
Ken masih menyetir mobilnya entah kemana. Pikirannya belum tenang karena ada Aldy disampingnya. Meski begitu, Ken sudah siap menerima apapun hukuman. Karena Ken memang mengaku salah karena meninggalkan Ara meski punya alasan sendiri.
Berkali-kali Aldy menarik napas panjang dan melepaskannya dalam sekejap. Dulu dia sudah menyerahkan Ara kepada Ken walaupun Ken malah meninggalkan Ara disaat membutuhkannya.
"Kita mau kemana, kak?" tanya Ken memecah kesunyian.
Aldy masih diam dan membuang pandangannya keluar jendela. Terik mentari sedang panas-panasnya, begitu juga hatinya.
"Aku gak tahu, terserah kamu aja!" jawab Aldy tanpa mengalihkan pandangannya ke samping.
"Apa kakak mau kopi?" tanya Ken lagi yang juga serius menyetir.
"Boleh!" jawab Aldy singkat.
Tak berapa lama, mereka sudah sampai ke kedai kopi. Aldy agak heran karrna kedai itu tempat biasa dirinya nongkrong.
"Dari mana kamu tahu tempat ini?" tanya Aldy ketika sudah duduk di bangku dekat jendela.
"Ara yang cerita, kak!" jawab Ken juga singkat.
"Kapan?"
"Dulu, kak. Sebelum kecelakaan itu!"
"Owh! Kapan kamu kembali ke luar negeri?" tanya Aldy yang mulai mengungkap pertanyaan di kepalanya.
"Memangnya kenapa, kak?"
Aldy gak langsung menjawab. Seorang laki-laki setengah tua membawakan kopi pesanan mereka.
"Makasih, kang!" ujar Aldy yang langsung menyeruput kopi itu.
"Iya, kang. Sekarang udah jarang mampir, ya!" Penjual kopi itu ternyata masih mengenali Aldy.
"Iya, kang. Saya sibuk ngajar!' jawab Aldy sembari menyeruput kopinya lagi.
"Hhmm, kalau akang kan pernah kesini, ya. Sama seorang gadis!"
__ADS_1
Ken hampir tersedak mendengar ucapan penjual kopi itu. Dia memang pernah mampir ke kedai itu bersama Ara. Dia gak mengira kalau penjual kopi itu juga mengenalinya padahal hanya datang satu kali.
"Oh iya, kang. Sudah lama juga gak kesini!" jawab Ken seraya meletakan gelasnya di atas meja.
"Maaf, saya tinggal dulu. Ada yang beli!" Penjual itupun pergi ketika ada pembeli datang.
"Jadi, kamu kesini sama Ara?" tanya Aldy beberapa detik kemudian.
"Iya, kak. Sudah lama sekali tapi penjual kopi itu masih mengenali saya!"
"Iya, ingatannya memang sangat kuat!"
Ken teringat pertanyaan Aldy sebelumnya.
"Maaf, kak. Maksud kakak menanyakan tadi apa, ya?"
Aldy terdiam. Dia sedang menyusun kata-kata yang tadi sempat hilang dari kepalanya.
"Oh, itu. Kalau kamu berniat pergi lagi, jangan terlalu akrab dengan Ara. Kasihan dia kalau sampai memberikan harapan terlalu besar padamu!" jawab Aldy sehalus mungkin. Padahal hatinya masih saja bergemuruh.
"Oowh!" sahut Aldy yang langsung menghabiskan kopinya.
Jawaban Ken sudah cukup bagi Aldy. Dia juga merasa serba salah jika menyangkut adiknya. Di lain sisi mengharapkan Ara bisa ingat kembali semua kenangannya. Namun di sisi lain, Aldy takut Ara malah terluka jika mengetahui kebenaran itu.
Ken menunggu ucapan Aldy berikutnya. Mengira kalau Aldy akan memarahinya habis-habisan. Sikap Ken memang sudah keterlaluan.
"Maafkan kalau saya sudah melakukan kesalahan kepada Ara, kak. Waktu itu saya mengira kalau Ara sudah sembuh. Saya takut kalau Ara akan terluka lagi. Untuk itulah saya memilih pergi!" jelas Ken
Aldy meletakan gelas kopinya di atas meja. Dia pun menarik napas panjang. Sekarang dia sudah bisa mengendalikan emosinya.
"Iya, Ken. Aku hargai keputusan kamu. Aku hanya berharap jangan tinggalkan Ara lagi apapun yang terjadi. Kondisi kesehatannya memang sudah sembuh total. Hanya ingatannya saja yang masih memerlukan waktu. Aku harap kamu mau membantu Ara mendapatkan ingatannya kembali!" ungkap Aldy yang sudah menyerahkan Ara kepada Ken. Dia akan memberikan kesempatan terakhir kepadanya dan mulai percaya dari awal lagi. Berharap adiknya akan kembali mengingat semuanya.
Ken mengangguk pasti. Dia berjanji pada dirinya sendiri kalau gak akan meninggalkan Ara lagi.
*****
Laras sudah selesai menyisir rambut Ara. Kini mereka sedang berbaring di tempat tidur.
__ADS_1
Laras mengeluarkan hapenya untuk mengirim pesan kepada orang tuanya kalau dia akan menginap di rumah Ara.
"Bagaimana memakai benda itu, kak?" tanya Ara ingin tahu. Dia masih aja memanggil Laras dengan sebutan kak.
Laras gak komplain dengan panggilan Ara kepadanya. Sekarang, sifat Ara masih seperti anak kecil.
"Kamu kan juga punya hape, Ra. Dulu kita sering berkirim pesan juga kok!" sahut Laras mengingatkan Ara tentang hapenya.
Ara terdiam seakan sedang mengingat sesuatu. Kemudian, dia langsung lompat ketika mengingatnya.
"Oh, iya. Ara juga punya. Tunggu sebentar, kak!"
Ara segera mencari kotak yang dilihatnya kemarin. Kotak itu menyimpan buku kecil dan sebuah hape. Dia pun langsung menunjukan benda itu kepada Laras.
"Apa ini hape punya Ara?"
Laras memerhatikan hape itu, "iya, Ra. Ini hape kamu. Apa kamu gak pernah memakainya? Pantas aja pesanku gak pernah terbaca sampai sekarang!" terang Laras. Dia pun memeriksa hape itu. Bisa jadi batre hape itu habis dan gak pernah dicas lagi.
"Nanti aku cas dulu, Ra. Kayaknya hape ini sudah lama ga dipakai!" ujar Laras seraya mencas hape Ara.
"Iya, kak. Ara aja baru tahu kalau punya hape itu!"
"Nah, tunggu setengah jam lagi dan kita lihat apa yang ada di dalamnya. Pasti pesanku sudah puluhan ada di sana!" ungkap Laras.
"Siapa lagi ya yang mengirimkan pesan untuk Ara?" tanya Ara ingin tahu.
"Pastilah dari Ken!" cetus Laras. Tak lama dia menyesali perkataannya itu.
"Dari dokter Ken? Jadi Pak dokter juga tahu kalau Ara mempunyai hape?"
Laras hanya bisa mengangguk. Dia gak bisa menutupi siapa Ken lagi.
"Apa ya pesan yang dikirimkan Pak dokter?" tanya Ara sembari merebahkan tubuhnya di kasur dan memejamkan mata. Membayangkan apa yang ditulis dokter Ken kepadanya.
Laras terdiam. Dia malah cemas kalau banyak rahasia tersimpan di dalam hape itu. Sesaat, Laras merasa takut kalau nanti Ara malah terluka.
*****
__ADS_1