
Ara masih gemetaran meski Ken sudah menggenggam tangannya erat. Jelas sekali tadi Ara sempat melihat Janet diantara kerumunan para mahasiswa.
"Tenanglah, Ra. Aku sudah mencari Janet tapi dia sudah menghilang!" ujar Ken yang juga ikut khawatir. Jika memang benar Janet, Ken akan meminta pertanggungjawabannya atas kecelakaan dulu.
"Kamu melihat Janet juga kan, Ken? Mengapa aku jadi kayak gini, ya? Apa benar Janet yang sudah menabrakku? Karena aku seperti melihatnya di dalam mobil itu!" ungkap Ara. Dia belum benar-benar ingat soal kecelakaannya.
"Iya, Ra. Semuanya akan jelas kalau ada Janet. Tapi, jangan terlalu dipikirkan. Bisa aja, wajahnya hanya mirip dengan Janet aja!" Ken berusaha agar Ara kembali tenang. Walaupun dia tahu kalau gadis tadi adalah Janet.
"Ada apa, Ra? Kenapa kamu jadi begini? Maafkan aku ya, Ra. Aku mengungkit soal kecelakaan kamu dulu!" sungut Laras yang sangat bersalah. Ternyata maksudnya malah membuat Ara down.
"Tolong jaga Ara ya, Ras. Aku mau mencari air minum sebentar! Kamu sama Laras dulu ya, Ra," ucap Ken yang langsung pergi.
Ara hanya bisa mengangguk tanpa sepatah katapun. Dia benar-benar shock dan lemas.
"Tadi Aku melihat Janet, Ras!" Akhirnya Ara sedikit tenang setelah bisa mengatur napasnya.
Laras terkejut mendengar pengakuan Ara, "Janet? Dia disini, Ra?"
"Iya, Ras. Tadi ketika wawancara. Aku jelas melihatnya. Apa bisa kamu ceritakan soal kecelakaan itu lebih jelas. Apa benar Janet yang sudah menabrakku?" tanya Ara ingin tahu kepastiannya.
Laras sedikit ragu. Tapi Ara harus tahu yang sebenarnya.
"Iya, Ra. Janetlah yang sudah menabrakmu. Sebenarnya ada bukti Cctv, tapi keluargamu menarik laporan. Mereka fokus dengan kesehatanmu, Ra. Gak lama kemudian, Papanya ditangkap polisi karena kasus penyuapan dan penggelapan pajak bahkan sampai sekarang masih dipenjara, Janet juga dikabarkan depresi. Perusahaan papanya bangkrut dan sejak itu gak ada kabar lagi!" Laras terpaksa menceritakan soal Janet semuanya.
Ara tertegun. Ada sesuatu yang dia gak ngerti, "lalu, mengapa Janet membenciku sampai menabrakku?" tanyanya lirih.
__ADS_1
Kali ini Laras yang terdiam. Haruskan dia katakan soalJanet yang sangat menyukai Ken?
"Sudahlah, Ra. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Kamu gak perlu takut karena masih banyak yang menyayangimu!" jelas Laras yang gak sanggup berkata jujur.
Ara mengangguk. Hatinya sudah lebih tenang setelah mendengarkan perkataan Laras. Tetap aja, Ara masih memikirkan Janet. Banyak pertanyaan di dalam kepalanya.
*****
Di sudut gedung yang berbeda, seorang gadis berjalan tergesa-gesa. Wajah dan pakaiannya sedikit lusuh. Matanya redup seakan tanpa semangat hidup.
Gadis itu tertunduk dan menahan napas ketika beberapa mahasiswa berjalan di depannya. Dia baru bisa bernapas lega setelah mereka sudah menjauh.
Gadis itu sangat menyesal mengapa datang ke sana. Mengira kalau gak ada yang mengenalinya. Ternyata ada juga beberapa yang melihatnya. Sebenarnya ada dua orang yang ingin dia temui. Berharap mereka bisa memberikan bantuan karena dia sudah benar-benar terpuruk.
Setelah melewati koridor, gadis itu sampai juga di ruang perpustakaan. Dia akan bersembunyi sampai suasana sepi dan bisa keluar kampus tanpa ada yang tahu.
Ternyata kursi tempatnya dahulu masih ada. Gadis itu pun segera duduk di sana dan meletakan kepalanya di atas meja. Dia mencoba memejamkan mata dan membayangkan keadaannya dahulu. Sangat bertolak belakang dengan keadaannya sekarang.
Tiba-tiba, gadis itu merasa ada seseorang duduk di hadapannya. Gadis itu menunggu sesaat namun orang itu gak pergi juga. Dia pun membuka matanya sedikit dan mengintip.
Seorang laki-laki tampan menatap tajam ke arah gadis itu. Tiba-tiba, gadis itu terkejut. Dia mengenali siapa laki-laki tampan itu.
"Ke-ken?!"
Ya! Dia adalah Ken. Cowok yang disukainya sejak kecil.
__ADS_1
"Janet!" Ken memang mengetahui tempat itu. Dulu dia sering melihat Janet disana. Bukan untuk membaca buku tetapi untuk tidur.
"Da-darimana kamu tahu aku disini?" tanya Janet yang gak menyangka Ken akan menemukannya.
"Aku tahu kebiasaanmu dulu, Net. Apa yang kamu lakukan disini? Kamu sudah membuat Ara takut!" ungkap Ken dengan suara berat. Kemunculan Janet sudah membuat trauma Ara kembali datang.
"A-aku mencari Sisi sama Gea, Ken. Aku gak nyangka ada kamu dan Ara disini!" jawab Janet yang masih gemetar.
"Kau tahu apa yang terjadi sama Ara, kan? Seharusnya kamu menemui Ara dan meminta maaf. Kau sudah menabraknya dan hampir merenggut nyawa Ara! Apa kamu gak merasa bersalah?!"
Ken hampir gak bisa mengendalikan dirinya. Padahal Ken sempat bertemu Janet sebelum dia kabur keluar negeri. Namun, sampai sekarang Janet belum meminta maaf kepada Ara juga.
"A-aku takut, Ken!" jawab Janet lirih. Matanya mulai basah.
"Keluarga Ara sangat baik karena sudah menarik laporannya di kantor polisi. Mereka malah kasihan sama kamu. Tapi kamu malah seperti ini. Temui Ara sekarang juga!"
Janet semakin gemetaran, matanya semakin basah dan airmatanya pun mengalir. Tiba-tiba, Janet malah tertawa pelan dan semakin lama semakin kencang.
Ada yang aneh dengan Janet. Ken hampir lupa kalau Janet juga pernah depresi. Apakah sekarang Janet masih seperti itu?
"Ya! Aku memang jahat. Kamu mau apa?! Memaksaku untuk menemui Ara, kekasihmu yang cupu itu? Buat apa kasihan padaku? Silakan polisi menangkapku. Aku gak peduli!" ungkap Janet di tengah tawanya.
Ken beranjak dari tempat duduknya. Janet sudah gak bisa diobati. Bukan hanya kepalanya yang sakit, hatinya juga terlanjur membusuk.
"Maafkan aku, Net. Aku sudah salah sangka padamu. Hiduplah dalam duniamu yang gak nyata itu sesukamu!"
__ADS_1
Ken melangkahkan kakinya meninggalkan Janet yang masih menangis. Tidak dulu ataupun sekarang. Ken gak akan memberikan bahunya untuk Janet.
*****