Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
AKU CEMBURU #1


__ADS_3

"Dulu gue sama Loly memang pernah dekat. Gue pernah menyukainya. Tapi sekarang udah gak, kok. Kan ada elo dihati gue!"


Ken berusaha jujur namun gak mau Ara cemburu.


"Hhhmm, beneran elo udah gak suka, Ken? Lola kan cantik!"


Ken tersenyum. Ara sedikit cemberut.


"Jangan-jangan, elo cemburu ya, Ra?"


Ara melotot.


"Yee, siapa yang cemburu. Elo aja yang aneh!"


"Aneh? Aneh kenapa?"


"Gak kok!"


Ara membuang pandangannya ke luar jendela mobil. Sebenarnya yang aneh itu dirinya sendiri. Mungkin Ara emang cemburu beneran!


Ken tersenyum mengembang. Akhirnya dia tahu Ara bisa cemburu juga.


*****


Aldy sebenarnya sangat ingin menolak tugas mengantarkan makanan ke rumah Janet. Si gadis penyihir, sebutan Aldy untuknya. Namun tugas itu harus tetap dilaksanakan meski hatinya dongkol.


Rumah Janet sangat besar, halamannya juga luas. Lima buah mobil berbagai merk berjajar rapi di depan rumah.


Sudah beberapa kali, Aldy ke rumah itu. Tidak sekalipun, terlihat orang tua atau saudara Janet.


"Non Janet anak tunggal, om. Dia gak punya saudara dan orang tuanya jarang pulang. Kasihan Non, padahal sekarang ulang tahunnya tapi dia sendirian!"


Pelayan yang bekerja di rumah Janet mulai bercerita. Sangat jarang ada tamu yang datang disana. Aldy adalah tamu yang paling sering masuk ke rumah itu meski hanya mengantarkan makanan.


Hati Aldy trenyuh juga. Di balik sikapnya yang super judes ternyata Janet adalah gadis yang menyedihkan. Apalagi saat ulang tahun, dia malah sendirian.


"Kata non, om disuruh masuk aja!"


Perempuan yang bekerja di rumah itu kembali lagi.


"Apa? Masuk ke dalam? Gak aah, Mba. Saya takut disihir jadi batu!"


"Apaan, om? Disihir? Mana ada penyihir disini!" Perempuan itu sedikit kebingungan mendengar ucapan Aldy.


Aldy ingin sekali kabur dari rumah itu. Tapi teringat pesan atasannya kalau Janet meminta sesuatu, Aldy wajib menuruti.


Akhirnya Aldy masuk juga ke dalam rumah besar itu. Dia melewati ruang tamu super luas dengan perabotan mewah. Kemudian sampai di bagian dapur.


Di sana ada meja makan yang sangat mewah dan panjang. Janet duduk di ujung meja itu.


"Mana pesananku?"


Janet langsung menanyakan pesanan ayam gorengnya.


"I-ini pesanan nona!"


Aldi memberikan pesanan ayam yang dibawanya. Janet kelihatan sangat senang. Tanpa sadar dia tersenyum.


Janet memakan ayam goreng itu dengan lahap. Satu demi satu ayam itu pun pindah ke perutnya. Di saat potongan ketiga, Janet berhenti.

__ADS_1


Tiba-tiba, Janet menangis. Airmatanya mengalir membasahi pipi sementara potongan ayam goreng masih di mulutnya.


Hadeh! Aldy mulai ketar-ketir. Jangan-jangan ada sesuatu di ayam yang dibawanya!


"Ada apa, non? Apa ada sesuatu di ayam yang saya bawa?"


Janet gak langsung menjawab dan air matanya terus saja berngalir. Tak lama, dia pun tersadar dan segera menghapus air matanya.


"Ayamnya enak kok! Ini adalah hadiah ulang tahunku yang terbaik. Terima kasih, ya!"


Baru kali ini, Janet bicara lembut. Kesan judesnya hilang seketika.


"Ini kue ulang tahun buat non. Tuan dan Nyonya berpesan untuk diberikan pada non kalau ada teman yang datang."


Pelayan perempuan itu menyodorkan sebuah cake ultah di depan Janet.


Janet tersenyum tipis.


"Hanya cake? Tanpa ucapan apapun? Bahkan hapeku sangat sepi seperti kuburan. Lagi pula, dia bukan temanku. Dia hanya pelayan!"


Aldy tertegun, sifat jutek Janet kembali lagi. Membuatnya ingin pergi dari tempat itu secepatnya.


"Kamu mau kemana?!"


Aldy baru saja akan pergi, ketika Janet menegur.


"Maaf, saya harus kembali kerja!"


"Siapa bilang kamu boleh pergi. Duduklah dulu! Makanlah kue ini bersama aku."


Hadeh! Aldy benar-benar ketiban sial. Malah satu meja dengan nenek sihir pulak!


"Saya Aldy, non!"


"Oh ya sudah, Aldy. Makanlah kue itu!"


"Saya kurang suka kue, non."


"Makanlah meski hanya pura-pura suka. Setidaknya bisa membuatku senang meski sebentar!"


Aldy menelan ludah. Tenggorokannya benar-benar kering. Berharap waktu berjalan lebih cepat dan bisa meninggalkan rumah menakutkan itu.


****


Akhirnya Ara bertemu juga dengan Laras atau Upik di kampus. Kemarin Ara mencarinya di tempat magang tapi gak ketemu juga.


"Kemarin di tempat magang, elo ada dimana, Ras? Gue cariin gak ketemu juga!"


Laras menarik napas panjang. Dia masih asing ketika Ara memanggil nama aslinya. Sebenarnya kemarin adalah hari yang sangat melelahkan. Dia ditempatkan dibagian redaksi dan harus menulis tanpa henti sampai malam.


"Gue di bagian redaksi, Ra. Di lantai paling atas jadi gak ada signal. Gak enak disana, gak bisa cuci mata. Yang ada cuman layar komputer dan tumpukan kertas!"


"Elo ngomong aja sama Hrd, minta ganti bagian."


"Gak, aah. Sebenarnya gue suka disana juga sih. Ga terlalu ramai. Lagipula, gue bisa belajar nulis skenario sinetron juga," jelas Laras. Dia memang suka menulis novel namun masih berantakan.


"Hai, gadis-gadis!"


Tiba-tiba, Andre muncul.

__ADS_1


"Kak Andre ngagetin aja!"


Ara benar-benar terkejut. Sementara Laras agak menjaga jarak.


"Apa sih yang kalian obtolin serius bener? Oh iya, ingat tugas terakhir dikumpulkan minggu ini. Jangan sampai telat, ya!"


"Siap pak dosen!"


Seperti biasa, Ara bersikap seperti tentara.


Andre hanya tertawa kecil.


"Aku masih asisten dosen, Ra!"


"Sebentar lagi juga jadi dosen. Kakak mau lanjut S2 dimana?"


"Entahlah! Aku mau cari beasiswa ke UK. Moga aja dapat!"


"Maaf, aku mau ke perpustakaan. Aku tinggal dulu, ya!"


Laras tiba-tiba berdiri. Andre menyadari ada sesuatu dengan Laras.


"Gue gak bisa ikut, Ra. Ken mau kesini!" celetuk Ara.


"Gak papah kok, Ra. Aku pergi duluan, ya."


"Eeeh, tunggu. Aku ikut dengan kamu, Ras!"


Andre segera beranjak menyusul Laras.


Laras sendiri jadi kurang nyaman karena Andre ada bersamanya.


Andre berniat menyelesaikan masalah dengan Laras. Sikapnya sangat aneh. Sepertinya Laras selalu menjaga jarak apalagi jika ada Ara.


"Kamu mau cari buku apa, Ras?"


"Eeh, buku tentang cara menulis skenario, pak!"


Andre tiba-tiba berhenti tepat di depan Laras.


Laras sangat terkejut bahkan hampir menabrak Andre.


"Aku kan sudah bilang jangan panggil pak!"


"Oh iya, kak!" ucap Laras malu-malu.


Namun, Andre tidak beranjak dari tempatnya berdiri dan menghalangi jalan Laras.


"Sepertinya kamu ada masalah sama aku ya, Ras!"


Laras mendongak dan menatap Andre meski hanya bertahan satu detik.


"Gak, kok. Ma-masalah apa, kak?"


"Kamu harus jujur, Ras. Kamu lagi cemburu kan!"


Laras melotot. Cemburu? Aakh, dia aja gak tahu apa arti cemburu!


*****

__ADS_1


__ADS_2