Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
RAHASIA TERPENDAM #1


__ADS_3

Janet sampai di rumahnya dengan wajah pucat pasi. Dia segera meninggalkan mobilnya di halaman dan langsung berlari ke kamar.


"Non! Ada apa, non?" pembantunya langsung menanyakan apa yang terjadi pada Janet.


Tapi, Janet tak peduli. Dia hanya ingin bersembunyi di kamarnya. Tubuhnya masih gemetaran seakan sudah melakukan kesalahan yang sangat besar.


"Jangan ganggu aku!" ucap Janet seraya menutup pintu kamar dan menguncinya.


Perempuan setengah tua itu sangat heran dengan sikap majikannya. Dia menebak sudah terjadi sesuatu padanya.


Ya! Hal mengerikan memang sudah terjadi pada Janet. Gadis itu langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan berusaha terpejam. Namun, peristiwa mengerikan itu terus membayang.


Di kampus, dia melihat Ara dan Ken pergi berdua. Entah mengapa Janet mengikuti mereka. Hati Janet masih panas karena Aldy sudah menjauhinya. Pasti Ara yang menghasut agar tidak dekat dengan Janet lagi.


Ara sudah merebut Ken dan sekarang Aldy juga. Janet semakin membencinya. Hatinya semakin panas bahkan hampir terbakar.


Saat itu, Janet melihat Ara mau menyebrang jalan. Sementara, Janet di dalam mobil tepat di depannya. Dengan penuh amarah, Janet memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Janet memejamkan matanya ketika Ara tepat di depan mobil dan sempat menoleh padanya. Sudah tak ada jalan lain. Janet tidak bisa menghentikan mobilnya. Sedetik kemudian, tubuh Ara melayang dan jatuh ke aspal dengan penuh darah.


"Tidaaak! Itu bukan salahku. Ara yang salah karena menyeberang sembarangan!" teriak Janet memecah kesunyian.

__ADS_1


"Non, non Janet. Ada apa, non? Buka pintunya, non!" Perempuan setengah tua itu senakin khawatir begitu mendengar teriakan majikannya.


Janet meraung-raung dan menghancurkan seiisi kamarnya. Kesalahannya tidak bisa dimaafkan!


*****


Ken masih menunggu di depan ruang operasi. Tangannya masih gemetaran. Wajah Ara yang penuh darah masih membayang.


"Bertahanlah, Ra! Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit," ucap Ken ketika berada di dalam ambulan.


Mata Ara masih terbuka sedikit. Mulutnya seperti mengatakan sesuatu tapi sangat pelan.


"Ada apa, Ra? Aku tidak dengar?" Ken mendekatkan telinganya ke mulut Ara. Wajahnya langsung berubah begitu mendengar apa yang dikatakan Ara. Ternyata, Ara masih sempat melihat siapa yang sudah menabraknya!


Ken gugup. Dia tak tahu harus berkata jujur atau tidak. "Aku tidak sempat mencari tahu. Begitu melihat Ara terluka, aku langsung membawanya ke rumah sakit!" jawab Ken sedikit berbohong. Untuk sementara, Ken merahasiakan soal Janet.


"Aku akan melaporkannya ke polisi. Jika terjadi hal buruk pada Ara, aku akan memastikan orang itu di penjara!" ancam Andre sambil mengepalkan tangan menahan amarah.


Ken hanya diam saja. Dia pun mengingat apa yang dikatakan Ara sebelum tak sadarkan diri.


"Ja ... net!" ucap Ara lemah.

__ADS_1


Ken sangat jelas mendengar Ara menyebut nama Janet. namun, Ken masih tidak percaya kalau Janetlah yang sudah menabrak Ara!


Hampir tiga jam operasi Ara berlangsung. Tak lama, dokter dan perawat muncul. Wajah mereka terlihat sangat lelah.


Aldy langsung berdiri dan mendekati dokter, "bagaimana keadaan adik saya, dok?" tanyanya penuh kekhawatiran.


"Operasinya sudah selesai. Tapi, adikmu masih memerlukan banyak darah. Cepatlah ke ruang lab dan periksa darahmu apa cocok dengan darah adikmu. Jika tidak, tanyakan ke PMI secepatnya!" jelas dokter yang mengoperasi Ara. Kelihatannya dia masih muda tapi sudah menjadi dokter bedah.


"Baik, dok! Saya akan lakukan. Terima kasih, dok."


Dokter muda itu mengangguk dan langsung pergi bersama dengan perawat yang mendampinginya.


"Dre, tolong tunggu di sini, ya. Aku harus ke lab!" pinta Aldy.


Andre mengangguk, "baik, Al. Gue pasti akan menunggu Ara!"


Aldy pun segera meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan apapun kepada Ken. Sebenarnya, Aldy sangat kecewa kepada Ken karena tidak bisa menjaga adiknya.


Ken sedikit mendengar ucapan dokter. Dia sedikit tenang karena operasi Ara sudah berlangsung dengan baik. Tapi, Ken harus melakukan sesuatu. Dia juga berniat memberikan darahnya untuk Ara.


Andre diam saja ketika Ken berjalan melewatinya. Hatinya masih panas. Hampir saja, dia memukul Ken karena menyebabkan Ara menderita. Meski sudah merelakan Ara bersama Ken. Tetap saja amarah itu masih ada.

__ADS_1


*****


__ADS_2