Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
MEMULAI HARI BARU #1


__ADS_3

Hari ini, Ara akan menjalani operasi untuk yang kedua kali. Semua ingatannya benar-benar lenyap dan memulainya dari awal lagi. Ada sosok Aldy yang adalah kakak kandungnya. Ada neneknya yang penyayang dan sedikit cerewet. Ada Laras dan Andre, pasangan yang lagi bucin. Yang terakhir adalah Ken, cowok ganteng yang mengaku pacarnya.


"Bagaimana perasaanmu, Ra?"


Lamunan Ara buyar. Di depannya ada cowok ganteng yang bernama Ken.


"Aku baik-baik aja, Ken. Terima kasih sudah menemaniku!" jawab Ara sedikit kaku. Dia merasa salting juga karena Ken gak berhenti menatapnya.


Ken meraih tangan Ara dan menatapnya lekat.


"Jika semuanya berjalan lancar, jangan lupakan aku ya, Ra. Aku sangat takut kalau seperti itu. Izinkan aku tetap di sampingmu, ya!" pinta Ken penuh perasaan.


Ara tidak tahu harus berkata apa. Ingatannya mungkin telah hilang namun jantungnya tetap berdegup kencang.


"Aku yang ingin memintamu untuk tidak pergi meski pun semuanya harus dari awal lagi, Ken!" sahut Ara yang juga tidak mau kehilangan cowok sebaik dan seganteng Ken.


*****


"Maaf, saya harus memastikan sesuatu, Al!" ujar Raffi ketika sedang berdua dengan Aldy di kantor kerjanya.


Aldy mendengarkan dengan saksama, "ada apa, dok? Apa ada hubungannya dengan adik saya?" tanyanya penasaran.


"Iya. Ini ada hubungannya dengan adikmu. Tapi, kejadiannya adalah lima belas tahun yang lalu. Lokasinya adalah di sebuah rumah sakit. Hari itu aku kehilangan ayahku yang meninggal karena sakit. Aku bertemu dengan gadis kecil yang selalu menangis karena orang tuanya juga meninggal karena kecelakaan. Dia mempunyai seorang kakak laki-laki. Aku memberikan sebuah boneka jari pemberian ibuku agar dia tidak menangis," ungkap Raffi yang berhenti sejenak. Dia mengeluarkan sebuah benda dari lacinya. Boneka itu sudah lusuh karena usia.


Aldy melihat benda itu cermat. Dia juga sudah mendengar cerita dokter Raffi tadi. Ternyata dugaannya juga sama. Boneka yang dipegang dokter Aldy memastikannya.


"Apa kamu tahu boneka ini?" Raffi menunjukan boneka jari itu kepada Aldy.


Aldy mengambil boneka itu dari tangan dokter Raffi dan mengamatinya.


"Dulu memang ada anak muda yang memberikan boneka seperti ini untuk adik saya, dok. Tapi, boneka itu hilang. Adik saya kembali menangis bukan hanya kehilangan orang tua kami tapi juga kehilangan boneka itu. Jadi, anak muda itu adalah dokter?"


Dokter Raffi langsung mengangguk, "boneka itu jatuh dari mobil ambulance. Aku berusaha mengejar kalian tapi sudah terlambat. Setelah menjadi dokter, aku selalu memberikan boneka jari kepada setiap pasien termasuk Ara. Hanya saja, dia tidak mengenalinya," ungkap Raffi. Dia merasa senang karena sudah menemukan Ara namuan sekaligus sedih.


"Iya, dok. Saat itu Ara masih kecil. Tapi, dia gak akan melupakan perhatian dokter sekarang ini. Saya sebagai kakaknya mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian dokter selama ini," ucap Aldy yang juga sangat menghormati dokter Raffi.


Wajah dokter Raffi berubah. Dia sangat tahu apa yang akan terjadi pada Ara.


"Masih ada sesuatu yang aku cemaskan. Operasi kali ini sangat riskan. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Ara akan kehilangan nyawanya atau bisa hidup tapi dengan kemampuan seperti anak berusia lima tahun!"


Aldy sangat terkejut dengan penjelasan dokter Aldy. Tubuhnya gemetar dan napasnya terasa sesak. Dia tidak menyangka akan mendengar hal yang mengerikan seperti itu.


Aldy masih gemetaran meskipun sudah sampai di depan ruang rawat inap dimana ada Ara di dalamnya. Langkahnya terhenti ketika melihat Ken sedang bicara dengan adiknya.


Hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Dua-duanya sangat menyedihkan. Aldy mulai luluh dan membiarkan Ara bersama Ken di saat terakhirnya.

__ADS_1


*****


Tuan Rony mulai ketar ketir ketika kasus pajaknya mulai terungkap. Kali ini tidak ada kesempatan untuk melarikan diri. Kepolisian mulai bergerak dan menangkap Tuan Rony di kantornya. Semua berkaitan dengan semua perusahaannya.


Masalah Universitas Nusantara, Tuan Januar sudah mengembalikan semua hak para pemilik tanah yang terzolimi. Untungnya mereka mau menerima ganti untung yang ditawarkan. Hanya saja, Januar memilih untuk melepaskan jabatannya. Semuanya pun berakhir dengan damai. Universitas berjalan seperti biasa dan tidak terpengaruh sedikit pun.


Satrio bisa tenang meski pun kecelakaannya tidak terungkap. Semuanya yang bertanggung jawab sudah mendapatkan hukuman. Sudah waktunya untuk menunjukkan dirinya di depan anak-anaknya.


"Ara sedang sakit parah, Ken. Dia akan menjalani operasi sekali lagi. Kali ini, kamu harus menerima apapun yang akan terjadi," jelas Mami Ken di ruang kerjanya.


Wajah Ken langsung pucat begitu mendengar perkataan maminya.


"Apakah separah itu, Mih? Apa yang akan terjadi dengan Ara setelah operasi?" tanyanya dengan suara gemetar.


"Ara bisa kehilangan nyawanya, Ken. Kalaupun bisa bertahan, semua ingatannya akan hilang dan kembali menjadi anak lima tahun. Kamu harus mengikhlaskan apapun yang akan terjadi!"


Ken tak dapat menahan perasaannya lagi. Airmatanya deras mengalir. Dia gak mau kehilangan Ara selamanya. Hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kekasihnya itu.


"Semuanya salah Ken, Mih. Seharusnya, Ken yang mengalami semua itu. Seharusnya, Ken yang merasakan semua penderitaan Ara!" ungkap Ken dengan bersimbah airmata.


Mami Ken hanya bisa memeluk puteranya itu dengan erat. Dia juga tidak tahu harus bagaimana. Semuanya kembali kepada Tuhan dan Ara sendiri.


Tiba-tiba, ada seorang perawat yang masuk. Ken segera menghapus air matanya begitu juga dengan Mami Ken.


"Maaf, Bu dokter. Ada seorang laki-laki berwajah cacat yang ingin bertemu dengan ibu,"


"Siapa orang itu, Mih? Apa pasien mami?" tanya Ken penasaran.


"Kamu akan mengetahuinya nanti," jawab Mami Ken dengan suara bergetar.


Tak berapa lama, muncul seorang laki-laki berwajah menyeramkan. Ken langsung berdiri begitu melihatnya. Wajahnya hampir ditutupi luka bakar. Hanya matanya saja yang bersinar.


"Apa kabar, Ken? Kamu tumbuh sangat baik dan menjadi laki-laki yang tampan juga tinggi!" ucap laki-laki itu yang langsung mengenali Ken. Dia adalah Satrio, ayahnya Ara. Dahulu dia memang sering melihat Ken bermain dengan anak-anaknya.


"Oh, iya. Terima kasih, pak. Tapi, bapak siapa?" tanya Ken penasaran dan menatap maminya seakan minta penjelasan.


Mami Ken tersenyum, "apa kabar, Satrio. Ken, ini adalah ayahnya Ara!" ungkapnya.


Ken sangat terkejut mendengarnya, "tapi, bukankah ayahnya Ara sudah meninggal dalam kecelakaan?"


"Tidak, Ken. Aku masih hidup tapi tidak bisa menunjukan diri karena sudah menjadi monster dengan luka di wajah saya. Aku bersyukur, kamu mau menjaga Ara selama ini!" ungkap Satrio.


Ken mulai bisa mengurai berbagai pertanyaan di dalam kepalanya. Dia mengerti dengan penjelasan ayahnya Ara.


"Sekarang ajaklah kakaknya Ara kesini, Ken. Tapi jangan katakan soal ayahnya, ya!" ucap Mami Ken.

__ADS_1


Ken mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu, "baik, mih. Permisi, pak!" ucap Ken ramah.


Satrio tersenyum dan menganggukan kepalanya. Dia sangat senang karena Ken selalu ada di sisi puterinya.


Ken segera mencari Aldy di ruang rawat Ara. Dia berharap Aldy mau menerima keadaan ayahnya. Sementara Ara masih tertidur karena obat nyeri yang diberikan dokter yang membuatnya selalu mengantuk.


"Maaf, kak. Kakak disuruh ke ruangan ibu saya. Katanya, ada sesuatu yang harus dibicarakan!" ucap Ken ketika melihat Aldy di ruangan Ara.


"Ibu kamu? Memangnya ada apa?" tanya Aldy penasaran.


"Nanti kakak akan tahu sendiri kalau sudah disana!" jawab Ken yang gak bisa menjelaskan.


Aldy pun segera menuju ke ruang praktek ibunya Ken. Berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya.


"Aldy! Kamu mau kemana?"


Aldy menoleh dan melihat neneknya baru saja tiba.


"Mau ke ruang praktek ibunya Ken, nek!" jawab Aldy singkat.


"Ibunya Ken? Nenek ikut, ya. Nenek mau bertemu dengan ibunya Ken. Pasti dia cantik makanya Ken bisa seganteng itu!" celetuk Mak Isah.


Aldy tertawa melihat ekspresi neneknya, "aah, nenek. Gantengan juga Aldy!" ucapnya seraya memasang pose cool.


Mak Isah terkekeh, "iya, iya. Cucu nenek emang yang paling ganteng!"


Tak beberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di ruang kerja Mami Ken.


Aldy sangat terkejut begitu melihat laki-laki berwajah cacat yang sudah mendonorkan darahnya untuk Ara.


"Bapak ada di sini?" tanya Aldy yang sangat heran dengan kehadiran orang itu di sana.


Satrio berusaha tersenyum meski dadanya berdegup kencang. Apalagi begitu melihat ibunya ada di sana juga.


Mak Isah kehilangan kata-kata. Dia juga gak menyangka puteranya ada di depannya.


"Apa kabar, Aldy? Baiklah, saya akan meninggalkan kalian untuk bicara!" Mami Ken langsung beranjak dari tempat duduknya dan keluar ruangan. Dia masih sempat menyapa dengan senyuman ketika melihat neneknya Ara. Semua keluarga Ara sudah berkumpul di sana.


"Siapa sebenarnya bapak?" tanya Aldy langsung.


Satrio merasa lidahnya menjadi kaku. Entah mengapa dirinya menjadi seperti itu.


"Dia adalah ayah kamu, Àl!" ujar Mak Isah memecah kesunyian.


Aldy menoleh dan menatap neneknya lekat, "ayahku? Apa nenek gak salah. Ayah kan sudah meninggal bersama ibu karena kecelakaan!!!

__ADS_1


*****


__ADS_2