Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
DUTA CINTA #1


__ADS_3

Ken menemui papihnya setelah sampai di rumah. Dia gak suka jadi duta kampus apalagi disandingkan dengan Janet.


"Maaf, Pih. Ken gak mau jadi duta kampus! Apalagi kalau sama Janet."


Ken langsung berterus terang.


Pak Januar Hardi menatap Ken lekat.


"Memangnya kenapa, Ken? Kamu itu paling populer di kampus. Begitu juga Janet!"


"Pokoknya Ken gak mau, Pih! Tugas kampus Ken sudah banyak!"


"Sudahlah! Kamu itu kan kuliah di kampus milik papih. Kamu pasti akan lulus dengan nilai memuaskan."


Ken kurang suka dengan pemikiran papinya.


"Gak gitu juga, Pih! Ken sudah bekerja keras belajar. Selama ini Ken mendapatkan nilai bukan karena papih!"


Ken memang pintar. Itu karena turunan dari maminya bukan dari sang papih.


"Sudahlah, Ken! Ikutin saja. Toh untuk kebaikan kampus juga!"


"Itu yang Ken gak suka, Pih. Ken bukan anak kecil lagi. Ken bisa memilih apa yang ken sukai atau tidak!"


Ken juga tidak kalah keras. Jelas Ken menentang kemauan papihnya.


"Ada apaan sih? Kenapa kalian serius bener?"


Mamih Ken muncul sambil membawa secangkir kopi untuk Pak Januar. Suasana pun mencair.


"Papi tuh, Mi. Ken dijadikan duta kampus segala! Apalagi bareng Karen."


"Betul begitu, Pih? Bagus dong, Ken! Karen pasti cantik dan pintar juga kan? Kalian adalah pasangan serasi!"


"Mamih! Pintar apaan. Sifat Janet sangat jelek, Mi. Dia itu sering bully Ara. Malah Ara yang baik dan pintar. Bahkan dia dapat beasiswa, Mi."


Tanpa sadar Ken menceritakan soal Ara.


Mami Ken senyam senyum.


"Jadi gadis yang bernama Ara itu baik dan pintar ya? Kalau dipasangkan sama Ara, kamu mau Ken?"


"Mau, Mih!"


Wajah Ken langsung cerah begitu mendengar perkataan maminya.


"Tuh, pih. Ken maunya sama Ara!"

__ADS_1


Pak Januar mengerti kode dari istrinya.


"Nanti papih bicarakan lagi. Emang kamu punya fotonya, Ken?"


Ken jadi bingung mendengar pertanyaan papinya. Dia memang gak punya foto Ara satupun.


"Gak punya, Pih!"


Ken sangat menyesal kalau belum mempunyai foto Ara. Dia harus mendapatkannya besok!


*****


Ara baru aja sampai gerbang kampus. Dia teringat pesan lope-lope yang dikirim Ken. Wajah Ara masih aja merah persis kayak udang di atas penggorengan.


~~ Gimana kalau Ken nanyain jawaban Ara? Belum apa-apa Ara pasti keringetan!~~


Ken sudah cukup lama menunggu Ara. Setiap mahasiswi yang melihatnya pada salting. Padahal Ken bukan menunggu mereka. Tapi menunggu Ara.


"Araaa ...."


Ken langsung melambaikan tangan begitu melihat Ara.


~~ Dung ... dung ... dung ....~~


Dada Ara mulai bertabuh seperti genderang. Apa suara kang es dung dung lewat, ya???


"Ada apa, Ken?"


Ken langsung mengutarakan maksudnya.


Padahal Ara masih terbayang waktu ditembak Ken kemarin.


"Buat apa sih, Ken? Pasti buat nakut-nakutin tikus, ya?"


Araaa! Kamu kok jujur banget sih???


"Kok gitu, Ra?"


"Terus buat apaan, Ken? Gue gak punya foto sama sekali!"


Ara memang gak pernah mau difoto apalagi selfi. Dia gak pede dengan penampilannya sendiri.


"Ya, sudah. Habis kuliah gue tunggu di taman, ya. Pokoknya gue harus punya foto loh!"


Ken nafsu bener. Padahal Ara malah cemas. Dia tahu diri merasa gak cantik!


*****

__ADS_1


Janet gak nyari masalah dulu. Dia sudah pede akan disandingkan dengan Ken sebagai duta kampus.


Bahkan Janet sudah memakai selempang dengan tulisan "duta kampus", tentu saja diiringi dayang-dayangnya yaitu sisi dan Dea yang ikut kepedean.


"Hei, kalian! Mulai hari ini, gue dan Ken adalah duta kampus. Kalian harus tahu diri ya! Jangan bikin masalah di depan gue!"


Janet bukannya seperti duta kampus malah seperti preman pasar.


Ara baru tahu soal duta kampus dan Ken salah satunya.


"Heh, Ra. Elo jangan deket-deket Ken, ya! Bisa jelek kampus kita kalau ada elo diaamping Ken!"


Ara termenung. Yang dikatakan Janet ada benarnya. Dia ingat Ken malah minta fotonya. Kenapa Ken ga cerita soal duta kampus, ya?


Kelakuan Janet semakin menjadi. Dia merasa seperti ratu dan semua orang harua tunduk di kakinya.


Setelah selesai kuliah, Ara sedikit ragu untuk menemui Ken di taman. Dia takut ada yang melihat dan membuat nama Ken jelek.


Akhirnya, dia memilih ke perpustakaan. Berharap Ken gak menunggunya.


Di perpustakaan, Ara malah bertemu dengan Upik. Ternyata Upik juga sedang bersembunyi dari Janet.


"Upik?"


Ara baru sadar kalau ada Upik didepan mejanya.


"Eeh iya, Ra!"


Sebenarnya Upik sudah melihat Ara tapi ragu untuk menegurnya.


"Keadaan loh udah baikan, Pik?"


Ara teringat kejadian di ruang kesehatan tempo hari.


"Su-sudah, Ra. Makasih ya kamu sama Ken sudah bantuin gue!"


"Elo gak barengan sama Janet lagi, Pik? Gue denger dia jadi duta kampus sama Ken!"


Upik memang sudah mendengar soal duta kampus. Makanya dia memilih bersembunyi.


"Gue lagi nyari tempat magang, Ra. Katanya di salah satu stasiun televisi menerima anak magang dari jurusan komunikasi!"


"Beneran, Pik. Gue boleh ikutan, ga?"


Ara antusias. Selain bisa menghindari Ken, dia juga bisa menambah ilmu.


"Ayo, Ra. Bareng gue aja!"

__ADS_1


Upik juga senang ada Ara. Sebenernya mereka satu server. Tapi Upik sempat salah jalan dengan mengikuti Janet.


*****


__ADS_2