Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
HUKUMAN YANG DATANG PERLAHAN #2


__ADS_3

Aldy teringat percakapannya dengan manager di tempatnya bekerja semalam. Ada sesuatu yang membuatnya cemas. Soal pengurangan karyawan dan soal Janet.


"Sepertinya perusahaan sedang dalam masalah. Akan ada pengurangan karyawan dalam waktu dekat!" jelas Roni ketika Aldy sedang bekerja di restoran.


Nama managernya sama seperti pemilik restoran yaitu Pak Rony, papinya Janet. Bahkan dulu, Aldy mengira kalau managernya itu adalah pemiliknya.


Aldy sangat terkejut mendengar berita itu, "pengurangan karyawan? Bagaimana sampai seperti itu, pak?" tanyanya penasaran. Kondisi restoran baik-baik saja.


Roni menarik napas panjang seakan sedang menyusun kata-kata. Dia juga sama terkejutnya seperti Aldy ketika mengetahui berita itu dari kantor pusat.


"Katanya pembayaran pajaknya dibawa kabur sama orang pajak yang biasa mengurus. Ternyata sudah lima tahun tidak dibayarkan ke pemerintah! Bahkan perusahaan yang lain juga seperti itu. Kayaknya Pak Rony sedang dalam masalah besar. Apalagi kondisi puterinya yang sedang depresi di luar negeri!" jelas Roni panjang lebar.


Aldy tertegun mendengar perkataan terakhir managernya. Puteri Pak Rony kan Janet!


"Apa Janet sedang sakit?" tanya Aldy penasaran. Dia memang sudah lama tidak melihatnya.


"Memangnya kamu gak tahu, Al? Kamu kan pernah dekat sama dia?" tanya Roni sedikit menggoda Aldy.


Aldy cepat menggeleng, "saya sudah lama gak melihatnya, pak. Sejak adik saya kecelakaan!" jawab Aldy.


"Oh, pantesan Non Janet gak kesini lagi. Emangnya kamu sudah menolak cintanya, ya?"


Aldy tidak menjawab. Meskipun Aldy tidak menyukai Janet, namun masih ada sedikit rasa khawatir padanya. Tapi Aldy tidak bisa menemuinya karena Janet sedang di luar negeri.


*****


Ara melihat kakaknya termenung di siang bolong. Sepertinya ada hal penting yang sedang dipikirkannya.


"Ekheeem!"

__ADS_1


Aldy terkejut mendengar suara Ara. Dia pun pura-pura menguap.


"Aaah! Aku mengantuk. Aku tidur sebentar ya, Ra. Bangunkan aku kalau ada dokter ke sini!" ujar Aldy seraya merebahkan tubuhnya di atas bangku.


Ara tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah melihat kakaknya sudah memejamkan mata. Ara merasa kasihan juga melihat kakaknya seperti itu. Seharusnya dia istirahat di rumah saja.


Ara jadi teringat Janet. Perlahan Ara mulai mengingatnya. Bahkan ketika Janet memberikan jam tangan untuk kakak dan dirinya.


"Sampai hati Janet menabrakku! Apa yang akan dilakukan Kak Aldy jika tahu kalau Janetlah yang sudah menabrakku!" ucap Ara di dalam hati.


Ara tidak bisa membayangkan jika kakaknya tahu kalau Janetlah yang sudah menabraknya.


*****


Sementara itu di pinggiran kota London, Janet mulai mendapatkan pengobatan dari psikiater yang datang langsung ke apartemennya. Dia terlihat tenang dan tertidur setelah minum obat.


Mami Janet merasa lega meski masih mengkhawatirkan puterinya. Untung saja ada dokter Eric yang merupakan putera dari temannya yang bekerja di sana. Usianya masih muda dan single. Parasnya tampan dengan rambut berwarna pirang dan tubuhnya tinggi seperti orang bule. Ibunya adalah orang indonesia sedangkan ayahnya adalah orang asli inggris.


"Keadaan puteri nyonya sudah lebih baik setelah minum obat. Tapi, sepertinya ada beban besar yang ada di dalam hatinya. Apa Nona Janet sedang mengalami suatu peristiwa yang sangat besar?" tanya Daniel dengan logat yang sedikit kaku.


Mami Janet terdiam. Dia tidak mengatakan kalau puterinya itu sudah menabrak seseorang.


"Entahlah, dok. Sejak tiba di sini, dia selalu saja marah-marah dan mengamuk!" jawab Mami Janet sebisanya.


Eric mengerutkan keningnya. Sepertinya Mami Janet sedang menyembunyikan sesuatu.


"Perlu nyonya ketahui, obat yang dikonsumsi Nona Janet hanya sebentar saja efeknya. Sebaiknya Nona Janet harus berdamai dengan hatinya kalau mau kembali seperti semula!" jelas Eric.


Mami Janet mengangguk, "iya, dok. Terima kasih sudah datang ke sini dan membantu puteri saya! Lain kali, kita bisa makan malam bersama," ungkap Mami Janet mengubah pembicaraan.

__ADS_1


Eric tersenyum. Dia sudah menangani banyak pasien. Biasanya keluarga adalah orang penting yang bisa membuat perubahan.


"Baiklah, nyonya. Saya permisi dulu!"


Eric memilih mengakhiri pembicaraan. Dia memberi kesempatan kepada keluarga Nona Janet untuk mengatasi masalah sebenarnya.


Mami Janet sedikit menyesal sebab pertemuan itu karena Janet depresi. Kalau saja di saat yang lain, dia ingin kalau Janet bisa jadian dengan dokter tampan itu.


*****


Sebenarnya, Satrio meminta bantuan puteranya polisi tua yang sudah lama dikenalnya.


"Bagaimana reaksi Tuan Rony setelah kamu jelaskan soal pajak yang belum dibayar perusahaannya, Mon?" tanya polisi tua kepada seorang anak muda yang adalah puteranya sendiri.


Namanya adalah Karso. Seharusnya dia sudah enak di belakang meja. Namun, dia memilih tetap bekerja di jalanan agar terhindar dari permainan para oknum. Di sana ada Remond yang ternyata adalah puteranya sendiri. Satrio juga ada di sana.


"Pak Rony kelihatan sangat panik, yah. Saya rasa sudah seharusnya dia membereskan pajak yang belum dibayar kepada negara. Uang itu sangat berguna untuk kepentingan masyarakat juga!" ungkap Remond tentang Pak Rony.


"Aku harap, kali ini Rony akan sadar dan bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Mungkin dulu dia bisa lolos dari jeratan hukum, tapi tidak kali ini!" cetus Satrio yang dari tadi diam saja.


"Tapi, saya mendengar kalau pejabat yang membekingin Pak Rony juga sedang dalam masalah terkait kasus korupsi. Bisa jadi nama Pak Rony nanti ikut terseret juga!" jelas Remond ketika teringat rumor yang beredar di kantornya.


Pak Karso manggut-manggut, "cepat atau lambat, semua kesalahan akan ada hukumannya. Dulu aku pernah mengungkap kasus kecelakaan kamu dan istrimu kepada atasan. Nyatanya mereka malah mengirimku ke jalanan. Aku menerimanya dengan ikhlas meski menyayangkan kepolisian yang seharusnya membela rakyat hanya dijadikan alat orang-orang kaya!" terangnya.


"Aku sangat berterima kasih atas semua bantuanmu dan anakmu. Aku tidak bisa membalas kebaikan kalian berdua!" Satrio tidak bisa mengungkapkan semua perasaannya. Dia hanya bisa mengucapkan terima kasih.


"Tidak! Sudah tugasku untuk mengungkap kebenaran. Meski kenyataannya tidak membuahkan hasil. Percayalah, kebenaran pasti akan terungkap dan kamu bisa berkumpul lagi dengan anak-anakmu!" ungkap Karso dengan penuh perasaan.


Satrio hanya mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca setiap teringat anak-anaknya. Dia juga sangat berharap bisa memeluk mereka seperti dahulu lagi.

__ADS_1


*****


__ADS_2