
Aldy hanya diam saja ketika sudah ada di dalam mobil bersama Janet. Pikirannya benar-benar kacau. Gak ada jalan keluar lagi dari jeratan si nenek sihir Janet!
"Hhmm, ternyata kamu kakaknya Ara, ya?" celetuk Janet memecah kesunyian.
"I-iya! Ara adalah adikku. Kamu satu kelas sama adikku?"
Aldy teringat cerita Ara tentang tingkah laku Janet kepadanya. Sekilas, Aldy mencuri pandang. Gadis secantik itu ternyata seorang psikopat.
"Ara pernah cerita soal aku?"
Aldy terdiam. Tidak mungkin dia menceritakan soal perkataan Ara.
"Kami jarang ngobrol. Aku sibuk kerja jadi gak pernah cerita soal kampus!"
"Aku juga gak begitu akrab dengan Ara! Tapi Ara sangat baik dengan siapapun."
Tumben Janet muji Ara. Biasanya selalu kekeselan kalau melihatnya apalagi mendengar namanya!
"Kami memang orang susah. Orang tua kami meninggal sejak kami kecil. Tapi kami selalu bekerja keras dan menghargai orang lain lebih dari diri sendiri!"
Kali ini Janet yang diam. Sepertinya perkataan Aldy sangat dalam. Janet jadi menyesal karena selalu bersikap egois. Itu karena merasa tidak punya orang tua meski mereka masih hidup.
"Aku masih punya orang tua tapi seperti tidak punya. Semuanya sudah tersedia tanpa aku minta. Mungkin itulah sebabnya aku jadi egois," jelas Janet pelan.
Aldy kembali mencuri pandang ke arah Janet. Sekilas melihat mata gadis itu berkaca-kaca. Aldy tidak tega untuk bersikap kejam padanya.
Akhirnya, mereka sampai juga di Mall. Beberapa orang sekuriti langsung menyambut kedatangan Janet.
"Selamat datang, non!" ucap mereka hampir berbarengan.
"Kalian masih ingat sama aku, ya? Kayaknya sudah lama aku gak kesini!"
"Iya, non. Sekitar sebulan yang lalu," jawab seorang dari mereka.
"Sebulan, ya? Sepertinya sudah setahun! Jaga mobilku ya, jangan sampai lecet!"
Janet berniat melemparkan kunci mobilnya. Tapi begitu melihat tatapan Aldy, dia mengurungkan niatnya. Kemudian memberikan kunci itu baik-baik.
"Aneh, ya. Tumben Nona Janet baik!"
Sekilas, Aldy mendengar bisik-bisik sekuriti itu.
Sikap Janet memang selalu sombong di depan siapapun. Tapi tidak kali ini. Kehadiran Aldy membuatnya lebih lembut.
Tak berapa lama, mereka sampai di toko Jam tangan. Para pramuniaga juga langsung menyambut Janet.
"Selamat malam, non!" sapa para pegawai toko itu.
"Malam! Aku mau lihat jam tangan cowok yang paling baru!"
"Baik, non! Mari ...."
Aldy hanya tertegun di depan toko. Dia merasa Janet bukan orang sembarangan.
"Silakan masuk, mas. Nona Janet menunggu di dalam!" tegur seorang pramuniaga perempuan.
"Maaf, mba. Kalian kok kenal dengan Nona Janet. Bahkan dari sekuriti kenal semuanya!"
Pramuniaga itu tertawa kecil.
"Emangnya mas gak tahu? Non Janet itu puterinya pemilik mall ini!"
__ADS_1
Lagi-lagi orang tua Janet pemilik mall juga. Hadeh! Aldy langsung ciut.
"Kamu kemana aja, sih? Coba jam tangannya, bagus gak?"
"Kenapa saya harus mencobanya, non?"
Janet tertawa kecil.
"Yah karena jam tangan itu buat kamu!"
Aldy terdiam. Baru saja akan mencoba jam tangan tapi langsung urung.
"Maaf, gak usah, non. Jam tangan saya masih bagus!"
"Sudahlah, gak apa-apa kok. Sekalian buat Ara, ya!"
"Ara?!"
*****
Ara sengaja menunggu kakaknya pulang. Banyak pertanyaan di dalam kepalanya. Semalam, dia ketiduran dan pagi-pagi gak ketemu juga. Pokoknya malem ini, Ara harus menyidang kakaknya.
"Kak!"
Aldy sangat terkejut begitu melihat Ara padahal sudah hampir jam dua belas malam.
"Blum tidur, Ra?"
"Nunggu kakak! Pokoknya kakak harus klarifikasi soal Janet!"
Hadeh! Gimana ceritanya, ya? Aldy tambah pusing deh!!!
"Ini!"
"Apa ini, Kak?"
Ara memeriksa barang yang diberikan Aldy.
"Itu dari Janet!"
Ara tertegun. Ternyata Janet yang sudah memberikan jam tangan itu.
"Janet? Kenapa dia memberikan Ara jam tangan? Jangan-jangan, dia suka sama kakak, ya?"
Aldy diam saja. Dia juga tahu harus bagaimana. Nyatanya, dia sudah terjerat jebakan cinta Janet!
"Pokoknya Ara gak mau menerima barang dari Janet. Kakak juga! Hati-hati sama dia, kak. Ini kan jam tangan mahal. Ara curiga dia punya rencana untuk membully Ara lagi di kampus!"
"Janet janji gak akan bikin masalah lagi!"
"Apa kakak percaya sama dia? Pokoknya Ara gak mau. Kalau kakak gak kembalikan, biar Ara aja!"
Ara sangat kesal dengan sikap kakaknya. Sebenarnya apa sih yang membuat kakaknya itu mempercayai Janet. Sudah jelas Janet sering memperlakukannya dengan buruk!
*****
"Ada apa, Ra? Muka lo kok cemberut gitu?"
Ken merasa telah terjadi sesuatu dengan Ara. Dari pertama bertemu, Ara hanya diam saja.
"Menurut lo Janet itu gimana sih, Ken? Elo kan tahu dia sejak kecil!"
__ADS_1
"Kenapa elo nanyain Janet, Ra?"
"Elo tahu kan Kak Aldy itu kerja di restoran papinya Janet. Kayaknya, dia suka sama Kak Aldy!"
"Apa? Janet suka dengan kakak lo? Apa bener, Ra?"
Ken sendiri gak percaya ucapan Ara.
Ara mengeluarkan jam tangan bermerk dari dalam tasnya.
"Janet beliin gue jam tangan mahal ini. Gue curiga dia mo bikin masalah lagi. Tapi Kak Aldy membelanya, bahkan mempercayainya!"
Ara merasa hatinya sangat panas. Baru kali ini gak sejalan dengan kakaknya.
"Dulu, Janet itu anak yang baik. Sejak orang tuanya bertambah kaya, sikapnya jadi berubah!"
Ken ingat waktu kecil, mereka sering bertemu. Keluarga mereka sering liburan bareng. Namun, mereka jadi jarang bertemu sejak SMA.
"Pokoknya gue mau balikin jam tangan ini, Ken!"
Ara tetap kekeh pada pendiriannya. Dia gak mau ada masalah di kemudian hari.
"Itu, Janet datang! Gue ke sana dulu ya, Ken!"
"Gue ikut, Ra!"
Ken gak mau meninggalkan Ara sendirian. Dia segera menyusulnya untuk menemui Janet.
"Janet! Gue mau ngomong!"
Janet terkejut melihat Ara. Mengira kalau Ara akan berterima kasih karena sudah memberinya jam tangan mahal.
Sisi dan Dea merasa aneh dengan sikap Ara dan Janet. Mereka hanya mendengarkan dengan saksama.
"Ada apa, Ra? Ooh, elo pasti mau berterima kasih ya?" tanya Janet yakin.
"Maaf, Net. Gue malah mau mengembalikan jam tangan dari lo. Sorry, gue gak butuh ini!"
Ara langsung menyerahkan jam tangan itu kepada Janet yang masih bengong. Sementara Sisi dan Dea saling berbisik.
"Kenapa dikembalikan, Ra. Jam itu kan mahal. Status loh pasti naik kalau memakai jam tangan itu!"
"Status? Gue gak butuh status, Net. Gue lebih suka orang lain mengenal gue apa adanya!"
"Sudahlah, Net. Ambil lagi jam tangan itu. Elo udah salah menilail Ara!"
Ken membela Ara. Janet terdiam dan mengambil jam tangan itu dari tangan Ara.
"Jam itu kan mahal, Net! Mending buat gue aja, deh!"
"Gue juga mau, Net!"
Sisi dan Dea saling berebutan.
Janet sangat kesal dengan sikap Ara. Dia sudah menpermalukannya di depan Ken. Janet pun melemparkan jam itu begitu saja.
Otomatis Sisi dan Dea berebutan. Meski Sisi lebih cepat. Dea kelihatan sangat kesal.
"Sorry ya. Sepertinya gue yang lebih pantas memakai jam tangan mahal ini!" celetuk Sisi.
"Aah, nanti juga diminta Janet lagi!" ledek Dea. Tapi Sisi gak peduli.
__ADS_1
Janet gak ngerti mengapa Ara gak mau menerima pemberiannya. Jalan untuk mendekati Aldy sepertinya cukup sulit!
*****