
Aldy sangat terkejut ketika melihat Ara pulang bersama Ken. Hatinya terasa panas karena dulu Ken pergi tanpa kabar apapun. Dia masih ingat ketika Ara menangis seharian sebelum operasi karena Ken menghilang begitu aja.
"Kak Aldy ..., lihatlah, kak. Ada teman Ara, namanya Laras. Kalau ini dokter Ken. Tadi kami bertemu di kampus!" cerita Ara ketika melihat kakaknya di depan rumah.
"Hai, Laras. Apa kabarmu?" tanya Aldy tanpa menyapa Ken.
Ken tahu apa yang dipikirkan Aldy. Kepergiannya dulu ada sebabnya. Itu karena Ara sudah sembuh dan gak mau melihatnya menderita lagi.
"Kabar baik, kak. Maaf gak pernah kesini. Saya ikut magang lagi dan kuliah juga. Sebentar lagi saya akan lulus!" jawab Laras datar. Dia juga merasa canggung karena teringat perkataan Aldy dulu.
"Ara juga mau kuliah dan jadi dokter seperti Pak dokter Ken!" cetus Ara. Sebenarnya, Ara heran kakaknya sudah mengenal Laras. Sepertinya juga dengan neneknya.
"Hhmm, syukurlah kamu sudah menjadi dokter, Ken. Kamu pasti mempunyai banyak pasien di tempatmu bekerja sehingga gak pernah kelihatan disini?" tanya Aldy sedikit menyindir.
Ara bingung ternyata kakaknya juga mengenal dokter Ken. Apa mereka semua dulu berhubungan?
"Kakak kenal Pak dokter Ken juga? Oh, iya. Ara lupa. Dulu kan Pak dokter sering ke sini. Pasti kakak juga mengenalnya, kan!"
Aldy terkejut mendengar penuturan Ara. Darimana Ara tahu soal Ken pernah ke rumahnya. Jangan-jangan, ingatan Ara sudah kembali!
"Iya, kak. Tapi saya sudah memutuskan untuk bekerja di sekolah tempat Ara belajar!" sahut Ken tanpa keraguan.
__ADS_1
Aldy diam saja. Dia gak menyangka Ken kembali lagi. Dia takut kondisi Ara akan terpengaruh. Tapi setelah tiga tahun berlalu, Aldy berharap ingatan Ara kembali apapun yang akan terjadi.
"Apakah etis datang dan pergi tiba-tiba? Semua orang pasti memikirkan sesuatu telah terjadi!" ucap Aldy sedikit satir.
Ken gak mengatakan apapun. Dia tahu kesalahannya dan berjanji gak akan mengulanginya lagi.
"Sudah-sudah! Ayo, masuk semuanya. Nanti nenek bikinin gado-gado!" seru Mak Isah ketika melihat anak-anak itu sedikit panas. Dia juga pernah muda dan merasakan hidup sampai setua sekarang.
Ara segera mengajak Laras ke kamarnya. Banyak yang ingin ditanyakan. Perlahan kabut tebal didalam kepalanya menghilang. Ara mulai mengingat mulai dari awal lagi.
Sementara Ken sudah bersiap untuk pergi. Dia sudah selesai menyantap gado-gado neneknya Ara meski sikap Aldy membuatnya gak nyaman.
Aldy memang selalu memelototi Ken ketika sedang makan. Tatapannya sangat tajam seakan siap menikam Ken kapan aja.
"Jangan sungkan datang lagi ya, Nak Ken eeh Pak dokter!" sahut Mak Isah yang selalu lupa kalau Ken sudah menjadi dokter.
"Panggil Ken aja juga gak apa-apa, nek. Maaf saya permisi dulu. Salam buat Ara, ya!"
Ken segera melangkah menuju ke pintu keluar.
"Tunggu, aku ikut!" cetus Aldy tiba-tiba.
__ADS_1
Ken sangat terkejut mendengar perkataan Aldy. Sepertinya ada sesuatu yang belum selesai diantara mereka.
"Baik, kak!" jawab Ken tanpa menanyakan hal lain lagi.
Ara gak tahu kalau Ken dan kakaknya sudah pergi. Dia asyik mengobrol dengan Laras di kamarnya. Laras menyisir rambut Ara yang berantakan. Sikap Ara memang seperti anak kecil yang gak bisa merapikan rambutnya sendiri.
"Ayo, Kak Laras. Katakan apa yang terjadi kenapa Ara seperti sekarang ini. Apakah Ara dulu berbeda? Kenapa ya, Ara bisa gak ingat apapun?" tanya Ara panjang lebar. Sebenarnya banyak yang ingin ia tanyakan. Tapi itu saja sudah cukup untuk sebuah awal.
Laras gak tahu harus mulai dari mana. Dulu setelah kecelakaan, ingatan Ara penah kembali. Namin setelahnya malah gak ingat apapun.
"Darimana ya? Sebenarnya dulu aku pernah jahat sama kamu, Ra. Aku salah mengikuti teman, namanya Janet. Aku selalu melakukan perbuatan jahatnya padamu. Aku seperti pelayan bukan seperti teman. Makanya aku selalu dipanggil Upik Abu!" ungkap Laras. Kini, dia gak takut lagi untuk mengungkapkan segalanya.
"Janet? Siapa dia?" tanya Ara penasaran. Dia baru pertama kali mendengar nama itu.
Kini, Laras malah galau. Dia gak akan mengatakan siapa Janet semuanya. Gadis itu sudah menghancurkan hidup Ara menjadi sekarang ini.
"Dia adalah gadis yang sangat jahat. Gadis manja anak orang berada. Dia juga sangat menyukai Ken! Tapi, Ken menyukai gadis lain." Hanya itu yang bisa diceritakan Laras. Mengatakan nama itu membuat lidah Laras terasa pahit.
Ara terdiam. Dia ingin tahu siapa gadis yang disukai dokter Ken.
"Jadi, Janet itu suka dengan Pak dokter. Lalu, yang disukai Pak dokter siapa? Apa dia lebih cantik dari Janet?" tanya Ara lugu.
__ADS_1
Ken itu hanya menyukai kamu, Ra! Aakh, andai aja kamu tahu.
*****