Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
TRAUMA #2


__ADS_3

"Sebaiknya kita pergi aja dari sini, Ra. Aku sangat cemas melihatmu seperti ini!" ungkap Ken setelah kembali menemui Ara.


Ara terdiam. Dia harus bisa menghilangkan traumanya. Jika memang Janet ada disini, Ara harus siap menghadapinya!


"Gak, Ken. Aku akan tetap disini sampai acara selesai. Meskipun keadaan fisikku kembali normal tapi aku harus bisa menghilangkan traumaku sendiri!" tegas Ara.


Ken memang sangat cemas karena sudah melihat apa yang terjadi dengan Janet. Ternyata trauma itu lebih menyiksanya seratus kali lipat.


"Baiklah, Ra. Tapi jangan jauh-jauh dariku, ya. Aku takut kamu dibawa lari anak-anak baru yang sedang memerhatikanmu itu!" ujar Ken sambil melihat kerumunan mahasiswa baru yang memerhatikan mereka.


"Aakh! Mereka gak akan tertarik sama aku, Ken. Pikir mereka kok ada tante-tante di kampus!" Ara langsung tergelak.


Ken diam aja. Dia menatap tajam mahasiswa baru itu dan merekapun perlahan pergi. Sepertinya Ken sudah menggunakan kekuatan kharismanya untuk mengusir mereka.


Acara pemilihan duta kampus pun di mulai. Satu persatu calon duta kampus naik ke stage. Tak disangka, Panitia juga memanggil Ara dan Ken sebagai mantan duta kampus.


Otomatis Ken sangat terkejut begitu juga Ara. Laras baru muncul sambil tergopoh-gopoh.


"Maaf, Ra. Kamu dan Kak Ken disuruh ke stage juga. Aku gak kepikiran kalau panitia akan tahu soal kedatangan kalian!" Laras Lupa kalau sudah mewawancarai Ara dan Ken. Panitia juga pasti mengetahuinya.


"Gimana, Ra? Apa kamu berani ke stage. Di sana akan lebih banyak yang memerhatikan kita. Bisa saja, Janet ada di sana!"


Para penonton yang kebanyakan mahasiswa semakin riuh. Mereka pun memanggil nama Ara dan Ken dengan cukup kencang seperti artis idola.


"Ayo, siapa takut!" ucap Ara seraya bangkit dari duduknya.


Ken sangat senang Ara bisa mengendalikan rasa takutnya. Dia juga bertekad menghilangkan traumanya dengan kamera dan publisitas.


Gak lama kemudian, Ara dan Ken sudah berada di atas stage. Kejadian lama pun seakan terulang kembali. Semua bertepuk tangan melihat keduanya yang sangat serasi. Kini, Ara sudah berubah menjadi gadis dewasa yang cantik. Ken juga lebih berwibawa dan menambah ketampanannya.


Dari atas stage, Ara bisa melihat lebih jelas. Dia juga melihat ada papanya Ken.


"Itu papamu, Ken!" bisik Ara.


"Iya, Ra. Papaku ditunjuk lagi untuk menjadi pimpinan kampus!"

__ADS_1


"Oh, baguslah. Beliau kan orangnya sangat baik dan disukai anak-anak kampus!" celetuk Ara.


Ken terdiam. Gak mudah untuk menjadi orang seperti yang disebutkan Ara. Ken bahkan pernah membenci papinya karena kejadian di masalalu dengan orangtua Ara.


Kini, semuanya berjalan lancar. Ara sudah bisa menatap kerumunan orang-orang tanpa takut. Bahkan dia ingin sekali bisa melihat Janet lagi. Jika bertemu dengannya Ara akan menanyakan banyak pertanyaan.


Ken juga tidak berdebar lagi mengikuti semua acaranya. Apalagi ada Ara di sampingnya. Kisah masa lalu biarlah berlalu. Semua orang yang melakukan kejahatan sudah mendapatkan hukuman. Termasuk Janet yang tidak mendapatkan hukuman dari kepolisian tetapi malah menghukum dirinya sendiri.


Ketika suasana kampus sudah sepi. Janet baru keluar dari ruang perpustakaan. Untung saja, petugas keamanan mengunci pintu setelah Janet pergi.


Dengan mengendap-endap, Janet berjalan menuju gerbang. Dia sangat yakin sudah gak ada siapapun disana.


"Janet!"


Haduh! Siapa juga yang sudah memanggilnya. Janet menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.


"Ka-kalian, Sisi dan Gea kan?"


Janet bisa mnegenali dua anak buahnya yang kini ada di hadapannya.


"Iya, Net. Kamu mau ganggu Ara lagi, ya?" tebak Gea. Dia juga bisa menebak kejahatan Janet.


"Bu-bukan. Aku mau ketemu kalian. Kalian masih anak buahku, kan? Aku memerlukan dana. Jadi aku kesini mau meminta semua kebaikanku yang dulu pernah aku berikan kepada kalian?" jelas Janet tanpa rasa malu sedikitpun.


"Anak buah? Meminta kebaikanmu? Emangnya kamu udah ngasih apa kepada kami? Tas bekas itu? Atau sepatumu yang kekecilan?" Sisi sangat kesal dengan ucapan Janet yang merendahkan mereka.


"Emangnya kami pengemis apa? Kalau kamu mau barang-barangmu yang dulu, kamu juga harus melayani kami seperti dulu! Bahkan aku sampai membersihkan sepatumu setiap hari setelah kau berikan sepatu murahan itu!" Gea juga mulai geram membayangkan betapa mereka sangat direndahkan. Dulu, Janet memperlakukan mereka seperti pelayan.


"Maafkan aku soal dulu. Sekarang aku sangat memerlukan uang. Aku dan ibuku tinggal dikontrakan kecil. Sudah tiga bulan kami belum membayar kontrakan itu! Tolonglah bantu aku," pinta Janet memelas.


Sisi dan gea saling pandang. Mereka sangat kasihan dengan kondisi Janet.


"Oke, kami akan berikan seharga barang kamu dulu!"


Sisi dan Gea mengumpulkan beberapa lembar uang dan menyerahkannya kepada Janet.

__ADS_1


Janetpun segera menghitungnya, "tapi, ini hanya untuk satu bulan. Masih kurang dua bulan lagi!" ucap Janet dengan wajah kurang senang.


Sisi dan Gea saling pandang lagi. Sisi menggelengkan kepalanya.


"Maaf, Net. Kami cuma uang itu. Kamu kan tahu keadaan kami. Maaf, ya. Kami harus pergi!"


Sisi dan Gea pun berlalu tanpa menoleh ke arah Janet lagi. Mereka sangat lega karena sudah membayar hutangnya kepada Janet.


Janet masih berdiri ditempatnya semula. Seharusnya, dia memperlakukan Ken lebih baik. Janet yakin Ken akan membantunya. Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Janet harus berjuang untuk hidupnya sendirian.


Seorang laki-laki memerhatikan Janet dari kejauhan. Dia sangat kasihan melihatnya sampai meminta bantuan uang kepada temannya. Padahal dulu Janet gak pernah menghargai uang sedikitpun. Sekarang hidupnya sangat menyedihkan.


Laki-laki itu adalah Aldy. Dia sengaja datang ke tempat itu setelah Laras menelponnya. Dia mengatakan Ara mengalami traumanya kembali setelah bertemu Janet. Ketika sampai di sana, Aldy melihat Ara dan Ken di stage dan keadaannya baik-baik saja.


Aldy sengaja menunggu sampai Janet keluar dari persembunyiannya. Akhirnya gadis yang hampir membunuh adiknya sudah ada didepannya.


Namun, Aldy gak akan bicara dengan Janet. Dia hanya ingin tahu keadaannya sekarang. Hatinya masih diselimuti amarah dan takut gak bisa mengendalikannya.


Janet sedikit lega karena sudah memegang uang meski hanya cukup membayar kontrakannya selama sebulan. Dia masih memerlukan lebih banyak uang. Haruskah dia menjadi pengemis? Setidaknya, Janet gak akan kekurangan uang!


"Maaf, apa kakak bernama Janet?"


Dua orang gadis muda menghampiri Janet. Sepertinya mereka anak mahasiswa baru.


Janet melihat mereka tajam, "kalian mau apa?" tanyanya penuh kecurigaan.


"Kami mau memberikan amplop ini. Tadi ada laki-laki menitipkan ini untuk kakak!" ujar salah satu dari mereka.


"Amplop apa ini?" tanya Janet penasaran. Apa ada orang yang mengerjainya? Janet pun melihat ke sekeliling tempat itu. Gak ada kamera atau orang yang mencurigakan.


Setelah sepi, Janet membuka amplop itu. Alangkah terkejutnya Janet begitu melihat uang yang lumayan banyak di dalam amplop itu. Wajahnya pun langsung cerah.


Tapi, siapa laki-laki itu? Mengapa dia memberikan uang yang sangat banyak kepadanya begitu aja. Apa Janet mengenalnya???


*****

__ADS_1


__ADS_2