
"Ayo, Pik! Ngomong aja, soalnya aku ada janji sama Ken!"
Ara terus mendesak Upik agar bicara. Namun Upik gak tahu harus bagaimana lagi.
Tiba-tiba, wajah Upik semakin pucat. Napasnya terasa sesak. Dia mencari sesuatu di dalam tasnya. Namun tidak ditemukan.
"Kenapa, Pik? Elo kok pucat banget sih?"
"Asma gue kambuh, Ra. Tapi gue lupa bawa obatnya!"
Napas Upik semakin lambat dan tersengal-sengal. Dia pun langsung terduduk lemas di lantai.
"Astaga, Pik. Gue harus gimana? Elo tunggu, ya. Gue panggilin petugas kesehatan!"
Ara langsung berjalan ke arah pintu dan membukanya. Tapi tetap tidak bisa dibuka. Ara mencobanya beberapa kali namun gak berhasil juga.
Sebenarnya, Sisi dan Dea sudah mengunci pintu dari luar. Itulah sebabnya mereka mengikuti Upik dari ruang kelas.
Upik semakin pucat. Mungkin karena sudah mencelakakan Ara sehingga penyakitnya kambuh.
Tiba-tiba, hape Ara berdering.
Elo dimana sih, Ra? Gue cari-cari gak ketemu juga?
Ternyata Ken yang menghubungi Ara.
Ken! Cepat kesini. Upik sakit! Tapi pintu ruang kesehatan gak bisa dibuka!
~~Share lokasi aja, Ra. ~~
Ara segera mengikuti perkataan Ken dan segera menyalakan lokasi di hapenya.
Ken segera berlari ke arah lokasi yang dikirim Ara.
"Ada apa, Ken? Kenapa kamu lari begitu?"
Diujung lorong, Ken bertemu dengan Andre.
"Ara ada di ruang kesehatan. Upik sakit tapi pintunya gak bisa dibuka. Sepertinya bukan ruang kesehatan yang biasa. Mereka gak ada disana!" jelas Ken sambil terengah-engah.
"Upik? Dia kan punya asma jika ada di ruang tertutup. Ikut aku aja, Ken. Aku tahu tempatnya!"
__ADS_1
Ken segera mengikuti Andre dan lokasinya sama seperti yang dikirim Ara.
Mereka sampai juga di tempat Ara dan Upik terkurung.
"Araaa! Elo ada didalam gak?"
Ara yang sedang memegang tangan Upik, mendengar suara Ken. Dia segera berdiri dan kembali ke pintu.
"Iya, Ken. Gue sama Upik didalam sini! Cepat buka pintunya, kasihan Upik."
Ken dan Andre berusaha membuka pintu sampai mendobraknya.
Beberapa mahasiswa memerhatikan mereka. Semakin lama tempat itu semakin ramai.
Sisi dan Dea ada diantara mereka. Dia mendengar kalau Upik sakit di dalam ruangan itu.
Keduanya ketakutan karena merekalah yang sudah mengunci ruangan itu. Entah dari mana Janet mendapatkan kuncinya. Mereka hanya mengikuti perintahnya aja.
Setelah didobrak, akhirnya pintunya bisa di buka.
"Ken, Kak Andre, tolong Upik. Dia hampir pingsan!"
Ara sangat khawatir karena Upik masih kesulitan bernapas.
Andre berniat membopong Upik.
"Tunggu, saya usaha dulu!"
Ken membuka lemari dan mencari sesuatu. Akhirnya dia menemukan sebuah tabung oksigen kecil. Dia pun langsung memberikannya kepada Upik.
Tak lama kemudian, Upik bisa bernapas lega dan membuatnya tenang.
"Apa perlu aku antar ke rumah sakit?"
Andre masih khawatir. Upik menggeleng pelan.
"Gak usah, pak. Saya udah baikan kok. Makasih ya, Ra. elo juga, Ken!"
Upik semakin bersalah karena sudah mengikuti rencana jahat Karen. Ternyata Ara dan Ken sudah menolongnya.
Ara sudah tenang, Upik bisa kembali seperti semula.
__ADS_1
"Ayo, Ra. Kita jadi kan makan siang. Meski udah sore," ujar Ken mengingatkan.
Ara hampir lupa ajakan Ken untuk makan bareng. Dia pun segera mengangguk.
Tak lama kemudian, Ara sudah ada dibocengan motor Ken. Dadanya selalu berdebar jika berdekatan dengan Ken.
Ken juga merasakan hal yang sama. Apalagi teringat rencananya untuk menembak Ara.
Tiba-tiba langit mendung dan hujan langsung turun dengan deras. Ken terpaksa berhenti untuk berteduh.
"Sorry ya, Ra. Elo jadi kebasahan!"
Ara tersenyum. Sebenarnya dia malah suka basah-basahan.
"Gak apa-apa, Ken. Kan bukan elo yang bikin ujannya. Apa perlu gue bikin jampe-jampe biar ujannya reda?"
"Aakh emang elo bisa apa, Ra?"
"Eeeh bisa dong. Begini jampenya. Prak ketiprak ketiprung, buah manggis dalam tempurung, Prak ketiprak ketiprung, disini ujan abis, disana jadi mendung! Huus, huuus ...."
Ara melakukan gerakan seperti seorang dukun. Ken malah senyam senyum melihat tingkahnya.
"Maaf ya, Ken. Kelakuan gue malu-maluin, ya!"
Ara segera sadar begitu melihat Ken malah tertawa.
"Gak kok, Ra. Gue malah suka!"
"Iiih! Suka apanya? Jangan bohong, Ken!"
Ken berhenti tertawa dan menatap Ara lekat. Tangannya merapikan rambut Ara yang tambah berantakan dan menutupi wajahnya.
Deg ... deg ... deg ....
Ara sadar itu suara jantungnya yang semakin berdebar kencang.
"Beneran kok, Ra. Gue beneran suka. Elo mau kan jadi pacar gue?"
Ara melotot. Melebarkan kupingnya mengira kalau udah salah dengar.
Araaa .... matikan loh ditembak Ken!!!
__ADS_1
*****