Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
JANGAN LUPAKAN AKU #3


__ADS_3

Ara merasa otaknya benar-benar kosong. Tak ada kenangan tersisa sedikit pun. Beruntung, Ara masih ingat kakaknya. Membuatnya tidak terlalu kesepian.


"Ra, ini gue upik abu. Elo masih ingat gue kan, Ra?"


Laras datang dan membantu Ara mengingat. Makanya, dia memakai nama panggilan yang lama.


Ara memerhatikan Laras dengan tatapan kosong, "siapa kamu?" tanyanya.


Laras merasa hatinya semakin trenyuh, apalagi Ara tidak ingat padanya. Tanpa terasa airmatanya menetes.


Andre yang juga ada di sana tak mampu berkata-kata. Dia juga tidak akan memaksa Ara untuk mengingatnya. Hanya bisa menepuk pundak Laras untuk menguatkan hatinya.


"Maafkan gue, Ra. Gue banyak salah sama elo. Meskipun elo lupa sama gue, gue tetap akan selalu ada di samping lo, Ra!" ucap Laras lirih sambil mengusap air mata yang jatuh di pipinya.


Ara menatap Laras lekat. Hatinya merasakan kesedihan juga. Dia melihat bayangan seorang gadis cupu yang selalu menjadi pelayan gadis kaya. Wajah gadis itu mirip dengan gadis yang ada di depannya.


"Ka-kamu Laras, kan?"


Laras langsung membuka mata. Dia mendengar Ara memanggil namanya.


"Araaa! Elo ingat sama gue?" katanya yang langsung memeluk Ara.


Andre juga sangat senang melihat Ara masih ingat dengan Laras.


Ara pun ikut senang. Ingatannya perlahan muncul juga, "i-iyalah gue ingat, Ras. Cuma banyak kenangan yang masih belum gue ingat!"


"Pokoknya, gue akan datang kesini setiap hari, Ra. Gue pengen ingatan lo kembali semuanya!" tekad Laras.


"Kalau aku, apa kamu ingat, Ra?" tanya Andre yang penasaran juga.


Ara menatap laki-laki tampan di hadapannya. Tidak ada kenangan muncul. Tapi, Ara ingat siapa dia.


"Ka-Ka Andre?"


Andre tersenyum lebar. Dia sangat senang, Ara juga mengingatnya.


"Iya, Ra. Aku Andre. Terima kasih sudah mengingatku!" ungkap Andre.


Laras juga sangat senang. Sekarang dia sudah tidak cemburu dengan kedekatan Andre dan Ara.


Ara masih merasa tidak enak, "tapi maaf, aku hanya ingat nama kalian. Otakku masih kosong dan tak ada kenangan apapun!"


"Tidak apa-apa, Ra. Gue senang elo masih mengingat kami. Tapi ..., kenapa elo gak ingat sama Ken, Ra?"



Laras ingat pertemuannya dengan Ken di depan rumah sakit. Dia melihat Ken terduduk lemas dengan wajah sedih.


__ADS_1


"Ada apa, Ken? Kenapa sedih begitu. Seharusnya kamu senang kan Ara sudah sadar," tanyanya heran.



Ken mendongak, matanya sedikit basah. Laras baru pertama kali melihat Ken sesedih itu.



"Ara gak bisa mengingatku, Ras," jawab Ken lirih.



Laras sangat terkejut mendengarnya, "masa sih, Ken? Kalian kan selalu bersama. Mengapa Ara bisa tidak ingat kamu?"



Ken menggeleng pelan, "entahlah, Ras. Aku juga tidak tahu. Padahal ada sesuatu yang ingin aku pastikan," jelas Ken putus asa.



"Pastikan apa, Ken?" Laras jadi penasaran.



Sepertinya Ken harus menceritakannya kepada Laras. Hanya dia yang mau mendengarkannya.




Laras tercengang mendengar cerita Ken. Apalagi Ara sempat menyebut nama Janet.



"Astaga! Jika benar Janet yang sudah menabrak Ara, aku gak akan pernah memaafkannya!" ucap Laras geram sambil mengepalkan tangannya. Janet sudah tidak bisa dimaafkan lagi.



"Aku sudah menemui Janet, tapi dia tidak mengaku juga. Bahkan sekarang sudah pergi ke luar negeri!" lanjut Ken.



"Apa? Pergi ke luar negeri? Berarti Janet memang sengaja kabur, Ken. Nanti aku akan memastikan sama Ara juga. Kejadian ini gak bisa dibiarkan. Apa yang dilakukan Janet sudah kelewat batas manusia!"



Ara masih terdiam. Dia berusaha mengingat laki-laki bernama Ken. Namun tetap saja tidak ada di dalam kepalanya.


"Ken? Sepertinya dia pernah kesini, bahkan dia memberikan bunga-bunga itu.Tapi ... aku gak ingat siapa dia!"

__ADS_1


Ternyata yang dikatakan Ken benar. Ara gak ingat siapa Ken! Laras tidak bisa berbuat apa-apa. Dia yakin Ara pasti akan mengingatnya. Apalagi cintanya sama Ken seperti kancing dan lobang baju. Sudah klop!


"Ya, sudah. Gue yakin lo pasti ingat sama dia, Ra. Kalian kan soulmate!"


Andre tak banyak bicara. Dia hanya ikut mendampingi Ken. Tadi sempat mengira kalau laras pasti akan menceritakan siapa Ken. Ternyata Laras memilih tidak memberitahukannya. Andre semakin menyukai Laras aja deh!


"Tadi aku kira kamu akan cerita soal Ken, Ras!" ungkap Andre setelah keluar dari kamar Ara.


Laras hanya tersenyum tipis. Sebenarnya hatinya sangat berat namun dia juga tidak ingin menambah beban Ara.


"Nanti juga Ara akan ingat lagi sama Ken. Itu akan lebih istimewa dari pada aku yang cerita. Iya, kan!" jawabnya.


Andre mengangguk dan tersenyum, "seperti kamu juga sangat istimewa di hatiku, Ras!"


Laras menatap Andre, "iiih, gombal!!!"


Andre hanya tertawa kecil ketika Laras malah mempercepat jalannya. Dia pun tidak mau ketinggalan dan segera mengejar Laras.


Laras sangat terkejut ketika Andre sudah ada disampingnya dan langsung menggenggam tangannya. Kali ini, Laras tidak mengatakan apapun. Hatinya sudah mantap untuk mencintai Andre.


*****


Laki-laki berwajah cacat kembali muncul di rumah sakit. Dia ingin tahu kabar gadis yang sudah diberinya darah.


"Bapak datang lagi! Banyak yang mencari bapak dari keluarga pasien Ara. Mereka sangat berterima kasih karena pasien Ara sudah melewati masa kritis berkat darah yang bapak berikan!" jelas perawat bagian laboratorium.


"Syukurlah gadis muda itu sudah membaik. Terima kasih, sus!" ucap laki-laki berwajah cacat itu singkat. Dia pun segera melangkah pergi.


Aldy masih penasaran siapa yang sudah mendonorkan darah untuk adiknya. Dia pun kembali mendatangi bagian lab rumah sakit.


Tanpa sadar, Aldy dan laki-laki berwajah cacat itu berpapasan. Namun, mereka tidak saling melihat. Ketika sampai di persimpangan koridor, laki-laki berwajah cacat itu berhenti dan menoleh ke belakang.


Laki-laki berwajah cacat itu menarik napas panjang. Sepertinya, dia mengenal Aldy. Namun, Aldy tidak mengenalnya apalagi dengan wajah cacat seperti itu. Siapa sebenarnya laki-laki berwajah cacat itu?


"Kamu terlambat! Orang itu barusan dari sini. Seharusnya kalian bertemu!" ungkap petugas bagian lab ketika Aldy menanyakan soal pendonor darah adiknya.


"Barusan?" Aldy berusaha mengingat siapa saja yang tadi ada di hadapannya, "tadi cuma ada laki-laki yang memakai topi dan masker saja, sus!" katanya.


"Nah itu dia orangnya, mas. Wajahnya cacat makanya dia pake masker!" sergap petugas lab.


"Jadi dia orangnya. Ya sudah, makasih ya, sus!"


Tak menunggu lama, Aldy segera beranjak pergi. Berharap masih bisa menemukan orang yang sudah mendonorkan darah untuk Ara.


Aldy terus saja berlari melewati koridor sambil mencari sosok yang dimaksud. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri tanpa memedulikan tatapan aneh orang lain.


Namun, usahanya sia-sia. Akhirnya Aldy sampai ke luar rumahsakit tanpa menemukan sosok itu. Dia pun menghentikan langkahnya dengan napas tersengal-sengal. Sosok itu tidak bisa ditemukan lagi.


*****

__ADS_1


__ADS_2