
Akhirnya semua berjalan dengan baik. Ara bertemu dengan mamahnya Ken dan menjalankan pemeriksaan lagi.
"Semua hasilnya sangat baik. Aku sangat senang kamu sudah kembali lagi seperti dulu, Ra! Selamat Satrio, puterimu sudah sehat seperti sebelumnya!" ungkap dokter Ratna setelah memeriksa kesehatan mental Ara.
Kali ini, Ayah Ara yang menemani Ara. Walaupun Ara sedikit canggung karena masih ada sebagian ingatannya yang hilang.
"Terima kasih, dokter Ratna. Jadi, Apakah Ara bisa meneruskan kuliahnya lagi?" Satrio mewakili perasaan puterinya. Dia tahu Ara sangat ingin kuliah lagi.
"Iya, Bu dokter. Saya ingin kuliah lagi. Apakah bisa?" Ara gak sabaran juga.
Dokter Ratna hanya tersenyum dan menggenggam tangan Ara erat.
"Mulai saat ini, kamu boleh melakukan apapun yang kamu inginkan, Ara!"
Perkataan dokter Ratna sangat menenangkan Ara. Dia sudah menbayangkan bisa kuliah lagi ditempatnya yang dulu.
"Tapi, kamu harus menemui dokter Raffi dulu dan minta pendapatnya!" lanjut dokter Ratna.
"Baik, bu dokter. Hari ini juga saya akan menemui dokter Rafi!"
Senyuman Ara mengembang. Semuanya berjalan lancar. Tinggal satu pemeriksaan lagi. Ara berharap hasilnya juga bagus.
"Selamat siang, Pak dokter!" sapa Ara ketika masuk ke dalam ruangan dokter Raffi.
"Selamat siang, Araa ...."
Dokter Raffi tertegun begitu melihat Ara. Penampilannya sangat berbeda. Dia bukan gadis kecil yang selalu manja padanya. Ara sudah kembali menjadi gadis dewasa berparas cantik.
"Ada apa, Pak dokter?" Ara kebingungan melihat sikap dokter Raffi.
__ADS_1
Dokter Raffi berusaha untuk sadar, "aah, gak. Aku cuma terpesona dengan kecantikanmu! Bagaimana keadaanmu? Apa kabar Big Buddy juga?" pujinya.
Ara tersenyum. Dia tahu kalau dokter Raffi hanya menggodanya. Namun ada sesuatu yang membuat Ara ingin tahu.
"Big Buddy? Siapa dia, Pak dokter?"
Sepertinya, ingatan Ara yang menjadi gadis kecil sudah hilang. Dokter Raffi kerasakan kehilangan.
"Hanya sebuah boneka yang aku belikan di pasar malam. Sudahlah! Jangan terlalu dipikirkan. Sekarang aku akan melihat hasil cek up kamu. Aku harap semuanya bagus!" Dokter Raffi gak mau tenggelam terlalu dalam. Dia segera memeriksa hasil cek up Ara.
"Iya, Pak dokter. Saya juga berharap hasilnya bagus karena mau meneruskan kuliah lagi. Kata Ken, saya bisa meneruskan kuliah seperti dulu meski agak terlambat!" jelas Ara.
Dokter Raffi hanya mengangguk. Padahal hatinya sangat sakit. Dia malah menginginkan Ara seperti biasa. Selalu menganggapnya nomor satu.
"Jangan buru-buru, Ra. Kamu sudah mengalami banyak hal dan melaluinya dalam waktu yang tidak sebentar. Tubuhmu perlu penyesuaian dan jangan terlalu dipaksakan!" ungkap dokter Raffi yang masih mengkhawatirkan Ara.
"Semua akan baik-baik aja, kok. Kan ada Pak dokter Raffi yang selalu mendampingi saya!" sahut Ara yang sangat yakin bisa melangkah dengan pasti.
Meskipun hubungan dokter Raffi dan dokter Irena sudah membaik. Namun hati dan perasaan Dokter Raffi kepada Ara gak akan berubah dalam waktu dekat.
*****
Hari ini, Laras harus melakukan liputan di bandara. Meskipun sering melakukan pekerjaan di luar kantor gak membuat Laras berkecil hati. Dengan begitu, dia bisa melihat dan bertemu dengan banyak orang.
"Baiklah. Aku akan makan sore dulu sebelum ke lokasi berikutnya. Apa kamu mau ikut, Ras?" tanya Bang Rusdi, director penyiaran lapangan. Dia sangat baik dan perhatian dengan Laras. Usianya memang lebih tua tapi penampilannya seperti anak muda dan bergaya.
"Saya belum lapar, bang. Kalian aja yang makan duluan. Saya akan langsung ke lokasi selanjutnya!" jawab Laras yang masih canggung berkumpul dengan pegawai laki-laki. Hanya dia aja penyiar perempuan yang mau turun ke lapangan.
"Kalau aku sih udah lapar berat, nih! Apalagi aroma makanan di lokasi membuat cacing diperutku berdemo!" ujar Bang Harry sambil memegangi perutnya. Dia memang seorang kameramen yang bekerja lebih keras sehingga gampang lapar.
__ADS_1
"Aakh! Kamu, Har. Perutmu itu sudah seperti kantong ajaib. Baru diisi udah kosong lagi!" celetuk Bang Rusdi. Semua kru langsung terbahak.
Laras hanya memerhatikan mereka sampai menghilang. Ketiganya seperti bocah kecil yang baru saja keluar main. Di saat seperti itu, Laras jadi merindukan Andre. Andai saja Andre disini, Laras gaj akan merasa kesepian.
Tiba-tiba, banyak orang lewat karena baru turun dari pesawat. Laras memilih kepinggir tembok agar gak tertabrak.
Selintas Laras melihat seseorang yang mirip dengan orang yang dikenalnya. Seorang laki-laki yang kini sedang dia pikirkan.
"Kak Andre ...," ucap Laras setelah menyadari kalau laki-laki itu memang Andre.
Laras menatap laki-laki itu lekat. Meskipun sudah tiga tahun gak bertemu, dia masih ingat jelas wajahnya. Laras hampir saja melompat kegirangan dan harus segera menemui Andre secepatnya. Pantas aja, Aldy gak mau ngomong. Mungkin karena Andre mau membuat kejutan.
Namun, langkah Laras terhenti ketika seorang gadis bule berfaras cantik mendekati Andre. Dia langsung menggelayut di lengan Andre tanpa sungkan. Bahkan gadis itu sampai mencium pipi Andre!
Deg! Jantung Laras seperti berhenti. Siapakah gadis itu? Apa dia ....
Laras segera membalikan badan ketika Andre melihat ke arahnya. Jangan sampai Andre tahu kalau Laras ada disana.
Mata Laras mulai basah. Penantian selama tiga tahun hanya sia-sia. Andre pasti kepincut salah satu gadis disana. Namun, mengapa Andre gak mengatakannya bila memang sudah mempunyai kekasih. Laras lebih bisa menerima daripada Andre berbohong.
Tetap aja, Laras gak bisa menyembunyikan kesedihannya. Rusdi melihat ada yang salah dengan Laras.
"Ada apa, Ras? Wajah kamu pucat. Apa kamu sakit? Makanya tadi kamu mending ikut makan aja sama kami!" tanya Rusdi ketika sudah berada di dalam mobil.
Laras menggeleng, "gak apa-apa kok, bang. Cuma sedikit pusing aja!" jawab Laras yang gak mau semua khawatir karenanya.
"Okelah kalau begitu. Kita lanjut ke lokasi selanjutnya!" seru Bang Rusdi seraya menyalakan mobilnya.
Laras hanya membuang pandangannya ke samping dan melihat wajahnya yang terpantul di kaca mobil. Bayangan Andre yang sangat senang ketika bersama gadis bule kembali terlintas. Saat itu hampir aja Andre melihat Laras. Mengapa Laras yang harus menghindar? Seharusnya Laras menghampiri Andre dan menanyakan langsung siapa gadis bule itu. Namun, tetap aja Laras akan memilih pergi!
__ADS_1
*****