Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
KEPASTIAN CINTA #2


__ADS_3

Ken sangat senang Ara sudah mengingat dirinya sebagai pacar. Tapi Ken gak mau mengungkit soal Janet dulu. Meskipun dia tahu, Janet sudah kabur ke luar negeri.


"Ada apa, Ken? Mengapa kamu senyum terus dari tadi? Pasti ada kabar baik, ya?" tanya Mami Ken ketika Ken menemuinya di rumah sakit.


Lagi-lagi Ken nyengir, "hati Ken sedang berbunga-bunga, Mih. Ara sudah ingat kalau Ken adalah pacarnya!" jawab Ken lugas.


Mami Ken baru sadar, pantas aja Ken seperti itu. "Oh, iya. Bagus itu. Bagaimana kabar Ara? Mami belum sempat menemuinya setelah pindah ke ruang rawat inap," katanya.


"Ayo, kita menemui Ara, Mih. Ara pasti sangat senang bisa bertemu dengan mamih. Mamih juga, kan?" Ken antusias.


Mami Ken terdiam. Dia teringat pembicaràannya dengan sang suami yaitu Tuan Januar.


"Ara pasti sangat marah jika tahu kalau papih terlibat dengan kematian orang tuanya. Dia pasti akan menjauhi Ken. Meski pun papi tidak melakukannya tapi saat itu tidak bisa mencegah perbuatan Rony. Mereka harus dipisahkan sebelum semuanya terungkap!"


"Mamih tidak setuju, pih. Mereka harus memutuskan sendiri jika mengetahui kejadian sebenarnya. Ken tetap di sini, pih!" sahut Mami Ken tegas.


*****


"Baiklah! Setelah mamih selesai tugas, kita akan menjenguk Ara. Kamu senang, kan?" Akhirnya Mami Ken menuruti puteranya.


Ken cengengesan, "tentu saja senang, mamiku sayang!"


Ken langsung memeluk maminya. Kalau begitu, Ken seperti anak kecil aja, deh! So cuteee ...


Setelah tugasnya selesai, Mami Ken memenuhi janjinya untuk menemui Ara. Terlebih dahulu, dia ke ruangan dapur untuk membuat teh hangat agar tubuhnya lebih segar.


Ketika sedang berjalan, Mami Ken merasa melihat seseorang yang sangat aneh. Laki-laki itu memakai masker dan topi sehingga wajahnya tidak kelihatan. Tapi, dari jauh luka di wajahnya kelihatan.


Laki-laki aneh itu terus menatap Mami Ken dengan tajam. Tiba-tiba, Mami Ken tersadar. Dia seperti mengenali orang aneh itu. Tapi, seharusnya dia sudah tiada!


Mami Ken mencari orang aneh itu namun bayangannya sudah menghilang. Dia harus memastikan siapa dia. Apakah benar, dia adalah orang yang sama seperti yang dipikirkannya.


Setelah beberapa saat, Mami Ken memutuskan melanjutkan perjalanannya. Mungkin dia salah lihat. Sebentar lagi dia akan bertemu dengan Ara. Membuat pikirannya mengalami halusinasi. Karena yang ada dipikirannya, orang aneh itu adalah Satrio Purnomo, ayahnya Ara yang sudah tiada.

__ADS_1


Suasana pantry sangat sepi. Biasanya masih ada perawat yang sedang istirahat. Mami Ken lebih suka ke dapur langsung dari pada menyuruh perawat.


Mami Ken segera mengambil teh dan sebuah gelas kemudian menuangkan air panas ke dalamnya.


"Dokter Ratna!"


Mami Ken sangat terkejut mendengar suara memanggil namanya. Dia pun segera membalikan badan. Kini, dihadapannya sudah ada orang aneh berwajah cacat yang tadi dilihatnya.


"Ka-kamu siapa?" tanyanya gugup.


Laki-laki berwajah cacat itu menatap Mami Ken nanar. Membuatnya semakin ketakutan.


"Kamu tahu siapa aku, dok? Aku adalah Satrio Purnomo!"


Alangkah terkejutnya dokter Ratna mendengar jawaban laki-laki aneh itu.


"Sa-satrio? Dia sudah meninggal!" ucap dokter Ratna tegas.


Laki-laki yang mengaku sebagai Satrio itu hanya tersenyum tipis.


Satrio membuka masker dan topinya. Kini, wajahnya yang menyeramkan terlihat jelas.


Dokter Ratna gemetaran. Meski banyak luka bakar, dia masih bisa mengenali wajah Satrio.


"Ka-kamu salah menuduh. Suamiku dan aku tidak tahu apa-apa! Yang kami tahu Rony yang sudah melakukan kejahatan itu!" ungkap dokter Ratna.


"Kalian harus ikut bertanggung jawab. Seharusnya kalian bisa mencegah Rony. Jika kalian melakukan sesuatu, kecelakaan itu tidak akan terjadi! Dan sekarang, puteriku juga hampir menjadi korban. Yang menabraknya adalah puterinya Rony!" jelas Satrio dengan geram. Kemarahannya hampir tak bisa ditahan lagi begitu teringat puterinya.


Dokter Ratna terkejut setelah mendengar penjelasan Satrio. Ternyata yang sudah menabrak Ara adalah Janet, putrinya Rony.


"Ja-Janet? Apa benar dia yang sudah menabrak Ara?" tanyanya masih tak percaya.


"Ya! Sebenarnya polisi sudah tahu dari CCTV tapi mereka menutupinya karena campur tangan Rony. Sekali lagi, kalian sudah membuat keluargaku menderita!"

__ADS_1


Dokter Ratna terdiam. Jika itu yang terjadi, dia juga tidak bisa tinggal diam. Kejahatan tidak selamanya bisa ditutupi. Dia juga harus melakukan sesuatu.


"Aku akan berjanji akan melakukan sesuatu. Tapi kamu harus yakin kalau suamiku tidak terlibat dalam kecelakaan itu. Dia hanya dimanfaatkan Rony!" ungkap dokter Ratna.


Kini, Satrio yang menjadi pendiam. Dia tahu Januar tidak sekejam itu. Namun, jika dia bertindak lebih awal, Rony tidak akan melakukan banyak kejahatan.


*****


Di lain tempat, Rony serius melihat video dari hapenya. Video itu adalah CCTV yang dikirim dari salah seorang kaki tangannya di kepolisian.


Terlihat jelas kalau Janet yang sudah menabrak puterinya Satrio. Pantas saja, Janet buru-buru ingin ke luar negeri. Ternyata puterinya itu sudah melakukan kejahatan yang dulu juga pernah diperbuatnya.


Rony teringat malam sebelum kecelakaan. Dia menemui Satrio dan istrinya di Kampus Nusantara setelah mendengar kalau mereka akan melaporkannya ke polisi.


"Aku harap kamu tidak melaporkan apapun ke polisi. Ini urusanku!" kata Rony keras.


"Tidak! Kamu sudah melakukan banyak kesalahan, Ron. Tanah ini milik orang lain dan bukan hak kita. Aku tidak mau hidup diatas penderitaan orang lain. Kami mempunyai buktinya, kamu harus bertanggung jawab!" jawab Satrio tidak kalah sengit.


"Kamu tidak akan memberikan bukti itu kepada siapapun, Satrio! Aku tidak akan membiarkannya!"


Di luar gedung, anak buah Rony sudah melakukan sesuatu kepada mobil Satrio. Dia melakukannya atas perintah langsung dari majikannya yaitu Tuan Rony.


Awalnya, Rony hanya ingin memberi peringatan kepada Satrio. Tak disangka kalau kecelakaan itu sampai merenggut nyawa mereka.


Kini, setelah bertahun-tahun telah berlalu. Kejadian itu terulang lagi. Kali ini, puterinyalah yang melakukan kejahatan itu. Dia sudah menabrak puterinya Satrio!


"Tutupi peristiwa kecelakaan itu. Aku tidak mau anakku sampai di penjara!" perintah Rony lewat hapenya kepada seseorang di kepolisian.


"Tapi, pak! Cepat atau lambat, kasus ini akan terbuka. Sekarang wewenang saya sudah berkurang!" jawab seseorang dari ujung telpon.


"Terserah kamulah! Upayakan siapa yang terlibat bisa ditutup mulutnya. Aku akan transfer uang yang diperlukan!"


Itulah Rony! Semua masalah diselesaikan dengan uang.

__ADS_1


*****


__ADS_2