
Pagi-pagi, Janet bersiap menuju ke bandara. Keputusannya sudah bulat. Dia tidak ingin ada yang tahu soal apa yang dilakukannya kepada Ara.
"Non, pakaiannya belum selesai dipacking. Tunggu sebentar lagi ya, non," ucap pembantunya. Dia berharap anak majikannya itu tidak jadi pergi.
"Sudahlah, bik. Aku bisa beli yang baru kalau sudah sampai di luar negeri!" sahut Janet yang ingin cepat-cepat pergi.
Janet segera masuk ke dalam mobil. Dia yang akan membawanya sendiri sampai bandara. Namun, begitu sampai di pintu gerbang, sebuah mobil berhenti tepat di depannya.
Seorang laki-laki keluar dari dalam mobil. Dia adalah Ken!
Janet langsung pucat dan gemetaran. Keringat dingin tiba-tiba membasahi tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan sih, Ken? Aku mau pergi tahu!" teriak Janet menutupi kegelisahannya.
"Kita bicara dulu, Net. Aku harus memastikan sesuatu," jawab Ken berusaha setenang mungkin.
"Aku gak ada waktu, pergilah!"
"Apa yang kamu lakukan setelah pulang dari kampus kemarin, Net? Ada orang yang sudah menabrak Ara. Sekarang dia sedang kritis!" jelas Ken.
"Apa? Ada yang menabrak Ara? Kasihan dia. Tapi, mengapa kamu mendatangiku? Memangnya aku yang menabrak Ara?"
Ken tersenyum tipis. Tanpa sadar, Janet mengatakan sendiri apa yang sudah terjadi.
"Apa benar kamu tidak menabrak Ara? Jika benar, lebih baik kamu jujur, Net. Aku tidak akan membencimu," ungkap Ken.
Janet tahu persis sifat Ken. Sudah lama Ken tidak menyukainya. Masalah Ara malah akan membuat Ken semakin membencinya.
"Apa kamu gila, Ken? Mengapa aku menabrak Ara? Kamu jangan asal tuduh!"
"Ingat, Net. Di tempat itu banyak ccrv dan saksi mata. Nanti juga akan diketahui siapa yang menabrak Ara!"
"Ya, sudah. Jangan bicarakan itu denganku. Pergilah, jangan halangi mobilku!"
Ken merasa usahanya sudah sia-sia. Janet tetap tidak mau bicara. Akhirnya, Ken memindahkan mobilnya dan membiarkan Janet pergi.
Jika Ara sadar, dia pasti akan mengatakan siapa yang sudah menabraknya. Ken masih berharap Janet mau jujur. Namun, tidak ada jalan lain lagi. Pihak kepolisian yang akan mengungkapnya.
*****
"Maaf, Al. Di kantor PMI gak ada darah yang sesuai dengan darah Ara. Gue akan mencari jalan lain. Mungkin di kampus ada yang mau mendonorkan darahnya!" jelas Andre yang merasa tidak enak dengan Aldy karena tidak mendapatkan darah untuk Ara.
__ADS_1
"Iya, Dre. Makasih ya sudah banyak membantu. Gue sangat kesal dengan Ken yang menghilang begitu saja. Seharusnya dia tidak meninggalkan Ara!"
Aldy tak mampu menahan perasaannya lagi. Kondisi Ara masih belum stabil tapi Ken sudah meninggalkannya.
"Sudahlah, Al. Ken pasti punya acara sendiri. Sebaiknya jangan mengandalkannya!"
"Iya, Dre!" jawab Aldy singkat. Perasaannya masih belum bisa menerima kalau Ken tidak menjaga Ara.
"Maaf, siapakah keluarga dari pasien Ara?" Seorang perawat muncul.
"Saya adalah kakaknya!" Aldy langsung berdiri.
"Darah untuk pasien Ara sudah ada. Silakan ambil di bagian laboratorium!"
"Benarkah, suster? Tapi, darimana darah itu?" tanya Aldy ingin tahu.
"Ada seseorang yang sudah mendonorkan darahnya. Tapi, dia tidak mau diketahui siapapun," jawab suster sebelum pergi.
"Siapa orang itu, Al?" Andre juga penasaran.
"Iya, siapa dia ya? Apakah Ken?"
"Ken?"
*****
Ken tak mampu menahan perasaannya. Dia segera menemui maminya di rumah sakit. Biasanya hati Ken akan tenang jika sudah menceritakan masalahnya kepada sang ibu.
"Ada apa, Ken? Apa kamu datang bersama Ara?" tanya dokter Rita sambil mencari Ara di belakang Ken.
Maminya Ken memang dokter psikiater jadi tidak tahu kalau Ara mengalami kecelakaan.
"Ara di ICU, mih!" jawab Ken singkat. Matanya terasa panas menahan kesedihan.
"ICU? apa yang sudah terjadi padanya, Ken?" dokter Rita sangat terkejut begitu mendengar ucapan Ken.
"Semua salah Ken, Mih. Ara tertabrak mobil ketika sedang bersama Ken. Padahal, Ara hanya akan membelikan Ken minuman. Seharusnya Ken tidak membiarkannya pergi!" ungkap Ken. Matanya mulai basah.
"Kapan kejadiannya? Bagaimana kondisi Ara sekarang?"
"Kemarin sepulang dari kampus, Mih!"
__ADS_1
"Pantas semalam kamu gak pulang. Handphone kamu juga gak dijawab!"
"Iya, Mih. Hape Ken baterainya habis."
"Papimu kira kamu itu gak pulang karena marah. Kabar soal papimu dan om Rony terlibat dalam kematian orang tua Ara sudah tersebar. Ternyata ada masalah lain. Sebenarnya mami sangat ingin bertemu Ara. Ternyata, Ara datang dalam keadaan sakit. Ayolah! Mami harus menemuinya," ungkap dokter Rita yang segera bangkit dari kursinya.
Ken hanya diam mengikuti langkah mamihnya. Hatinya masih kacau apalagi tidak bisa memberikan darahnya untuk Ara. Rasa bersalahnya semakin jadi.
Aldy dan Andre segera berdiri ketika dokter Rita sampai di depan ruang ICU.
"Apakah kalian saudaranya Ara? Saya adalah maminya Ken!"
"Saya adalah kakaknya Ara, ibu dokter!" jawab Aldy. Wajahnya sedikit berubah ketika melihat Ken.
"Apakah kamu tidak ingat dengan saya? Dulu kita sering bertemu ketika ayah dan ibumu masih hidup!" terang dokter Rita.
Aldy terdiam. Dia mencoba mengingat. Namun tak mampu mengingat apapun.
"Maaf, bu. Saya tidak mengingatnya sama sekali," jawab Aldy.
"Dulu kamu itu sering menjaga Ken dan Ara. Kamu adalah kakak yang sangat baik. Saya yakin sampai sekarang juga begitu! Baiklah, saya ingin melihat keadaan Ara di dalam."
"Baik, Bu dokter! Terima kasih atas kunjungannya," ucap Aldy sebelum dokter Rita pergi.
Ken tidak mengatakan apaun. Dia hanya duduk di bangku paling pinggir.
"Apa kamu sudah mendonorkan darah untuk Ara, Ken?" tanya Aldy ketika suasana menjadi sangat sunyi.
"Oh, iya kak!" jawab Ken gugup. Dia tidak menyangka kalau Aldy tahu soal itu.
"Darahku sendiri tidak cocok. Syukurlah darahmu bisa cocok. Terima kasih, ya!" ucap Aldy lagi sedikit canggung.
Ken mendongak. Ada sesuatu yang menurutnya tidak benar.
"Tapi, darahku juga tidak cocok!" jelasnya.
"Tidak cocok? Lalu, siapa yang sudah memberikan darahnya untuk Ara?" Aldy tidak tahu siapa lagi yang bersedia memberikan darahnya.
"Mungkin sukarelawan, Al. Biar nanti gue cari tahu!" ujar Andre yang dari tadi diam saja. Dia tidak ingin kata-katanya malah membuat semakin panas.
Ken juga jadi penasaran. Biasanya ada data pendonor darah, Ken akan mencari tahu juga. Siapakah sosok misterius itu sebenarnya?
__ADS_1
*****