
Laras sangat terkejut begitu mendengar perkataan Andre kalau dia cemburu. Apa haknya bisa melakukan itu? Pacar bukan, teman juga bukan!
"Maaf, Kak. Aku bukan cemburu tapi hanya memberikan waktu agar kakak bisa berdua dengan Ara. Aku tahu kalau kakak menyukai Ara. Iya, kan?"
Akhirnya Laras berterus terang. Selama ini dia memang tidak ingin merusak suasana.
"Maksudmu? Aku menyukai Ara sebagai perempuan?"
Andre tertawa kecil. Baginya Ara adalah gadis kecil teman mainnya dulu. Walaupun seiring waktu perasaan lain juga tumbuh.
"Aku adalah temannya Aldy, kakaknya Ara. Dari kecil kami sering bermain bersama. Jadi, jangan sangka aku menyukainya sebagai perempuan. Bagiku dia masih anak ingusan!"
Andre terpaksa sedikit berbohong. Dia memang sempat mengharapkan lebih. Namun, hati Ara sudah ada Ken.
"Jadi, kakak gak berharap untuk jadi pacar Ara?"
Andre menatap Laras lekat. Laras adalah gadis yang sangat lugu namun baik hati.
"Aku malah berharap bisa menjadi pacarmu!"
Laras melotot.
"Apa? Jadi pacarku? Jangan bercanda, kak. Maaf, aku harus segera ke perpus!"
Laras langsung melarikan diri dengan wajah memerah. Baru kali ini, Laras ditembak cowok. Rasanya seperti berada di atas kompor, puaanaase Pool!!!
Andre tertawa kecil melihat Laras berlari tanpa konsentrasi. Beberapa kali kakinya tersandung dan hampir jatuh. Entah kenapa, Andre merasakan hatinya berbunga-bunga.
Dari balik tembok, ternyata Sisi dan Dea mendengarkan pembicaraan Andre dan Laras. Mereka masih saja menganggap Laras adalah Upik Abu.
"Gue gak nyangka Upik Abu bisa mendekati Asdos Andre. Malah dia sudah kembali memakai nama lamanya. Gue gak terima! Bagi gue, dia tetaplah Upik Abu," ujar Sisi geram.
"Iya, bener. Selamanya dia tetaplah Upik Abu! Ayo kita laporin ke Janet aja." Dea juga gak bisa menahan kesalnya.
"Tapi, sekarang Janet sedikit berbeda. Dia jarang ngundang kita ke rumahnya. Gue jadi jarang makan enak nih!" Sisi mulai merasakan perubahan sikap janet.
"Iya! Di kampus juga jadi pendiam. Abis kuliah langsung menghilang!"
__ADS_1
"Mungkin karena sibuk menjadi duta kampus!"
"Gak juga! Gue denger, posisinya digantikan sama Ara. Dia sekarang lebih populer gara-gara magang di stasiun televisi!"
"Aah, masa?"
"Beneran, kok. Lihat aja poling duta kampus, nama Ara paling atas!"
Sisi dan Dea sibuk membicarakan Janet. Sementara Janet sudah gak peduli dengan mereka. Sekarang, hatinya sedang berbunga-bunga karena kehadiran pelayan resto punya papinya.
~~Pokoknya antarkan pesananku ke kampus!!!
Teriak Janet di ujung telepon. Telinga Aldy hampir pecah mendengarnya.
Apaan lagi sih ulah nenek sihir itu? Aldy merasa kepalanya kliyengan padahal hanya sekedar mendengar namanya saja.
"Antarkan saja, Al. Kampusnya kan sama dengan kampus kamu!" jelas atasan Aldy.
"Apa? Kampus saya? Hadeh! Saya aja udah lama gak masuk kuliah, pak. Tolonglah, yang lain aja," rengek Aldy.
"Dia kan mintanya diantarkan sama kamu. Jangan-jangan, dia suka sama kamu, Al!"
Atasan Aldy hanya tertawa. Tetap saja, Aldy harus melaksanakan tugasnya. Masalahnya, Janet bukan memesan dua paket seperti biasa. Ternyata Janet memesan seratus paket!
Tak berapa lama, Aldy sudah sampai di depan kampus. Dia memakai masker agar gak ada yang mengenalinya.
~~Saya sudah di depan kampus, non ...
Aldy segera menghubungi Janet dari hapenya.
~~ Ya sudah bawa aja masuk ke fakultas komunikasi ...
Apa? Fakuktas komunitasi? Itu kan tempat Ara kuliah! Aakh! Aldy benar-benar kesal dengan nenek sihir itu.
Di dalam ruang belajar, Janet berniat mengumumkan sesuatu. Bahkan Sisi dan Dea gak tahu sama sekali.
"Heeei, semuanya! Hari ini aku mau traktir makan. Kalian jangan pulang dulu, ya!"
__ADS_1
Janet langsung berdiri di depan. Sisi dan Dea cuma saling pandang.
"Apaan sih Janet? Kok gak cerita sama kita?"
"Iya! Gue juga gak tau apa-apa."
Ara dan Laras juga heran dengan sikap Janet. Gak biasanya dia baik dengan semua orang.
"Gimana, Ra? Kita kan mau ke tempat magang!"
Laras mengingatkan. Ara terdiam sesaat dan melirik jam tangannya.
"Hhmm, masih ada waktu setengah jam. Kan Ken mau ngantar kita!"
"Gue gak enak, Ra. Gue naik bus aja, ya."
"Aah, masa? Bukannya kamu mau bareng sama Kak Andre?"
Ara tertawa kecil. Dia tahu kalau Andre dan Laras sedang pdkt.
"Gak kok, Ra. Waktu itu kebetulan aja!" sangkal Laras.
"Kak Andre baik kok, Ras. Dia itu typenya ngemong. Kamu beruntung dapetin dia. Tapi, gue denger Kak Andre berhasil dapetin beasiswa ke UK. Berarti kalian harus berpisah!"
Laras terpaku. Dirinya dan Andre baru saja bertemu namun harus berpisah dalam waktu singkat. Bahkan Laras belum sempat mengutarakan perasaannya.
Beberapa saat kemudian, pesanan Janet pun tiba. Aldy yang memakai masker membawakan pesanan itu dengan susah payah.
"Ini pesanan, non," ujar Aldy dengan napas terengah-engah.
"Kenapa lama bener, sih? Kamu bisa aku laporin kalau kerjanya gak bener!"
Aldy melotot. Dasar nenek sihir! Bukannya berterima kasih malah maki-maki. Aldy gak bisa menahan amarahnya setelah bekerja keras membawakan semua pesanan Janet. Tanpa sadar, Aldy membuka maskernya.
Semua gadis-gadis sangat terkejut setelah melihat ketampanan Aldy. Namun Aralah yang paling shock.
"Kak Aldy?!"
__ADS_1
Aldy baru sadar kalau ada Ara disitu. Matanya tiba-tiba gelap!
*****