
Ken menggenggam tangan Ara erat dan tidak akan dilepaskan. Tak peduli para pegawai memerhatikan mereka. Yang mereka lihat bukanlah beauty and the beast tapi agly and the handsome!
Ara benar benar tak bisa menahan malu. Dia seneng sih diperhatikan Ken. Hanya saja banyak pasang mata melihat mereka. Pandangannya sangat sinis dan setajam pisau seakan ingin menusuk Ara.
"Hai, haiii! Kamu datang lagi ya, say. Lihatlah penampilanmu ini sudah kayak dari pedalaman hutan. Hadeh! Aku harus kerja keras lagi, deh!!!"
Jeni langsung histeris melihat kedatangan Ara. Namun, pandangannya berubah ketika melihat Ken.
"Ka-kamu, si ganteng Ken kan? Apa kabar, saaay. Aku kangen bingits deh sama kamu!"
Jeni langsung menepuk bahu Ken dengan manja.
"Hallo, Jeni cantiik!"
Ken ternyata juga mengenal Jeni.
"Hai juga, Pak Jeni!"
Ara juga menegur Jeni tapi malah dipelototin.
"Heh! Kenapa kamu memegang tangan gadis hutan ini, Ken? Lihatlah penampilannya!"
Ken tertawa kecil. Dia memang sering mengobrol dengan Jeni ketika masih jadi model SMA. Ken lebih fokus kuliah di kedokteran dan jarang ke tempat itu lagi.
"Jangan begitu, Jeni cantiik. Ini adalah pacarku!"
"Apa? Pacar?!"
Jeni tambah histeris.
"Iya, Ara adalah pacarku. Kamu bikin dia tambah cantik, ya!"
"Haduh! Jemariku sampai keriting, dweeeh!"
Jeni semakin senewen. Ara tidak mengambil hati dengan sikap dan perkataan Jeni yang setajam silet. Dia malah senang karena kehadiran Jeni membuat banyak senyuman.
"Aku titip pacarku ya! Aku mau ke atas dulu. Om Bahtiar sedang menungguku! Daah, sayang," ujar Ken sebelum pergi dan memberikan ciuman jauh untuk Ara.
"Hueeek!"
Jeni merasa perutnya mual.
__ADS_1
"Ada apa, pak? Apa bapak sakit?" tanya Ara yang cemas.
"Jangan panggil aku seperti ituu! Aku bukan bapak bapak, tahuu!!!
Teriakan Jeni membahana ke seluruh ruangan bahkan keseluruh cakrawala.
*****
"Terima kasih, pak!"
Upik sudah sampai di lokasi tempat magangnya. Andre berhenti di depan gerbang.
"Tunggu! Jangan panggil aku bapak. Panggil kakak atau mas aja, ya!"
"Baik, mas eeh kak!"
Andre tersenyum melihat sikap Upik yang sangat kaku.
"Oke! Aku pergi dulu ya, Laras!"
Upik tertegun mendengar ucapan Andre yang sudah berlalu dengan sepeda motornya. Andre sempat memanggil Upik dengan nama aslinya yaitu Laras.
Sudah lama Upik tidak mendengar seseorang memanggil nama aslinya. Dulu Janet memanggilnya Upik dan yang lainpun mengikuti. Bahkan Upik hampir lupa namanya sendiri.
Dari jauh, Ara melambaikan tangan begitu melihat Upik. Penampilan Ara sudah berubah cantik. Dia memang harus stand by jika menjadi reporter pengganti.
"Sorry gue telat, Ra!"
"Gak juga, kok. Elo sudah tahu akan ditempatkan dimana?"
"Belum! Gue disini aja deh sama lo. Jadi aspri lo aja, ya!"
"Upik! Elo itu cantik dan pintar. Kenapa juga mau jadi aspri?!"
Ara sedikit marah dengan perkataan Upik yang selalu merasa rendah diri.
"Mba Laras, dipanggil ke Hrd!"
Seorang wanita yang sedikit lebih tua menghampiri mereka. Upik tidak terbiasa orang lain memanggil namanya sendiri.
"Baik, bu! Gue ke Hrd dulu ya, Ra!"
__ADS_1
"Oke, Laras Cantik!"
"Iikh! Jangan ngeledek aah!"
"Gak kok! Gue suka nama asli loe. Nama yang cantik. Pokoknya mulai sekarang gue gak mau manggil lo upik lagi!"
Upik abu sudah berganti rupa menjadi puteri. Mulai sekarang Laras akan melupakan masa lalunya yang buruk karena nama upik.
*****
"Ken!"
Ken menghentikan langkahnya ketika mendengar seseorang memanggil namanya.
Seorang gadis cantik berdiri di hadapannya dengan senyum merekah.
"Ini aku Lola, Ken!"
Ken tertegun. Gadis cantik itu adalah lola. Mereka sempat dekat ketika sama-sama menjadi model sewaktu SMA. Bahkan, Ken pernah berniat menembak Lola untuk menjadi pacarnya.
"Oh, iya. Apa kabar?" ucap Ken hambar. Merasa lidahnya sedikit kelu melihat Lola ada dihadapannya. Sejujurnya, Lola memang tambah cantik.
"Sudah lama sekali ya, Ken? Hampir tiga tahun kita gak bertemu. Kamu tambah ganteng, Ken!"
Lola langsung menggandeng lengan Ken. Sikapnya gak berubah dan masih merasa Ken adalah miliknya.
"Maaf, Kak Lola! Director memanggil kakak. Sebentar lagi siaran."
Lola dan Ken segera menoleh ke arah suara. Ternyata, Ara sudah berada di sana. Dia kelihatan kurang suka melihat keakraban mereka berdua.
Ken sangat kaget melihat Ara dan segera melepaskan gandengan Lola.
"Ara?"
Lola sedikit penasaran kenapa Ken mengetahui nama anak magang itu.
"Kalian saling kenal?"
Ara diam saja. Ken pasti gak akan mengakui hubungan mereka di depan gadis secantik Lola. Kenapa ya, suasana jadi terasa panas???
"Ara adalah pacarku!"
__ADS_1
Ken! Elo gentlemen bener deeh!
*****