
Ara masih menatap Ken dengan pandangan kosong. Membuat Ken sangat cemas kalau Ara sudah kehilangan ingatannya lagi.
"Aku adalah Ken, Ra. Pacar kamu!" ungkap Ken untuk kedua kalinya.
Ara benar-benar bingung. Dia merasa banyak semut di dalam kepalanya. Jangankan laki-laki yang mengaku pacarnya itu, Ara sama sekali tidak mengingat siapa dirinya.
"Mengapa aku ada disini?" tanya Ara yang masih kebingungan.
"Jangan, Ra. Jangan lupakan aku lagi ...," bisik Ken yang sangat ketakutan sambil memegang tangan Ara.
Namun, Ara malah menarik tangannya. Tatapannya masih asing.
"Maafkan aku, kepalaku sakit sekali!" ujar Ara seraya memegang kepalanya.
Ken semakin panik, "ada apa, Ra. Aku, aku akan panggilkan dokter, ya!" Ken segera memanggil dokter jaga di ruang UGD.
Tak lama, Aldy muncul dengan penuh kecemasan juga. Dia mendapat kabar dari perawat soal keadaan Ara.
"Ada apa, Ra? Kamu kenapa?" tanya Aldy sambil memeluk Ara.
Tetapi, Ara juga menghempaskan tangan Aldy dan menatapnya tajam.
"Siapa kamu? Jangan ganggu aku!" teriaknya histeris. Sepertinya, Ara merasakan sakit yang luar biasa di bagian kepalanya.
Sementara dokter dan perawat masih memeriksanya.
"Lebih baik, kalian keluar dulu!" ucap dokter jaga.
Aldy hanya diam saja karena masih bingung melihat sikap Ara.
"Ayo kita keluar dulu, kak!" ajak Ken setelah melihat Aldy masih tak bergerak.
Akhirnya, Aldy terpaksa keluar dari ruangan itu. Meskipun hatinya masih diliputi kecemasan.
__ADS_1
"Aku gak ngerti. Mengapa Ara selalu sakit jika ada di dekat kamu, Ken? Seharusnya kamu menjaga Ara dengan baik!" ujar Aldy ketika sudah sampai di luar UGD. Dia sangat marah karena Ken gak menjaga Ara.
"Maaf, kak. Saya juga gak tahu apa yang telah terjadi. Saya gak menemukan Ara di kamarnya dan menanyakan kepada perawat. Katanya Ara pingsan di taman. Ada seorang laki-laki berwajah cacat yang membawanya ke UGD!" jelas Ken berharap Aldy tidak beranggapan buruk kepadanya.
Aldy terdiam sebentar, "taman? Laki-laki berwajah cacat?" tanyanya.
"Iya, kak. Kata perawat sih begitu. Saya gak tahu siapa orang itu. Apa kakak mengenalnya?"
Aldy tak menjawab. Dia pernah melihat orang itu beberapa kali. Bahkan orang itu sudah mendonorkan darahnya untuk Ara. Apakah Ara juga melihatnya?
Tak berapa lama, dokter muncul. Aldy cepat menghampirinya.
"Bagaimana adik saya, dok?"
"Adik saudara sudah tertidur. Saya memberikan obat pereda sakit yang mengandung obat tidur. Jika sudah sadar, Nona Ara harus cepat melakukan pemeriksaan dibagian kepalanya!" terang dokter yang cukup cantik itu.
"Baik, dok. Terima kasih!" sahut Aldy seraya terduduk lemas setelah dokter pergi. Laki-laki berwajah cacat itu masih melekat di dalam kepalanya. Dia harus tahu siapa orang itu sebenarnya!
Ken malah gak bisa tenang. Dia hanya mondar mandir berharap keadaan Ara baik-baik saja.
"Maaf, sus. Apakah tadi ada orang yang menolong adik saya. Namanya Arabella!" tanya Aldy begitu sampai di meja perawat.
Dua orang perawat itu saling pandang. Mereka sedikit salting karena wajah Aldy yang lumayan tampan.
"Iya, tadi Nona Ara dibopong seorang laki-laki berwajah cacat. Kata orang itu, dia adalah ayahnya," jawab salah satu perawat itu.
Aldy tertegun. Ayahnya? Jelas itu tidak mungkin, karena ayah mereka sudah lama meninggal. Aldy semakin bingung dengan kehadiran laki-laki itu. Siapa sebenarnya orang itu? Bahkan sampai mengaku sebagai ayah mereka.
*****
Sebenarnya, Raffi sudah selesai bertugas dan beristirahat di rumahnya. Namun, Ara masih terbayang di pelupuk matanya. Kondisinya kali ini lebih mengkhawatirkan.
Akhirnya, Raffi memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Pikirannya sangat kalut. Yang terbayang adalah gadis kecil yang tengah menangis histeris di lorong rumah sakit. Raffi tidak akan meninggalkan gadis kecil itu.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Raffi sampai di rumah sakit. Dia bahkan lupa membawa jas dokternya dan hanya memakai pakaian kasual. Para perawat memandanginya dengan takjup. Tidak biasanya, Raffi ke rumah sakit dengan pakaian seperti itu. Dia lebih mirip artis dibandingkan dokter.
Ken melihat seorang laki-laki datang dan langsung masuk ke ruang UGD. Dia mirip dengan dokter yang merawat Ara tapi penampilannya sangat berbeda.
"Selamat malam, dok. Saya mau menjenguk pasien saya yang bernama Ara," ucap Raffi setelah menemui dokter jaga. Namanya adalah dokter Irena.
Dokter jaga itu memandangi Raffi dengan tajam kemudian dia pun tersenyum, "selamat malam, dok. Hhmm, sudah lama aku gak melihat dokter ke rumah sakit tanpa jas. Apa sekhawatir itu sampai melupakan jas kebanggaan dokter?" katanya sedikit menyindir.
Raffi tertegun dan memeriksa pakaiannya. Aakh! Dia memang sudah melupakan jas dokternya. Namun, dia tidak mau kena ledekan dokter Irena.
"Ya, aku hanya ingin lebih santai. Lagipula ini kan sudah bukan jam kerjaku!" jawab Raffi sebisanya.
"Tapi, dok. Kalau bukan jam kerja berarti dokter hanyalah pengunjung biasa, kan? Maaf, saya gak bisa memberikan laporan medis pasien!" ungkap Irena sedikit jutek.
Kali ini, Raffi menatap Irena tajam. Tidak biasanya, sikap Irena sekeras itu.
Para perawat yang ada tidak berani mendengar pembicaraan mereka dan memilih menyingkir.
Tak lama kemudian, Irena pun tersenyum. Ketegangan itu pun mencair.
"Maaf, dok. Aku hanya bercanda saja. Maklum biar gak ngantuk! Ini laporan media Nona Ara. Silahkan dibaca dengan baik dan teliti!" jelas Irena dengan senyum lebar. Dia memang sengaja mengerjai Raffi. Kelihatannya, kali ini Raffi sedang tidak bisa diajak bercanda.
Raffi hanya mengangguk dan mengambil file yang disodorkan Irena. Dia tahu kalau sedang dikerjain tapi tetap harus menjaga wibawanya.
"Apa tadi kepala Nona Ara sakit lagi, dok?" tanyanya setelah melihat laporan medis Ara. Dia masih saja serius.
"Iya, dok. Aku sudah memberikan obat pereda nyeri. Sebaiknya Nona Ara harus diperiksa lebih teliti lagi. Aku khawatir masih ada gumpalan darah di kepalanya," terang Irena yang ikut menjadi serius. Dia tetap memerhatikan sikap Raffi yang sangat berbeda. Sebenarnya, apa hubungan Raffi dengan pasien bernama Arabella itu?
Tak jauh dari ruang UGD, Satrio selalu memerhatikan keadaan puterinya. Dia sempat khawatir ketika Ara merasakan sakit di kepalanya. Satrio hanya berdoa agar puterinya itu akan segera sembuh.
Satrio berjanji, jika Ara kembali seperti semula, dia akan menemuinya. Kemudian berterus terang kalau dia adalah ayahnya. Meskipun, Ara sempat sadar dan mengetahui siapa Satrio sebenarnya.
Untuk sementara Satrio akan kembali ke tempat persembunyiannya. Sebentar lagi, Rony akan merasakan akibat perbuatannya. Ketika Satrio membalikan badan, ada seseorang sudah berdiri di depannya.
__ADS_1
Satrio tertegun melihat anak muda di depannya. Dia memandanginya dengan tatapan tajam. Anak muda itu adalah Aldy!!!
*****