
Ara benar-benar sudah kembali seperti semula. Semua kenangan manis dan buruk juga teringat lagi. Begitu juga kecelakaan yang membuatnya hampir kehilangan nyawa. Setelah sembuh malah kehilangan ingatannya.
Yang paling diingat Ara adalah Ken. Karena Kenlah yang dilihat Ara ketika siuman. Cowok ganteng yang menjelma menjadi laki-laki dewasa yang berkharisma. Cowok yang kini sedang ada di hadapannya.
"Ada apa melihatku begitu, Ra? Apa ada yang salah denganku?" tanya Ken yang melihat Ara hanya diam sambil memerhatikannya.
Ara tersadar dari lamunan. Wajahnya bersemu merah karena Ken menemukan tatapannya.
"Aakh engga, kok. Gue cuma mengingat kapan kita terakhir bertemu. Apa itu tiga tahun yang lalu? Gue ngerasa baru aja bertemu dengan elo kemarin! Apa selama ini gue tidur terlalu lama, ya?" tanya Ara yang masih bingung dengan kepalanya yang sangat ringan.
Ken tersenyum dan menggenggam tangan Ara erat, "iya, Ra. Kita baru aja bertemu lagi. Kita akan mulai hari yang baru. Tentu aja dipenuhi dengan cinta!" jawab Ken yang seperti pujangga.
"Iikh! Kok gitu, Ken. Kenapa kamu jadi pujangga begitu?" Ara segera menarik tangannya. Padahal untuk menutupi jantungnya yang berdegup kencang.
"Maaf, Pak dokter Ken. Silakan ke ruang administrasi!" Seorang perawat muncul. untung Ara sudah menarik tangannya.
Ara terkejut mendengar perawat itu memanggil Ken dengan sebutan Pak dokter.
"Pak dokter? Apa elo udah jadi dokter, Ken? Lalu, gue sekarang jadi apa?" tanyanya kebingungan.
Ken tersenyum, "kamu jadi Ibu dokter aja, Ra!" jawab Ken yang langsung kabur. Entah Ara mengerti atau gak dengan perkataannya barusan.
Ternyata Ken sudah menjadi dokter. Ara merasa bersalah karena bicara seperti waktu kuliah dulu. Padahal waktu sudah lama berlalu dan Ara masih ditempat yang sama.
"Bagaimana keadaan kamu, Ra?" Aldy masuk menggantikan Ken. Dia belum sempat bicara lama dengan adiknya.
"Alhamdulillah udah baik, kak. Oh iya, kapan kita pulang? Ara pengen secepatnya masuk kuliah lagi. Pasti Ara udah banyak ketinggalan!" jawab Ara yang langsung mengutarakan keinginannya.
"Malam ini kita menginap disini. Besok baru bisa pulang. Tapi kamu jangan terlalu banyak pikiran, Ra. Istirahatlah dulu!" Aldy sangat senang semangat Ara sudah kembali lagi. Tapi, dia takut kalau Ara sakit lagi.
"Ara mau seperti Ken, kak. Dia aja udah jadi dokter. Ara harus bisa menjadi seseorang yang lebih baik. Ara pengen jadi reporter sungguhan, kak!" ungkap Ara soal cita-citanya padahal ingatannya baru aja kembali.
__ADS_1
"Bagus, Ra. Kakak senang kamu sudah memiliki semangat lagi. Tapi, kamu harus diperiksa di rumah sakit lagi agar lebih tenang. Kakak pasti akan selalu mendampingimu!" jelas Aldy.
"Ara udah baik-baik aja kok, kak," sahut Ara.
"Iya, Ra. Tapi kamu hanya diperiksa aja, kok. Lagipula yang memeriksa kamu kan ibunya Ken!"
Ara terdiam. Dia malah gak ingat sama sekali kalau selama ini sering bertemu dengan ibunya Ken.
"Iya, kak. Nanti Ara ke rumah sakit. Ara juga mau semuanya baik-baik aja." Ara akhirnya menyerah. Memang ada baiknya memeriksakan dirinya ke rumah sakit lagi. Agar semuanya bisa lebih tenang.
Paginya, Ken sudah berada di dalam mobil menuju pulang. Dia gak menyangka, kepergian mereka ke pantai malah membuat Ara kembali seperti dulu. Kini, Ara menjelma seperti mereka pacaran dulu. Ken ingin sekali memeluk Ara namun ada kakaknya Ara. Dia akan menahan perasaannya sedikit lagi.
"Neneeek!" teriak Ara begitu sampai di rumah.
Mak Isah segera keluar begitu mendengar suara cucunya. Dia juga sangat khawatir begitu Aldy mengatakan kalau Ara tenggelam di laut.
"Kamu gak apa-apa, Ra? Nenek takut terjadi hal buruk sama kamu. Kasihan cucu nenek selalu aja mengalami kejadian buruk!" ujar Mak Isah seraya memeluk Ara dan menciuminya.
"Ara baik-baik aja, kok. Nenek gak usah khawatir! Ara kangen sama nenek," sahut Ara yang sangat senang bertemu neneknya lagi.
"Tapi, kayaknya kamu sangat berbeda. Apa adikmu baik-baik aja, Al? Nak Ken?" Mak Isah memastikan kecurigaannya.
"Ara sudah kembali seperti dulu, nek!" jawab Aldy dengan mata berkaca-kaca.
"Maksud kamu, Ara yang sebelum kecelakaan?"
"Iya, nek. Ara sempat pingsan dan hampir tenggelam. Namun setelah sadar malah kembali menjadi Ara yang dulu. Maafkan saya yang gak menjaga Ara dengan baik!" Ken malah meminta maaf.
"Bukan! Semua bukan salah siapa-siapa tapi memang sudah takdir. Yang penting Ara sudah kembali lagi seperti yang dulu dan keadaannya baik-baik saja. Ayo, masuklah! Kalian pasti kecapean!"
Mak Isah tetap bersyukur meski banyak kejadian buruk menimpa cucunya tapi keadaannya jauh lebih baik.
__ADS_1
"Ara? Apa yang terjadi? Ayah sangat mengkhawatirkan kamu!"
Seorang laki-laki setengah tua muncul dengan wajah yang sangat khawatir. Ara diam saja. Dia gak mengenali laki-laki itu.
"Si-siapa, bapak?" tanya Ara dengan wajah bingung.
Satrio tertegun. Jangan-jangan Ara kehilangan ingatannya lagi. Dia belum sempat bicara dengan Ken tapi kejadian buruk sudah menimpa puterinya lagi.
"Ingatan Ara sudah kembali lagi, om. Tapi ingatannya kemarin malah hilang!" jelas Ken soal keadaan Ara.
Satrio masih kebingungan begitu juga Ara. Aldy gak tinggal diam.
"Ra, ini adalah ayah kita!" ungkap Aldy.
Ara terpaku, "ayah? Bukannya ayah sudah meninggal bersama ibu?" tanya Ara lagi.
"Tidak, nak! Setelah kecelakaan sebenarnya Ayah masih hidup. Namun wajah ayah rusak dan gak bisa dikenali. Ayah sengaja bersembunyi sampai wajah ayah bisa diperbaiki! Maafkan ayah, nak," terang Satrio yang langsung memeluk Ara.
Tanpa terasa Ara meneteskan airmata. Dia memang gak ingat wajah Ayahnya dulu karena masih kecil. Kini, Ara malah bisa memeluknya.
"Ayah, jangan tinggalkan Ara lagi," bisik Ara di sela tangisnya dan memeluk ayahnya erat.
Ken sangat bahagia bisa melihat Ara bisa berkumpul dengan keluarganya lagi. Dia berharap gak ada lagi kejadian buruk menimpa mereka.
"Maaf, saya mau pulang Sebenarnya sekarang ada kelas di sekolah luar biasa. Jadi, saya harus pergi!" ungkap Ken setelah semuanya lebih tenang.
"Tapi, Nak Ken belum sempat makan gado-gado nenek!" celetuk Mak Isah.
Ken tersenyum, "gak apa-apa, nek. Nanti juga saya kesini lagi. Selamat tinggal, Ra!"
Ara hanya bisa mengangguk sebelum Ken melangkah pergi. Dia gak tahu harus berkata apa. Hatinya terasa kosong karena Ken gak ada di dekatnya lagi.
__ADS_1
Mulai hari ini, banyak yang harus dilakukan Ara. Dia akan menghubungi Laras secepatnya dan berharap masih bisa kuliah lagi. Juga tentang cita-citanya menjadi reporter seperti waktu magang dulu. Ara belum sempat belajar lebih banyak karena mengalami kecelakaan. Ara harus bersiap karena hari barunya baru saja akan dimulai!
*****