Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
MENGUNGKAP RAHASIA #2


__ADS_3

Ara merasa ada yang aneh dengan sikap Ken. Semua kemesraan di pantai seperti hanya untuk menutupi sesuatu.


Dengan penuh keberanian, Ara langsung menanyakannya kepada Andre. Setidaknya dia masih aktif sebagai seorang asdos.


"Emangnya Ken gak bilang, Ra?"


Andre malah balik bertanya ketika Ara mencoba mencari tahu soal Ken.


"Memangnya ada apa, kak?"


Ara semakin penasaran.


"Ken sudah dijadwalkan untuk meneruskan kuliah diluar negeri. Waktunya tinggal setahun lagi. Sebenarnya, aku juga mau pamit. Akhir bulan ini aku akan berangkat duluan!"


Ara semakin terpana. Bukan hanya Andre, Ken akan sekolah juga di luar negeri.


"Ken gak bilang apa-apa kok, kak. Pantesan sikapnya sangat aneh. Untuk kakak selamat, ya. Apa Laras sudah tahu?"


Andre langsung mengangguk.


Ara jadi ngiri dengan sikap Andre dan Laras. Meski mereka belum jadian tapi sudah saling jujur.


Andre jadi teringat soal kematian orang tua Ara. Dia tidak tega menceritakannya kepada Ara. Biar Aldy saja yang mencari tahu kejadian sebenarnya.


"Sebaiknya kamu ke ruang admin, Ra. Ada beberapa agenda duta kampus yang harus kamu kerjakan dengan Ken!"


"Hah? Duta kampus? Apa benar Ara yang mendampingi Ken? Bukannya Janet?"


Andre tertawa.


"Dasar kamu, Ra! Masih aja gaptek. Coba cek hape kamu. Pasti ada pemberitahuan hasil polingnya!"


Hadeh! Ara benar-benar lupa. Dia pun segera mengeluarkan hapenya. Tapi hapenya itu malah mati.

__ADS_1


"He he he, hape Ara mati, kak!"


"Jiaah! Ara-araa."


Lagi-lagi Andre mengacak-acak rambut Ara yang sudah berantakan.


Dari jauh, Ken memerhatikan mereka. Rasa cemburu masih menguasai hatinya begitu melihat keakraban Ara dengan Andre.


Di tempat lain, Laras juga melihatnya. Entah apa yang dirasakan hatinya. Dia sangat tahu perasaan Ara. Namun Andre, Laras masih meragukannya.


*****


Aldy sengaja mencari tahu soal kematian orangtuanya. Mumpung sedang libur dan Janet tidak mengganggunya lagi.


Langkah pertama adalah ke kantor polisi untuk menanyakan kasus kematian orang tuanya.


"Sudah sepuluh tahun yang lalu. Waktunya sudah terlalu lama untuk mengajukan penyelidikan lagi. Lagipula, kematian orang tuamu adalah murni kecelakaan!" terang seorang polisi.


"Tapi, pak. Batas penyelidikan kembali adalah sepuluh tahun. Masih ada waktu sebulan lagi," desak Andre.


Andre tak bisa berkeras lagi. Sepertinya, tidak ada kesempatan lagi untuk mengungkap kematian orangtuanya.


Dengan langkah gontai, Aldy meninggalkan kantor polisi. Rencana kedua adalah menanyakan langsung kepada bapak Januar. Seperti yang diceritakan Andre. Bapak Januar terlibat dalam peristiwa itu.


"Heh, tunggu!"


Baru saja, Aldy akan menghidupkan sepeda motornya. Tiba-tiba seseorang polisi setengah tua muncul.


"Iya, ada apa, pak?" tanya Aldy mengira kalau ada kesalahan yang dilakukannya.


"Aku mendengar kamu mau mengajukan penyelidikan kematian orangtuamu kembali?"


"I-iya, pak. Tapi, sepertinya tidak bisa dilakukan karena waktunya sudah kelamaan," jawab Aldy yang masih kecewa.

__ADS_1


"Aku adalah polisi yang dulu menyelidiki peristiwa kematian orang tuamu. Kamu memang tidak bisa melakukan penyelidikan ulang. Tapi aku tahu kejadian yang sebenarnya!"


Aldy langsung semringah. Masih ada harapan untuknya.


"Temui aku di alamat ini besok sore!" ucap polisi tua itu seraya menyerahkan secarik kertas.


"Ba-baik, pak. Terima kasih!"


Aldy sangat bersyukur masih ada orang yang peduli dengan orangtuanya. Berharap ada titik terang dan mengungkap kejadian yang sebenarnya.


*****


Ara akhirnya bersanding dengan Ken dalam peresmian duta kampus. Penampilannya sangat berbeda karena harus selalu rapi. Membuat Ara sedikit terkekang.


"Kamu gak betah ya, Ra?" bisik Ken ketika mereka berada di depan ratusan mahasiswa.


"Hhmm, iya Ken. Gimana caranya kabur dari sini, ya?" tanya Ara sedikit bercanda.


"Sekarang aja, yu!" ajak Ken tanpa pikir panjang.


"Gak mungkin lah, Ken. Mereka melototin aku dari tadi!"


Ara sadar, pandangan para mahasiswa itu hanya sebagian kecil yang memandangnya dengan positif, sisanya melihatnya dengan tatapan setajam silet.


"Aakh! Aku gak suka menebar pesonaku didepan mereka. Pasti mereka semakin tergila-gila padaku!"


Lain halnya dengan Ken. Semua mahasiswa pasti senang memandanginya lama-lama.


"Ken!"


Ara melotot begitu mendengar ucapan Ken yang sedikit sombong.


Sebenarnya, Ken hanya bercanda. Tapi, Ara malah tambah ngambek. Sikap Ara malah membuat Ken semakin geregetan. Sejenak melupakan masalah yang akan dihadapinya nanti.

__ADS_1


*****


__ADS_2