Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
JANGAN LUPAKAN AKU #2


__ADS_3

Ara merasa dirinya berada di sebuah jalan yang sangat sepi. Dia melihat Ken melambaikan tangan dari jauh. Sepertinya, Ken mengatakan sesuatu namun Ara tidak bisa mendengarnya.


Tidak ada kendaraan yang lewat satu pun juga. Saatnya, Ara untuk menyeberang. Dilihatnya Ken sekali lagi. Dia masih melambaikan tangan namun kali ini sambil berjalan ke arahnya.


Ara tidak bisa menunggu Ken di tengah jalan. Dia pun memutuskan sampai ke seberang jalan dulu. Tapi, belum lagi Ara sampai, sebuah cahaya terang membuat pandangannya kabur.


Ketika cahaya itu hilang, Ara melihat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi berjalan ke arahnya. Samar, Ara melihat orang yang menyetir mobil itu. Dia adalah Janet!


Ara merasa langkahnya sangat berat. Sedetik kemudian, tubuhnya tersentak dan melayang ke atas kemudian jatuh di atas aspal. Ara masih sempat Ken berteriak memanggilnya. Tak lama kemudian semuanya menjadi gelap.


"Keeen!"


Ara membuka mata. Dia sudah berada di ruangan serba putih. Seseorang tengah tertidur di kursi samping ranjang.


"Ka ... Kak Aldy," panggil Ara lemah.


Aldy langsung mendongak begitu mendengar suara Ara.


"Ara, kamu sudah bangun?" tanya Aldy. Matanya masih merah karena hampir semalaman tidak tidur. Paling baru lima menit matanya terpejam.


"I-iya, kak. Dimana aku, kak?" tanya Ara berusaha mengenali ruangan itu. Namun otaknya tidak mau diajak berpikir.


"Kamu ada si rumah sakit, Ra. Bentar, ya. Aku panggil suster dulu!" ujar Aldy seraya keluar ruangan untuk memanggil suster.


Tak lama kemudian, Aldy kembali bersama dengan suster dan dokter Raffi.


Dokter Raffi segera memeriksa keadaan Ara, "kamu memang hebat, Ra. Keadaanmu lebih baik dalam waktu singkat. Terus semangat, ya!" ucapnya dengan senyuman.


Dokter Raffi memang lumayan tampan. Dia punya lesung pipit bukan hanya satu tapi ada di kedua pipinya.


"Terima kasih, dokter. Tapi, saya masih belum ingat benar kenapa bisa ada di sini," ungkap Ara.


Dokter Raffi kembali tersenyum, "tidak apa-apa. Nanti ingatan kamu juga kembali. Oh, iya. Aku punya sesuatu untukmu," katanya seraya mengambil sesuatu dari saku jasnya. Itu adalah sebuah boneka jari.


"Perkenalkan, namanya adalah Buddy yang artinya teman. Dia akan menjadi temanmu ketika masih disini!" lanjut Raffi seraya menyerahkan boneka mungil berbentuk beruang.


Ara mengambil boneka itu dari tangan dokter Raffi. Kemudian Ara pun memasukan ke jarinya dan menggerakannya. Boneka itu juga ikut bergerak. Tanpa sadar Ara pun tersenyum.


"Terima kasih, Pak dokter!"


Aldy sangat senang karena Ara sudah bisa tersenyum. Tapi dia sedikit khawatir karena ingatan Ara belum kembali.


"Baiklah. Mulai saat ini, Buddy akan selalu ada di sampingmu!" ucap dokter Raffi sebelum pergi.


Ara mulai bermain dengan boneka pemberian dokter Raffi. Dia merasa pernah mempunyai boneka jari seperti itu. Tapi, Ara tidak mengingat kapan waktunya.


"Bagaimana keadaan adik saya, dok?" tanya Aldy setelah di luar kamar Ara.


"Perlahan ingatannya pasti akan kembali. Cobalah mengingatkan Ara dengan sesuatu yang ringan-ringan saja," jelas dokter Raffi.

__ADS_1


"Baik, dok. Terima kasih!"


"Sama-sama. Maaf, aku pergi dulu, ya!" ucap dokter Raffi dengan logat anak muda. Tidak terlihat kalau dia itu seorang dokter.


Aldy merasa bukan bicara dengan seorang dokter tapi seorang teman. Dia jadi ingat seseorang. Waktu orang tuanya meninggal di rumah sakit ada seorang anak laki-laki yang selalu menghibur Ara. Dia hampir sebaya dengan Aldy. Anak itu juga memegang boneka jari. Apakah mereka orang yang sama?


*****


Semalaman Ken tidak bisa tidur. Dia juga ingin tahu siapa yang sudah mendonorkan darah untuk Ara. Jangan-jangan orang itu adalah Andre!


"Bagaimana, Mih? Apakah file pendonor darah buat Ara sudah ada?" tanya Ken ketika sarapan.


Mami Ken menatap puteranya itu lekat. Sangat terlihat kalau Ken ingin tahu.


"Tenanglah, Ken. Nanti mami kabari jika sudah ada. Bagaimana dengan Ara? Mami dengar dia sudah sadar!"


Hampir saja Ken melompat begitu mendengar ucapan maminya.


"Benarkah, Mih? Kalau begitu Ken harus ke rumah sakit secepatnya!"


"Tunggu, Ken. Bareng saja sama mami!" cegah Mami Ken.


"Aah, lebih cepat naik motor, Mih!" sahut Ken dari jauh.


"Ken kemana, mih?" tanya Januar yang baru muncul.


"Ditabrak? Bagaimana keadaannya?" Januar ikut menjadi khawatir.


"Mami dengar Ara sudah sadarkan diri setelah operasi. Makanya Ken langsung kabur ke sana. Sepertinya Ken sangat mencintai Ara!"


Januar terdiam. Walau bagaimana pun tidak bisa terus bersama Ara. "Ken harus melanjutkan kuliahnya di luar negeri, mih. Jangan sampai anak itu membuat Ken memberontak!"


"Papih! Ken sudah dewasa. Dia bisa mengurus dirinya sendiri. Ken bilang akan magang dulu di rumah sakit mamih. Lagi pula mamih yakin, Ara anak yang baik . Dia tidak akan membawa pengaruh buruk untuk Ken!" sanggah Mami Ken.


Januar kembali terdiam. Ada yang lebih membuatnya khawatir. Bagaimana kalau Ara tahu jika dirinya terlibat dalam kematian orang tuanya?


*****


Ken berlari kencang menuju ke kamar Ara. Dia harus memastikan kalau Ara masih mengingat siapa yang sudah menabraknya.


Di tengah perjalanan, Ken berhenti di sebuah toko bunga. Dia tahu Ara sangat suka bunga warna warni. Ara pasti senang melihatnya.


"Siapa kamu?" tanya Ara begitu Ken ada di depannya.


Ken sangat terkejut karena Ara tidak mengingatnya. Tangannya yang sedang memegang seikat bunga pun langsung gemetaran.


"Aku Ken, Ra! Apa kamu gak ingat sama aku. Kita kan ...."


"Maaf, Ken. Kata dokter ingatan Ara belum bisa kembali seperti semula. Aku harap, kamu mengerti!" tegas Aldy yang sengaja memotong perkataan Ken.

__ADS_1


"Tapi, aku ingin membicarakan tentang kecelakaan itu. Apa kamu melihat orang yang menabrak kamu, Ra?" tanya Ken lagi.


Ara memejamkan matanya. Sebenarnya, dia melihat orang yang menabraknya. Tapi dia tidak ingat mengenalnya. Ara juga tidak ingat soal Ken.


"Ma-maaf, aku tidak bisa mengingatnya," jawab Ara lirih.


"Sudahlah, Ken. Jangan paksa Ara. Keadaannya masih lemah!" ungkap Aldy sedikit keras. Jelas, Aldy tidak suka perlakuan Ken.


Ken menarik napas panjang. Hatinya benar-benar tak menentu. Apalagi, Ara tidak ingat padanya.


"Baiklah, aku pergi saja. Ini bunga untuk kamu, Ra. Kamu selalu senang melihat bunga warna warni di taman kampus. Kamu akan merasa tenang begitu melihatnya juga. Aku harap, kamu bisa mengingatku!"


Ken meletakan bunga yang dibawanya di atas meja. Kemudian berjalan keluar ruangan dengan langkah gontai.


"Siapa orang itu, Kak? Apa kami sangat dekat?" tanya Ara begitu Ken sudah pergi.


"Dia bukan siapa-siapa, Ra. Istirahatlah, aku mau keluar sebentar!"


Aldy beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi. Dia harus mengatakan sesuatu kepada Ken.


Ara hanya diam saja melihat kakaknya pergi. Tanpa terasa sebutir airmata mengalir. Dia tak mengerti mengapa hatinya sangat sedih. Siapakah laki-laki yang bernama Ken itu?


Rangkaian bunga warna warni itu masih tergeletak di atas meja. Ara merasa tenang begitu memandanginya. Tak lama kemudian, dia pun terlelap.


*****


Aldy melihat Ken sedang duduk lemas di depan kamar Ara. Wajahnya tertunduk ke bawah.


"Ken!" panggil Aldy.


Ken mendongak dan melihat Aldy di depannya.


"I-iya, kak!" sahutnya.


Aldy pun duduk di sebelah Ken.


"Aku harap, biarkan Ara sendiri dulu, Ken. Suatu saat nanti, Ara juga akan ingat semuanya!" jelasnya.


Ken menatap Aldy lekat, "tapi, kak. Ara tidak ingat padaku. Tapi, bisa mengingat kakak. Apakah ingatannya seperti itu?"


Aldy mengangguk, "jangan paksakan mengingatnya sekarang. Apalagi tentang kecelakaan itu!"


Ken terdiam. Dia hanya ingin tahu jika Ara bisa mengingat siapa yang menabraknya. Ken ingat jelas ketika Ara menyebut nama Janet sebelum pingsan.


"Baiklah, kak. Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Aku akan menunggu sampai Ara sembuh benar."


Akhirnya Ken mengalah. Dia akan menunggu sampai Ara bisa mengingat. Meskipun hatinya sangat pedih ketika Ara melupakannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2