Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
CINTA SANG IDOLA #2


__ADS_3

Aldy dan Andre sedikit gugup karena tercyduk Janet. Berharap rencana mereka gak akan gagal.


"I-iya, biasalah obrolan cogan. Kadang ada masalah yang berat juga! Maaf ya, Non Janet! Aku harus pergi," ucap Aldy sambil memberi kode kepada Andre untuk ikut bersamanya.


"Kami pergi dulu ya, Net!" ucap Andre juga.


Janet tak mengatakan apapun. Entah apa yang sedang mereka rencanakan. Padahal Janet ingin sekali berbicara dengan Aldy soal hubungan mereka. Tapi, Aldy selalu menjauhinya. Apakah ada hubungannya dengan papinya?


"Hampir aja! Aah kenapa tadi Janet pake dateng segala sih?" gerutu Aldy.


"Memangnya hubungan kalian itu gimana sih, Al? Kayaknya Janet cinta mati sama elo!"


Aldy tertawa begitu mendengar ucapan Andre.


"Cinta mati? Cinta orang kaya cuman buat selingan aja, Dre. Kemarin itu di restoran, Janet dan Ken akan bertunangan!" jawab Aldy sedikit menahan napas. Dia sangat menyesal Ara harus berhubungan dengan Ken.


"Tunangan? Trus, gimana dengan Ara?"


"Ara sudah tahu. Dia pas datang ke restoran. Tapi, sepertinya Ara gak bisa berpisah dengan Ken. Lihat saja nantilah! Gue harap Ara gak akan menderita," ungkap Aldy.


"Gue sangat mengenal Ara, Al. Dia tahu sampai dimana bisa bertahan. Gue rasa Ken sangat mencintai adek loe. Dia pasti gak mau dijodohkan dengan siapapun!"


"Sepertinya begitu! Gue udah ngomong sama Ken. Awas aja kalo dia sampe nyakitin Ara!" ancam Aldy. Sebagai seorang kakak, Aldy akan menjaga adiknya dengan baik.


"Elo tunggu aja di kantin, Al. Gue mau menemui seseorang dulu!" ucap Andre ketika teringat seseorang.


"Siapa, Dre? Laras, ya?" tebak Aldy.


"Eeh! Darimana lo tahu soal Laras?"


"Ara yang cerita, udah pergi sana!"


Andre cengengesan. Ternyata Ara juga tahu soal hubungannya dengan Laras. Waktunya bersama Laras gak banyak lagi. Bulan depan, Andre harus berangkat ke UK.


Laras sedikit sibuk karena menjadi panitia acara duta kampus. Setelah magang di stasiun televisi, Laras semakin pandai mengatur acara.


"Permisi, non. Apa bisa bicara sebentar?" tanya Andre ketika menemukan Laras di ruang admin.


Laras sedikit grogi begitu Andre ada di depannya.

__ADS_1


"A-ada apa ya? Saya agak sibuk, nih!" jawab Laras sedikit bercanda.


"Sebentar aja, non! Ayolah!"


Andre langsung menarik Laras kebelakang lemari.


"Eeeh! Kenapa disini? Sempit tahu!" celetuk Laras yang sangat terkejut dengan kelakuan Andre. Apalagi, sekarang mereka sangat dekat.


"Gak apa-apa kok! Aku kangen sama kamu, Ras," bisik Andre.


Laras menahan napas. Berharap Andre gak denger suara debar jantungnya yang seperti genderang.


"Aku juga kangen sama kamu, Kak Andre!"


"Aakh! Aku gak suka kamu panggil seperti itu. Bagaimana kalau sayang?"


"Iih! Lebay!!! teriak Laras seraya ingin menjauhi Andre.


Tetapi, Andre menarik tangan Laras kembali begitu ada dua orang yang datang.


"Kemana Laras? Wawancara dengan wartawan akan dimulai!" tanya seorang mahasiswi.


Laras sudah tak tahan pengen keluar dari persembunyiannya. Tapi Andre malah menahannya.


"Mungkin Laras sudah di ruang wawancara. Kita ke sana aja!"


Keduanya pun keluar dari tempat itu. Laras dan Andre bisa bernapas lega.


"Kenapa harus sembunyi sih? Memangnya kita ini melakukan hubungan terlarang?" protes Laras.


"Aku hanya ingin berdua denganmu, Ras. Kau tahu bulan depan aku sudah berangkat ke UK. Gak ada waktu lagi untuk bisa denganmu sedekat ini!"


Andre menggenggam tangan Laras erat. Wajah mereka sangat dekat. Laras merasakan dadanya berdegup semakin kencang. Tanpa sadar, dia pun memejamkan mata.


Andre tersenyum. Dia hanya memandangi wajah gadis yang dicintainya itu.


Tak berapa lama, Laras membuka mata. Dia sangat bodoh mengharapkan sesuatu terjadi.


"Ada apa? Kenapa kamu memejamkan mata?"

__ADS_1


"Gak knapa-napa! Sudah aah, aku mau ke aula!"


Laras segera menjauh dari Andre.


"Tunggu sebentar!"


"Ada apa lagi, sih?" tanya Laras sedikit geram dengan kelakuan Andre.


"Ada sesuatu yang kelupaan!"


"Apaan?" Laras mulai kesal.


"Aku melupakan ini!"


Secepat kilat, Andre mencium kening Laras dan langsung ngeluyur pergi.


Sementara, Laras cuma bengong aja. Merasa ciuman Andre barusan hanya sebuah mimpi!


*****


Ara dan Ken sudah di depan para wartawan. Semuanya berjalan lancar. Beberapa wartawan mengajukan pertanyaan sekitar dunia kampus.


"Saya mendengar kalau orangtua Nona Ara juga salah satu pendiri kampus. Tapi mereka meninggal karena kecelakaan mobil. Apakah kematian mereka karena ada kasus tanah yang berhubungan dengan kampus?"


Semua yang hadir sangat terkejut mendengar pertanyaan wartawan itu. Sesaat suasana ruangan menjadi riuh.


Ara juga kebingungan karena tidak tahu apa-apa. Dia juga tidak tahu mengapa mereka menanyakan soal orangtuanya.


Ken terdiam. Sepertinya dia sudah mengetahui sesuatu.


"Ken!" bisik Ara seraya menarik lengan baju Ken, seakan meminta Ken membantunya.


Ken mengangguk pelan.


"Benar! Kedua orang tua Ara memang salah satu pendiri kampus. Soal kasus tanah kami tidak tahu pasti. Silakan tanyakan kepada pihak kepolisian!" jawab Ken sedikit tegas.


"Kami juga mendengar Pak Januar dan Pak Rony terlibat dalam kecelakaan orang tua nona Ara. Apa betul begitu?"


Kali ini Ken yang terkejut. Dia tidak mengira papinya terlibat dalam kecelakaan orang tua Ara!

__ADS_1


*****


__ADS_2