menarik napas panjang. Semoga aja, Ken bisa membuat ingatan Ara kembali.
Ken mencari Ara yang cepat sekali menghilang. Dia mencarinya ke seluruh taman namun belum menemukannya juga. Kemudian, Ken teringat tempat kesukaan Ara dulu.
Ternyata, perkiraan Ken benar. Ara sedang duduk di bangku taman tempat biasa mereka duduk. Di sana, mereka menghabiskan waktu setelah kuliah selesai.
Ara berhenti di sebuah bangku taman. Dia merasa tidak asing dengan bangku itu. Perlahan, dia duduk di atasnya. Bangku itu sangat nyaman bahkan Ara sampai memejamkan mata.
__ADS_1
Sesaat Ara terlena kala angin berembus menerpa wajahnya. Sebuah bayangan muncul. Sosok laki-laki tengah berjalan ke arahnya sambil melambaikan tangan. Sosok itu semakin dekat.
"Ara ...!" panggil sosok itu.
"Ara ...!" ucap sosok itu lagi.
Ara membuka mata. Kini, dia melihat sosok yang sama. Tapi, dia adalah dokter Ken.
"Dokter?"
"Aku mencarimu kemana-mana, Ra. Lain kali, jalan pelan-pelan aja, ya!" ujar Ken yang masih ngos-ngosan.
"Iya, Pak dokter. Maaf, Ara kesenangan berada di tempat ini, seperti pernah kesini. Apa dokter juga pernah sekolah di sini?" tanya Ara yang ingin memastikan sesuatu.
"Iya, Ra. Dulu aku kuliah di sini. Tempat ini juga kesukaanku!" jawab Ken seraya duduk di sebelah Ara. Ken kembali teringat kenangannya bersama Ara dulu.
"Apa saat itu, ada perempuan di samping Pak dokter?"
Ken tertegun. Apa Ara bisa mengingat kenangan mereka?
"I-iya, Ra. Aku bersama seorang perempuan cantik duduk di sini. Kami menghabiskan waktu setelah selesai kuliah!" jelas Ken tanpa memberitahu siapa perempuan itu.
"Apa perempuan itu adalah Ara?"
Ken menahan napas begitu mendengar pertanyaan Ara. Apa Ken salah dengar?
"Bu-bukan, Ra. Bukan kamu!" jawab Ken gugup.
Ara menatap Ken tajam. Tak lama kemudian, Ara malah tertawa.
"Ada apa, Ra? Mengapa kamu tertawa?" tanya Ken heran.
"Soalnya tadi Ara bermimpi begitu, Pak dokter. Mana mungkin Ara sekolah di tempat sebesar ini. Ayo, kita jalan-jalan lagi, Pak dokter!"
Ara langsung berlari lagi entah kemana. Ken seperti kehilangan kesadaran. Apakah dia yang sedang bermimpi?
*****
__ADS_1