Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
PERPISAHAN SEMENTARA #1


__ADS_3

Ara gak bisa membohongi hatinya kalau gelisah karena kepergian Ken. Cincin indah yang diberikan Ken gak bisa juga membuatnya tenang.


"Lebih baik, ikut aku ke kantor yuk, Ra. Siapa tahu disana ada yang bisa kamu kerjakan!" ajak Laras yang melihat Ara jadi suka bengong.


"Apa boleh, Ras? Kerja apapun juga boleh. Aku benar-benar suntuk. Kampus juga sedang libur jadi aku gak bisa kuliah dulu!" sahut Ara antusias.


"Iya, Ra. Kampus sedang persiapan sidang. Sebenarnya aku juga gelisah tapi kalau dirumah malah tambah resah!" ungkap Laras yang juga gak bisa konsen. Soal Andre mau gak mau mempengaruhi suasana hatinya.


"Lalu kapan kamu belajarnya, Ras?"


"Bisa dimana aja, Ras. Aku udah terbiasa belajar di luar. Sekarang tinggal nunggu sidang aja, kok! Lagipula Kak Jeni selalu menanyakanmu. Padahal dulu julid sama kamu. Katanya kangen merias wajahmu!"


"Jeni?" Ara mencoba mengingat siapa dia. Matanya langsung berbinar ketika mengingatnya. "Iya, aku ingat. Dia pandai sekali merias wajahku. Padahal aku buluk bener!" Ara tergelak mengingat dirinya yang dulu.


"Gak sebuluk itu, Ra. Nyatanya dulu Ken tergila-gila sama kamu!" cetus Laras. Ara gak tahu aja kalau cantik tapi gak pede.


Ara terdiam. Dia teringat soal kepergian Ken. "Ken mau pergi, Ras. Katanya mau menyelesaikan pekerjaannya. Paling cepat satu bulan. Tapi, aku merasa bakalan lama!"


Laras menatap sahabatnya itu lekat. Mata Ara mulai berkaca-kaca. "Tenanglah, Ra. Hati Ken hanya milikmu. Nyatanya, meskipun waktu berlalu cukup lama Ken selalu kembali padamu. Ayolah, ikut aku ke kantor aja!"


Ara langsung beranjak dari tempat tidur. "Ayo! Aku sudah siap. Tapi aku pakai baju apa, ya? Aku melihat bajuku seperti bocil semuanya!" ucapnya ketika melihat baju baju di dalam lemari.


Laras tertawa melihat ekspresi Laras, "tenanglah, ada penata gaya internasional disini! Jemariku akan menari di atas tubuhmu," katanya dan berlagak seperti Jeni. Keduanya pun tertawa.


Ara semakin antusias karena akan ke tempat magangnya dulu. Berharap perpisahan dengan Ken gak membuatnya tenggelam dalam kesedihan.


Tak lama kemudian, Ara sudah berada di gedung stasiun tv Rajawali. Gedung itu semakin megah setelah Ara gak kesana lagi. Tiba-tiba, Ara menghentikan langkahnya.


"Ada apa, Ra?" tanya Laras yang merasa aneh dengan sikap Ara.


"Siapa gadis itu, Ras? Dia sangat cantik," ujar Ara ketika seorang gadis cantik dan elegan lewat di depannya. Langkahnya sangat anggun seperti model.

__ADS_1


Laras menoleh ke arah yang ditunjukan Ara. Wajahnya berubah ketika mengenali gadis itu.


"Dia itu Lola, Ra. Dia mantannya Ken! Sekarang dia jadi penyiar tetap. Mungkin kalau dulu kamu terus bekerja pasti sudah menjadi seperti Lola!"


Ara tertegun mengetahui siapa gadis cantik itu. Dulu memang penah bertemu dengannya beberapa kali tapi sekarang penampilannya sangat berubah.


"Gak mungkin lah, Ras. Dulu kan aku cuma host pengganti aja!" ucap Ara yang teringat suasana ketika tiba-tiba disuruh menjadi host sebuah acara.


"Tentu aja acara itu jadi booming gara-gara kamu, Ra. Pas dipegang Lola lagi jadi gak bagus dan setahun kemudian siarannya dihentikan. Lola sekarang ditempatnya jadi penyiar berita tapi tingkahnya udah jadi manager aja!" ungkap Laras yang sedikit kesal dengan sikap Lola. Dia pernah beberapa kali kena semprot Lola padahal kondisi di lapangan gak bisa diprediksi.


"Cup cup cup, anak manis. Yang penting karir kamu juga bagus kan, Ras. Meski jadi reporter lapangan tapi kamu selalu di depan di setiap berita!" hibur Ara.


Akhirnya Laras pun tersenyum lagi, "Terima kasih sahabatku yang inuuut. Kamu tunggu di lobby ya, Ra. Aku akan menemui produserku. Kalau sudah fix lokasi siaran, kita langsung kesana aja!"


Ara langsung mengangguk dan menunggu sampai Laras pergi. Gak lama, Ara pun mencari kursi yang menurutnya nyaman. Senyumnya mengembang ketika melihat kursi yang menghadap jendela. Di luarnya adalah taman sehingga bisa menikmati pemandangan sekaligus.


"Boleh aku duduk di sini?"


Tiba-tiba, seorang laki-laki muncul di depan Ara. Postur tubuhnya tinggi namun porposional. Ara gak begitu jelas melihat wajahnya karena terpantul sinar mentari.


"Iya, silakan!" sahut Ara kemudian kembali menoleh ke luar jendela.


"Apa yang kamu lihat di sana?" tanya laki-laki itu yang heran melihat Ara betah melihat ke luar jendela.


"Oh, iya. Banyak yang bisa dilihat!"


Laki-laki itu mengeryitkan keningnya. Dia pun mencoba melihat lebih cermat.


Ara tersenyum lagi ketika melihat apa yang dilakukan laki-laki itu.


"Lihatlah di ujung sana. Ada pohon mawar dan kupu-kupu yang hinggap di salah satu bunga. Di sana juga, ada laba-laba yang sedang membuat sarang!" tunjuk Ara.

__ADS_1


"Oh, iya aku juga melihatnya. Matamu jeli sekali bisa melihat mereka meski dari jauh!"


Ara hanya mengangguk dan tersenyum.


Laki-laki itu tertegun melihat Ara. Sepertinya, dia sedang memikirkan sesuatu.


"Maaf, Pak Boy. Wawancaranya sudah mau dimulai!" Seorang laki-laki muda muncul dan memanggil nama Boy.


Kini, Ara yang tertegun. Dia seperti mengenali nama itu.


"Oke, ayo kita ke sana! Maaf aku permisi dulu, Nona Ara!" ucap laki-laki bernama Boy itu.


Deg! Ternyata laki-laki itu mengetahui nama Ara. Tapi, Ara gak ingat siapa dia.


"Ada apa, Ra? Mengapa kamu bengong begitu?" tanya Laras yang melihat Ara termenung.


"Itu, Ras. Tadi orang itu duduk disini dan kami bicara sebentar. Ternyata dia mengetahui namaku. Tapi, aku malah gak ingat dia sama sekali!" jelas Ara yang masih melihat ke arah laki-laki itu.


"Oh, dia itu artis, Ra. Namanya Boy Sandi. Dia pernah kamu wawancarai dulu! Masa kamu gak ingat?"


"Boy Sandi?" Ara berusaha mengingatnya. Dia memang pernah menjadi host pengganti, "oh, iya. Aku ingat, Ras. Tapi, sekarang dia jauh lebih sopan dan penampilannya sangat dewasa!" Akhirnya, Ara bisa mengingat Boy.


"Iya, Ra. Dulu itu dia dicerca habis-habisan karena sering gonta-ganti cewek. Karirnya hampir aja hancur. Kemudian dia berubah hanya dalam sekejap. Berita gosip sih, katanya dia sudah patah hati dan gak pernah jalan sama cewek lagi! Sekarang karirnya malah cemerlang dan mendapat berbagai penghargaan. Sepertinya, dia akan diwawarcarai di salah satu program baru!" cerita Laras lumayan panjang.


"Iya, Ras. Aku ingat Boy yang dulu itu seorang pemain. Dia pernah juga merayuku. Tapi sekarang dia sangat berbeda!"


Laras manggut-manggut, "iya, sepertinya Boy sudah jauh dewasa dan lebih menghargai orang. Makanya filmnya selalu box office dan dia semakin terkenal! Oh, iya. Kebetulan aku mau ke kampus, Ra. Ada acara pemilihan duta kampus seperti dulu. Aku akan mewawancarai panitia dan pemenangnya! Kebetulan ada kamu. Sekalian aku wawancara, ya. Kamu kan mantan duta kampus. Apalagi kalau ada Ken, klop deeeh!"


Sementara itu, Boy gak berhenti tersenyum. Akhirnya setelah sekian lama gadis yang ditunggunya muncul juga. Dia adalah Ara. Gadis yang dulu pernah mewawancarainya di salah satu program tv.


Ketika gak bisa bertemu dengan Ara, Boy gak bisa tidur selama berhari-hari. Dia juga gak suka berpesta atau berkumpul dengan gadis-gadis lagi. Boy hanya ingin bertemu dengan Ara dan mengutarakan perasaannya.

__ADS_1


Jatuh cinta pada pandangan pertama. Itulah yang Boy rasakan kepada Ara. Namun, Ara tiba-tiba menghilang. Kemudian kini, Ara datang lagi. Doanya ternyata terkabulkan. Kali ini, Boy gak mau kehilangan Ara lagi!!!


*****


__ADS_2