Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
MONSTER DARI MASA LALU #1


__ADS_3

"Apa kamu gak mau jujur kepada anak-anakmu?" tanya seorang polisi setengah tua di pojokan sebuah kafe.


Di depannya duduk seorang laki-laki berwajah menyeramkan dengan luka bakar yang hampir menutupi seluruh wajahnya.


"Belum saatnya. Aku akan membalaskan dendam setelah itu barulah aku akan bertemu dengan mereka!" jawab laki-laki berwajah cacat itu sambil meneguk kopinya.


"Bagaimana kabar puterimu? Aku melihat cctv di sekitar lokasi kejadian. Wajah pengemudi mobil yang menabrak puterimu mirip sekali dengan puterinya Rony. Orang yang juga terlibat dalam kecelakaanmu dulu!" terang polisi tua itu.


Mata laki-laki berwajah cacat itu nanar. Dia semakin membenci Rony dan keluarganya.


"Nyawa puteriku hampir lenyap, beruntung aku datang tepat waktu. Bapak dan anak sama-sama mental pembunuh!" katanya seraya menggebrak meja.


"Aku sudah bertemu dengan puteramu. Dia sudah melapor ke polisi soal kecelakaan kamu dan istrimu. Tetapi tidak ada respon. Makanya aku cerita soal waktu itu. Dia juga sudah menyebarkan berita kalau Rony dan Januar terlibat dengan kecelakaanmu!" jelas polisi tua itu lebih panjang.


Laki-laki itu berwajah cacat itu mengangguk pelan, "aku bersyukur anak-anakku tumbuh menjadi orang yang tegar. Tapi, aku tidak ingin melihat mereka terluka!" katanya lagi dengan mata sedikit basah.


Dia teringat betapa menyakitkan mengetahui kalau istrinya meninggal dan dirinya sendiri menjadi monster. Namun, lebih menyakitkan kalau anak-anaknya yang terluka.


"Aku akan mempercepat balas dendamku. Mereka harus mendapatkan balasan setimpal. Mereka akan hancur!" tekad laki-laki berwajah monster itu.


Pembicaraan itu harus berakhir. Pengunjung kafe semakin banyak. Sang Monster harus kembali ke tempat persembunyiannya.


*****


Ara kembali bermimpi yang sama. Dia berada di sebuah tempat yang sangat sepi. Dari jauh seorang laki-laki tampan tengah melambaikan tangan. Ara seperti mengenalnya. Ketika menoleh, sebuah mobil sudah ada di depannya. Sedetik kemudian mobil itu menabraknya.


Ara masih sempat melihat pengemudi mobil yang menabraknya. Dia adalah seorang wanita muda yang cukup cantik. Ara juga seperti mengenalnya.


Tak lama kemudian, Ara terjaga. Perlahan membuka mata dan mengamati sekitar ruangannya. Serangkaian bunga warna warni masih segar. Entah siapa yang sudah meletakkannya di dalam vas bunga berisi air sehingga lebih segar.


"Kamu sudah bangun, Ra?"


Suara Aldy membuat Ara sedikit terkejut. Dia tidak tahu ada kakaknya di situ.

__ADS_1


"I-iya, kak. Apa kakak tidak kerja?" tanya Ara yang mulai sedikit mengingat pekerjaan kakaknya.


"Iya, Ra. Kakak sudah minta libur tiga hari. Mungkin nanti siang, nenek yang menjagamu!" jawab Aldy seraya membuka tirai jendela lebih lebar.


Cahaya matahari pagi masuk ke dalam ruangan. Ara merasa ingin sekali keluar dari ruangan itu dan merasakan hangatnya.


"Ara sudah enakkan, kak. Kasihan nenek kalau ikut menginap di sini. Apa bisa Ara pulang saja?" pintanya.


Aldy tertegun. Ara memang selalu begitu. Dia tidak ingin menyusahkan orang lain.


"Laras juga akan menjagamu. Katanya selesai kuliah mau datang ke sini. Kamu tenang saja, kalau dokter bilang boleh pulang baru kita akan pulang!" jelas Aldy berusaha menenangkan Ara.


"Baik, kak. Hanya saja, Ara merasa sudah lebih baik. Mimpi itu, Ara merasa sangat nyata sekali. Sepertinya yang sudah menabrak Ara adalah perempuan, kak!"


"Perempuan? Apa kamu ingat wajahnya?" tanya Aldy antusias.


Ara mengangguk, "mungkin ingat kalau melihat orangnya, kak!" jawab Ara yakin.


Menjelang siang, Nenek Ara datang. "Neeeng! Ngapa bisa jadi begini, sih? Makanya kalo nyeberang itu hati-hati!" teriakan Mak Isah langsung memecah kesunyian.


Ara sedikit terkejut namun sangat senang dengan kedatangan neneknya. Walau bagaimanapun, Ara tidak akan pernah melupakan suara dan sosok neneknya.


"Neneek!" sambut Ara riang. Dia ingin sekali memeluk neneknya namun terhalang selang infus.


"Eeeh! Udah kamu diem aja di situ. Nenek aja yang meluk kamu!"


Mak Isah segera memeluk cucu kesayangannya itu dan menciuminya dengan penuh kasih sayang. Dia sangat takut ketika mendengar kecelakaan yang menimpanya.


"Nenek senang kamu sudah mendingan. Oh, iya. Tadi di depan, nenek ketemu temen kamu yang ganteng itu. Nenek suruh ke sini aja!" cerita Mak Isah lugas.


"Siapa, nek? Kan yang mau datang itu Laras!" Ara jadi penasaran. Jangan-jangan, dia adalah cowok yang datang membawa bunga kemarin.


"Hai, Ra!" Ternyata benar. Cowok yang dimaksud neneknya adalah Ken!

__ADS_1


"Hai," jawab Ara singkat. Dia tidak tahu harus berkata apa.


Ken melirik bunga yang diberikannya di atas meja, "aku senang bunga-bunga itu masih segar. Niatnya aku mau membawa yang baru!" ujar Ken memulai pembicaraan.


"Waah! Bunganya cantik sekali. Kamu tahu aja kalau Ara suka bunga? Dulu itu, Ara sampe nangis minta bunga punya tetangga. Nenek sampai menanam tapi malah ga berbunga!" Mak Isah mulai dengan celotehnya.


"Nenek ...," bisik Ara yang sedikit malu.


"Gak ngapa, neng. Anak ganteng ini kan sering ke rumah. Malahan nenek sudah menganggap seperti cucu nenek sendiri!"


Sering kerumah? Ara tidak bisa mengingatnya.. Dia mulai heran mengapa cowok itu tidak diingatnya sama sekali.


"Iya, Ra. Gado-gado buatan nenek sangat enak. Aku sampai nambah dua kali!" celetuk Ken.


Ara hanya menatap cowok ganteng itu. Ken, samar Ara mulai mengingat namanya.


"Iya, dong. Gado-gado buatan nenek memang nomor satu. Nih, nenek bawa lagi buat cucu kesayangan nenek!" ujar Mak Isah seraya mengeluarkan box makanan dari dalam kantong plastik.


"Ara mau makan itu, nek. Tapi ..., kata dokter, Ara tidak boleh makan makanan dari luar rumah sakit!" Ara sangat menyesal karena tidak bisa memakan gado-gado buatan neneknya.


"Yah, kalau begitu buat nak ganteng aja, deh!" kata Mak Isah seraya menyodorkan box makanan itu kepada Ken.


Tentu saja Ken sangat senang menerimanya, "terima kasih, nek. Ken memang sangat kangen makan gado-gado nenek!"


Dengan lahap, Ken segera menyantap gado-gado itu.


"Kamu pinter nyari temen seganteng dan sebaik anak itu, Ra. Kamu harus menjaganya baik-baik agar gak pergi!" celetuk Mak Isah.


Muka Ara sedikit merah karena malu begitu mendengar perkataan neneknya. Sementara Ken hanya tersenyum mendengarnya.


Mata Ara menjadi buram, kemudian jelas kembali. Dia teringat sosok cowok yang selalu menolongnya di kampus. Cowok itu sangat tampan yang merupakan idola kampus. Wajahnya sama dengan cowok yang ada di hadapannya. Dia adalah Ken!


*****

__ADS_1


__ADS_2