Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
KEBENARAN PASTI TERUNGKAP #1


__ADS_3

Ken tak bisa berkata-kata ketika mendengar pertanyaan wartawan soal keterlibatan papinya dalam kematian orangtua Ara. Tubuhnya gemetar dan wajahnya menjadi pucat.


Januar yang baru saja tiba juga tak kalah terkejut. Bagaimana wartawan itu mengetahui soal kasus tanah dan kematian orangtua Ara?


Ken melirik papinya. Dia juga menginginkan kebenarannya. Namun, papinya hanya menggeleng.


Ara yang teringat cerita kakaknya tak tega melihat Ken menjadi seperti mati kutu. Tak biasanya Ken seperti itu.


"Maaf, kepolisian akan mengungkap kematian orangtua saya. Jadi saya harap, silakan hubungi pihak kepolisian saja!" ucap Ara lembut tapi bermakna.


"Nona Ara kelihatan sangat tenang. Apakah nona sudah tahu kejadian sebenarnya? Mengapa masih mau berhubungan dengan saudara Ken padahal orangtuanya terlibat dalam kematian orangtua nona?"


Hadeh! Masih ada aja wartawan yang bandel! Ara mulai merasa pusing.


"Sekali lagi, saya minta maaf. Kebenaran pasti akan terungkap. Jika terjadi kesalahan pasti pihak kepolisian akan tahu! Soal hubungan saya dengan Ken. Itu adalah hal yang privasi!"


Kali ini, Ara bicara lebih tegas. Dia juga tidak tahu harus bagaimana. Seharusnya yang menghadapi wartawan itu adalah kakaknya.


Para wartawan pun menjadi riuh.


"Lihatlah! Pak Januar sudah datang. Ayo kita tanyai dia!"


"Ayo, ayo!"


Tiba-tiba para wartawan berdiri dan langsung mendekati Januar. Sementara Januar menjadi sangat gugup menghadapi mereka.


Acara itu pun menjadi berantakan. Ken masih kebingungan apalagi melihat papinya dikerubungi wartawan.


Sementara Ara berusaha untuk tetap tenang. Dari kejauhan dia melihat Janet yang menatapnya tajam. Di lain tempat ada juga Andre dan kakaknya, Aldy.


"Sebaiknya kita keluar dari sini aja, Ken. Gue sedikit sesak napas, nih!" ajak Ara.


Ken mengangguk dan segera berdiri. Tak satu pun yang melarang kepergian mereka. Semua sibuk mengurus para wartawan yang mengelilingi Pak Januar.

__ADS_1


Aldy sudah puas dengan kejadian itu. Setidaknya masalah kematian orangtuanya menjadi topik meski pihak kepolisian tidak bisa membantunya.


"Kak Aldy! Apa kakak tahu soal wartawan itu?" tebak Ara yang curiga dengan kakaknya.


"Aah! Aku gak tahu apa-apa, Ra. Sudahlah! Yang penting setelah ini kebenaran akan segera terungkap!"


"Tapi, kasihan Ken. Dia tidak tahu apa-apa!"


"Dimatamu cuman ada Ken melulu sih, Ra!" protes Aldy.


"Tau aah! Ara mau pergi aja dari sini!" ujar Ara yang langsung nyelonong pergi.


"Sepertinya Ara benar-benar bucin sama Ken, Al!" celetuk Andre. Dia tidak sempat menyapa Ara yang sudah keburu pergi.


"Iya, tuh! Biar gue briefing di rumah aja!" Aldy sadar Ara sangat menyukai Ken.


"Jadi ini yang kalian bicarakan tadi!"


"Soal apa, non Janet?" tanya Aldy berusaha tenang.


"Apa yang kalian tahu soal kasus tanah kampus? Juga kematian orangtua mu? Mengapa menghubungkannya dengan papiku?" tanya Janet lagi dengan wajah serius. Dia juga ingin tahu kebenarannya.


"Itu kan para wartawan yang membicarakannya, Net. Bukan kami!" sanggah Andre.


Janet mulai panas. "Kalian jangan berbohong. Aku juga gak suka kalau papiku terlibat dengan semua itu!"


"Sebaiknya tanyakan saja kepada papi nona!" jawab Aldy singkat.


Janet terdiam. Yang dikatakan Aldy benar. Kebenaran itu ada pada papinya.


"Apakah karena masalah ini, kamu menjauhiku?" tanya Janet lagi. Kali ini, dia langsung menanyakan sikap Aldy.


Aldy tertegun. Dia tak tahu harus menjawab apa.

__ADS_1


"Janeeet! Ayo kita pergi. Disini sudah mulai kacau!" teriak Sisi yang datang bersama gea.


"Iya, Net. Gue denger ada wartawan yang menyebut nama lo! Mereka tahu kalau lo itu anaknya Pak Rony. Ayo, kita pergi. Nanti mereka pasti akan mencari Lo!" terang Gea.


Janet tak bisa mendengar jawaban Aldy. Gea dan Sisi sudah menarik tangannya meninggalkan tempat itu.


"Gimana soal Janet, Al?" Andre penasaran dengan sikap Aldy kepada Janet.


"Biar saja lah! Nanti dia juga tahu sendiri mengapa gue menjauhinya!" jawab Aldy datar.


"Gue tahu lo juga suka sama Janet, Al. Jangan bohong, dah!" cecar Andre.


Aldy melotot, "gila lo, Dre. Ngapain gue suka sama penyihir itu!"


Andre tertawa kecil. Dia sangat tahu sifat sahabatnya itu. Diam-diam, Aldy menyukai Janet juga.


"Tenanglah, Al. Cinta pasti akan tumbuh pada waktu yang tepat!" sindir Andre.


Aldy langsung memukul bahu Andre. Dia pun berteriak kesakitan meski tidak marah dengan perbuatan Aldy.


Meskipun begitu yang dikatakan Andre benar. Aldy merasakan sesuatu kepada Janet. Tapi dia berusaha menguburnya dalam-dalam.


Sementara itu, Ken mencari Ara yang hilang dari pandangannya. Dia merasa seperti layangan putus yang tak ada pegangan.


"Ken!" panggil Ara yang baru saja muncul.


"Ara! Aku mencarimu ke mana-mana!"


"Iya, Ken. Aku mengembalikan perlengkapan yang tadi aku pakai. Ayo, kita pergi dari sini, Ken. Gue laper, nih!" jelas Ara sambil memegang perutnya.


Ken mengiyakan kemauan Ara. Dia juga sudah tak mau berada di tempat itu. Hanya saja, sikap Ara terlihat biasa saja. Padahal para wartawan itu sudah mengatakan perihal kematian orangtuanya. Apakah Ara sudah tahu kejadian yang sebenarnya???


*****

__ADS_1


__ADS_2