Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
JAGALAH HATIMU #2


__ADS_3

Ara dan Ken masih berada di dalam mobil. Keduanya enggan untuk berpisah.


"Sudah malam, Ken. Pulang dan istirahatlah. Jangan tidur kemalaman, besok pagi sarapan dulu dan jangan makan siang telat. Jangan ...."


Ara belum lagi menyelesaikan perkataannya, Ken sudah memeluknya. Ara tertegun. Tanpa terasa matanya basah.


"Aku mencintaimu, Ra!" bisik Ken lembut. Wajahnya sangat dekat dan membuat Ara merinding.


"Aku mencintaimu juga, Ken."


Ara gak bisa menahan perasaannya lagi. Setelah sekian lama, mereka baru bisa membuat pengakuan cinta.


Ken menatap Ara lekat. Wajah mereka semakin dekat dan semakin dekat. Nah, looh! Mau ngapain tuh???


Dug dug dug ....


Terdengar suara dari luar mobil. Ara dan Ken sangat terkejut dan segera membuka jendela.


"Nah bener kan, kalian. Ngapain sih di dalam mobil. Ayo ke rumah aja, Nak Ken. Eeh, dokter Ken. Nih, nenek bawa berkat!"


Ternyata Mak Isah yang memukul jendela mobil. Sepertinya baru pulang dari acara pengajian.


Ken tertawa kecil. Ara juga gak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah seperti tomat. Untung aja mereka gak melakukan apapun.


"Sudah malam, nek. Besok Ken mau ke luar negeri!" jawab Ara seraya keluar dari mobil.


"Iya, nek. Maaf gak bisa mampir!" ucap Ken juga.


"Yaah, kalau begitu hati-hati ya!"


"Baik, nek. Tolong jaga Ara ya, Nek! Dah, Ara."

__ADS_1


Ken mulai menyalakan mobilnya lagi dan melambaikan tangan sebelum pergi. Dadanya masih berdegup kencang. Hampir aja dia memberikan cap bibirnya kepada Ara. Teringat itu, Ken hanya bisa senyum-senyum sendiri.


Mak Isah menggandeng cucunya itu masuk ke dalam rumah. Sementara Ara masih belum bisa melepaskan Ken. Berharap Ken juga bisa menjaga hatinya.


*****


Janet akhirnya bisa melunasi pembayaran kontrakan yang menunggak selama tiga bulan. Dia merasa sedikit tenang meski masih memikirkan untuk membayar bulan berikutnya.


Rumahnya sekarang hanya kontrakan petakan di dalam gang. Semua harta benda papinya di sita bank dan mereka gak disisakan sedikit pun. Hampir dua tahun ini, mereka kembali pulang dan terpaksa tinggal di rumah kecil itu.


"Makanya kamu mending ke rumah Ken, Net. Dia pasti mau membantumu!" ucap Mami Janet yang juga berubah luruh. Rambutnya sudah berubah putih dan kerutan memenuhi wajahnya. Sangat berbeda dengan dahulu yang lebih suka tinggal di luar negeri dan selalu merawat diri.


"Aku sudah ketemu Ken, mih. Dia masih menyuruhku menemui Ara dan meminta maaf. Tapi sampai kapanpun aku gak akan melakukannya. Ara juga salah karena sudah masuk ke dalam hidup Ken!"


Ternyata Janet masih merasakan dendam kepada Ara. Hatinya terlanjur membusuk meskipun keluarga Ara sudah memaafkannya.


"Jangan begitu, Ra. Mereka sudah baik karena mencabut laporan di kepolisian. Kamu bisa dihukum seumur hidup kalau mereka mau!" ungkap Mami Janet.


Mami Janet hanya bisa menarik napas panjang. Hati puterinya itu sudah berubah menjadi batu. Setidaknya, Janet masih mau mengurusnya yang sudah gak bisa apa-apa.


"Tapi, siapa yang udah memberikan uang itu sama Janet, ya?"


Janet kembali memikirkan orang misterius yang sudah memberikannya uang. Dia pasti sangat mengenalnya sampai sebaik itu.


"Iya, Net. Siapa orang baik itu. Mami juga mau mengucapkan terima kasih kalau ketemu. Apa dia bukan Ken?"


Janet menggeleng pelan. Ken sudah sangat membencinya. Mana mungkin mau membantunya diam-diam. Pasti ada orang lain. Teman-temannya gak bisa diandalkan. Mereka hanya parasit. Si Upik Abu juga gak mungkin. Dia itu juga memerlukan uang untuk kuliahnya. Lalu, siapa orang itu?


*****


Aldy menatap gelapnya malam dari jendela kamarnya. Dia masih teringat kondisi Janet sekarang yang sangat menyedihkan. Meskipun penyakit hati Janet gak bisa disembuhkan tapi Aldy masih merasa sedikit kasihan padanya. Untuk itulah, Aldy memberikan uang setelah mendengar kesulitan Janet.

__ADS_1


Rasa bersalah masih dirasakan Aldy. Sedikit banyak, dia juga terlibat sehingga Janet membenci Ara. Aldy juga sudah menolak cinta Janet dan memilih menjauhinya. Padahal, sebenarnya Janet adalah gadis yang kesepian. Kekayaan orangtuanya gak bisa membuatnya bahagia.


"Hayooo, lagi mikirin siapa!!!"


Tiba-tiba, Ara muncul. Aldy sangat terkejut dan kepalanya hampir membentur jendela.


"Ara! Ngapain ngagetin gitu, sih?!"


Ara cuma cengengesan dan duduk di pinggir tempat tidur.


"Besok antarkan Ara ke tempat kerja Laras, ya kak. Ara janji mau kesana!" ungkap Ara yang teringat janjinya dengan Jeni. Laki-laki melambai yang ingin merias wajahnya.


"Apa kamu mau kerja lagi, Ra?" Aldy masih cemas kondisi Ara bisa ngedrop kalau kecapean.


"Belum, kak. Ara mau lihat-lihat dulu. Kata Ken sih, omnya mau bikin acara buat Ara!"


"Tapi kamu jangan kecapean, Ra. Aku lihat Laras kerjanya sering ke lapangan, pasti melelahkan!"


Aldy teringat Laras yang kecapean ketika melakukan pekerjaannya meliput acara di kampus. Bagaimana kalau ditempat yang ekstrem? Laras pasti jauh lebih capek. Aldy jadi ikut mencemaskannya.


"Cie, cie, Kak Aldy mulain mikirin Laras, ya? Udah jadian aja, kak. Laras baik dan setia, kok!"


Aldy hanya tertawa kecil. Dia tahu Laras sangat setia. Bahkan dia rela menunggu Andre yang sempat menghilang dan ternyata sudah menikahi gadis bule.


"Gimana perasaan Laras sekarang, Ra? Apa dia sudah move on?"


Ara tahu maksud kakaknya, "Laras sih kelihatannya tegar dan sudah move-on, kak. Tapi, kadang dia suka bengong. Mungkin masih memikirkan Kak Andre! Makanya, kakak hibur Laras dong. Ara juga senang kalau Laras jadi kakak ipar!"


Aldy tertawa mendengar celetukan adiknya. Aldy gak pernah memikirkan sejauh itu. Tapi, dia memang sempat mencemaskan Laras. Takut kalau Laras melakukan hal bodoh karena sudah ditinggal Andre menikah. Nyatanya, Laras adalah gadis yang tegar dan mampu berdiri tegak sampai sekarang.


*****

__ADS_1


__ADS_2