
"Hei! Kalian mau kemana? Aduuuh, Ara sayang. Kamu kemana aja? Sekarang kamu tambah cantik, deeh. Ayo ikut denganku ke studio. Tanganku sudah gatal pengen merias wajahmu!"
Tiba-tiba, Jeni muncul yang langsung mengenali Ara. Entah dari mana Jeni tahu kalau ara sedang ada di sana. Dia pun langsung menggandeng Ara dan siap membawanya pergi.
"Eeeh! Kak Jeni. Ara sekarang mau pergi denganku ke kampus. Kebetulan disana ada acara dan Ara adalah sumber saya juga!" Laras pun langsung menghadang Jeni.
Jeni melotot. Dia gak terima Laras menghadangnya, "kamuuu! Anak baru jangan menghalangi aku, ya. Ara gak pantas dilapangan. Dia ini bisa jadi modelku!" Jeni tetap gak mau mengalah.
Sepertinya Ara harus turun tangan, "maaf, kak. Bagaimana kalau besok aja saya kesini lagi. Kalau hari ini, saya sudah janji sama Laras!" ungkap Ara.
"Ya, sudah. Aku minta nomor hapemu!" ujar Jeni sambil manyun. Sebenarnya dia tahu soal Ara dari Boy.
"Ingat, besok kamu kesini lagi ya, Ara sayang!" ucap Jeni sebelum pergi.
Ara hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun.
"Tumben dia baik sama kamu, Ra! Seingatku, dulu kamu selalu dimarahi sama Kak Jeni!" Laras heran dengan sikap Jeni.
"Entahlah, Ras. Nanti juga kelihatan tanduknya!" celetuk Ara.
"Iya, Ra. Beneran kamu besok mau kesini lagi? Bukankah besok Ken mau berangkat ke luar negeri?"
"Astaga, iya aku lupa. Lihat aja nanti deh, Ras. Aku harus mengantarkan Ken ke bandara dulu baru ke sini kalau masih ada waktu. Ayo kita ke kampus! Aku udah gak sabar melihat kamu siaran!" ungkap Ara antusias.
"Oke, lets go!" Laras pun ikutan semangat. Dia pun mengandeng Ara dan berjalan berdampingan seperti dulu.
Mereka seperti dua anak abg yang baru aja bertemu. Orang-orang memerhatikan mereka sambil tersenyum.
Begitu juga Boy yang melihat mereka dari jauh. Jantungnya kembali berdegup setelah sekian lama membeku. Harapan itu kembali lagi.
*****
Gak lama kemudian, Ara dan Laras sampai juga ke kampus Nusantara. Suasana sudah ramai. Meskipun sedang libur tapi mahasiswa banyak juga yang datang untuk pemilihan duta kampus.
"Kamu disini sebentar ya, Ras. Aku akan mencari kruku dulu. Inget! Jangan kemana-mana," pesan Laras.
"Iya! Paling aku nyasar ke toilet aja!" jawab Ara bercanda.
"Ya kalau ke toilet sih gampang nyarinya. Oke aku pergi dulu, ya!"
"Oke!"
Ara hanya memerhatikan Laras yang mencari kru siarannya. Sesaat, Ara seperti kembali ke masa lalu ketika pemilihan duta kampus dahulu.
Ken selalu menyemangati Ara yang sangat gugup. Saat itu, Ken selalu percaya diri sementara Ara gemetaran karena menghadapi banyak orang.
__ADS_1
Seperti juga saat itu, mendadak Ara jadi gemetar. Orang-orang disekitarnya mulai melihat ke arah Ara. Mereka saling berbisik dan tertawa. Tubuh Ara mulai keringat dingin. Jangan-jangan ada yang salah dengannya! Apa Ara balik lagi jadi anak cupu?
"Jangan takut, Sayang. Aku ada disampingmu!"
Ara terkejut mendengar suara itu. Dia seperti mengenalnya. Ara pun segera membalikan tubuhnya.
"Ke-ken?!"
Ternyata, Ken yang berbicara.
"Iya, sayang. Aku ada disini! Eeh, mana cincin yang aku berikan?" Ken langsung menanyakan cincin yang gak ada di jari Ara.
Ara segera menyembunyikan tangannya, "cincin itu sangat indah! Aku takut hilang. Lagian, darimana kamu tahu aku ada disini?"
Ken tertawa kecil melihat kepolosan Ara yang gak sembuh-sembuh.
"Ada deeh! Aku kan bisa melihatmu meski dengan mata terpejam!" ledek Ken.
"Ken! Aku serius," ucap Ara geregetan.
"Eeh! Gaya bicaramu kok jadi gitu? Kemana gaya lo guemu itu?" tanya Ken yang lebih suka Ara bicara gak resmi.
Ara melotot. Dia memang merasa harus berbicara lebih sopan. Selain usianya yang sudah bertambah juga karena Ken bukan lagi seperti yang dulu.
"Iya dong. Aku kan mantan idola kampus!" celetuk Ken.
"Hhmm, aku idola siapa, ya?" tanya Ara seperti sedang berpikir keras.
"Tentu aja idolaku!" cetus Ken.
"Aakh, masa seeh?" tanya Ara pura-pura gak percaya.
"Apa perlu aku buktikan di depan semua orang?"
"Ken!" teriak Ara seraya menghadiahkan sebuah cubitan di pinggang Ken.
Spontan Ken melompat kesakitan. Semua orang langsung melihat kearahnya. Mereka kembali berbisik seperti mengenali Ken dan Ara. Kejadian itu sama persis ketika mereka menjadi duta kampus dahulu.
Gak lama kemudian, Laras muncul bersama kameramen dan director lapangan, "Nah, kebetulan Kak Ken juga muncul. Ayo aku wawancarai kalian dulu!"
"Eeeh! Ada apa ini?" Ken gak mengerti maksud Laras apalagi melihat kamera yang tertuju padanya.
"Laras memang mau mewawancarai aku sebagai mantan duta kampus. Karena kamu datang jadi sekalian aja!" terang Ara.
"Wawancara?" kali Ini Ken yang sedikit panik. Dari dulu dia memang gak suka dengan diwawancara.
__ADS_1
"Tenanglah! Kan ada aku disini!" ujar Ara yang berusaha menenangkan Ken.
"Oke, siap ya. Wawancaranya sebentar lagi dimulai!" ungkap Laras.
Sudah terlalu lama Ken gak berhadapan dengan kamera. Apalagi untuk wawancara program tv. Untung aja ada Ara yang kini berubah lebih percaya diri.
Dengan santai, Laras mengajukan beberapa pertanyaan tentang kegiatan setelah lulus dari universitas. Ken bisa menjawabnya dengan lancar. Tinggal Ara yang kebingungan.
"Ceritakan apa yang terjadi denganmu setelah kejadian tabrak lari itu, Nona Ara? Apa orang yang menabrakmu sudah tertangkap?" tanya Laras yang sengaja mengungkit soal tabrakan yang menimpa Ara dulu.
"Aku, aku gak tahu siapa yang sudah menabrakku. Setelah itu aku gak sadarkan diri!" Ara memberi kode kepada Laras agar gak mengungkit peristiwa itu.
Tapi Laras tetap kekeh mengungkit soal kecelakaan itu, "tapi nyatanya sampai sekarang orang itu belum diadili juga. Padahal dia hampir merenggut nyawamu. Aku dengar dia sudah kabur keluar negeri! Apa benar, Nona Ara?" tanya Laras lagi. Dia ingin sekali semua orang tahu siapa yang sudah menabrak Ara. Dia adalah Janet.
Tapi Ara memang gak bisa mengingatnya dengan jelas. Penglihatan Ara mulai buram. Orang-orang yang melihat ke arahnya seperti boneka yang selalu bergoyang. Wajah mereka juga ngeblur.
Tiba-tiba, Ara melihat seorang gadis dengan wajah yang sangat jelas di antara kerumunan orang-orang.
"Ja-janet?!" ucap Ara begitu mengenali gadis itu.
"Ada apa, Raa? Kamu ingat siapa yang sudah menabrakmu?" tanya Ken begitu Ara menyebut nama Janet.
Ara menggeleng, "dia itu kan Janet. Iya kan, Ken?" tanya Ara dengan suara gemetar.
Ken segera melihat ke arah yang ditunjukan Ara. Betapa terkejutnya Ken ketika menyadari kalau gadis itu mirip benar dengan Janet! Namun sedetik kemudian bayangan gadis itu menghilang.
"Jadi, yang menabrakmu dulu adalah Janet, Nona Ara?" tanya Laras lebih jelas. Mengira kalau Ara sudah ingat soal Janet.
Ara menggeleng, "maaf, aku gak tahu siapa yang sudah menabrakku. Tadi adalah nama gadis sekelasku dulu. Ternyata dia juga datang kesini!" terang Ara.
Laras kehabisan kata-kata. Ternyata Ara masih saja melindungi Janet. Padahal dia hampir membunuhnya.
"Baiklah, Nona Ara. Terima kasih juga kepada Kak Ken yang sudah bersedia wawancara. Cukup laporan acara ini, saya Laras!" ucap Laras mengakhiri wawancaranya. Dia menjadi cemas karena Ara kelihatan cemas.
"Oke! Semua bagus. Tapi, mengapa soal kecelakaan itu belum terungkap juga. Bukankah sudah tiga tahun lebih kejadiannya?" tanya director lapangan.
"Kami gak tahu, pak. Maaf, saya dan Ara mau pergi dulu!"
Ken segera menarik tangan Ara menyingkir dari tempat itu. Matanya juga mencari seseorang yang tadi dilihat Ara juga.
"Tenanglah, Ra. Janet sudah gak ada!" ujar Ken sambil memeluk Ara yang masih gemetaran.
Entah mengapa Ara menjadi panik begitu melihat Janet. Ya! Ara ingat siapa gadis itu.
*****
__ADS_1