
Laras segera bersembunyi ketika Andre hampir melihatnya. Laras akan mengubur semua perasaannya dalam-dalam. Biarlah, Andre menemukan kebahagiaan meski dengan orang lain.
Meski begitu, tetap saja hati Laras terasa sangat sakit. Apa yang mereka bayangkan dulu hancur seketika. Tidak! Laras gak memerlukan penjelasan. Dia juga berhak untuk bahagia dengan orang lain!
Andre memang sempat melihat bayangan Laras ketika di bandara. Namun, Laura selalu menempel padanya. Dia harus menjelaskan apa yang sudah terjadi. Soal tuntutan pekerjaan dan soal Laura.
"Jadi, elo sudah bertemu Laras, Dre?" tanya Aldy ketika Andre mengajaknya bertemu. Padahal baru saja beberapa jam pulang ke rumahnya.
"Sepertinya gue melihatnya di bandara. Ketika melihat Tv ternyata benar. Dia sedang siaran ketika gue sampai. Gue gak tahu harus bagaimana lagi, Al. Setahun yang lalu, gue terpaksa menikahi Laura karena dia adalah puteri atasan gue. Ayahnya sangat baik bahkan mengangkat gue menjadi manager!" jelas Andre dengan wajah murung. Seharusnya dia bahagia karena karirnya menanjak dengan cepat. Tetapi impiannya bersama Laras harus kandas.
"Elo harusnya menjelaskannya sama Laras. Dre. Kasihan dia menunggu lo. Beberapa kali Laras menanyakan elo tapi gue juga gak berhak mengatakan apapun!" Aldy benar-benar kasihan dengan Laras. Sebenarnya, Laras selalu setia menunggu Andre.
"Iya, Al. Bisa kan elo mempertemukan gue sama Laras. Sekarang gue gak punya nomor hapenya!" pinta Andre.
"Sorry, Dre. Sebaiknya elo yang menghubungi Laras langsung. Nanti gue kasih nomor hapenya!" Aldy merasa gak mau menjadi jembatan bagi Andre dan Laras. Mereka sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri.
"Oke, Al. Mungkin besok gue akan menemui Laras!"
Andre tetap akan menjelaskan tentang pernikahannya kepada Laras. Situasinya sangat mendesak dan Andre terpaksa menikahi Laura. Perasaannya kepada Laras tetap sama. Bahkan, jika Laras masih mencintainya, Andre tetap akan bersamanya.
*****
Ara senang Ken selalu mendampinginya mulai dari awal lagi. Bahkan, Ara diajak mengajar anak-anak berkebutuhan khusus di sebuah sekolah luar biasa.
"Apa kabarmu, Ra? Apa kamu baik-baik aja?" tanya Jessica yang menyambut Ara dengan senyuman manis.
Ara diam saja. Dia seperti mengenali gadis cantik berwajah bule itu dan bahasa indonesianya sangat lancar.
"Ini adalah Jessica, Ra. Dia adalah sepupuku dan pernah mengajarmu di sekolah luar biasa di rumah sakit!" jelas Ken yang melihat Ara kebingungan.
Wajah Ara langsung berubah begitu mendengar perjelasan Ken.
"Benarkah? Jadi Kak Jessica adalah guruku!" cetus Ara yang kadang masih keluar lugunya.
__ADS_1
Jessica tertawa melihat ekspresi Ara, "sepertinya sekarang sudah jadi mantan gurumu, Ra!"
"Bagaimana kalau kamu juga ikut mengajar, Ra! Kamu bisa mengajar mereka menyanyi. Dulu kamu kan suka bersenandung ketika di taman kampus!" ujar Ken mengingatkan Ara.
"Aakh! Suaraku gak bagus, kak. Itukan cuma bersenandung!" jawab Ara merendah.
"Yakin deh, Ra. Suara kamu itu bagus cuma kamu kurang pede. Nyatanya aku aja sampai terpesona padamu sampai sekarang!" bisik Ken.
Ara melotot. Ken malah cengengesan.
"Kalian ngomong apaan sih?" tanya Jessica kepo.
"Ga tau tuh, Kak!" jawab ara pura-pura. Sementara Ken tersenyum puas. Dia sudah mengungkapkan perasaannya meski hanya spontan.
Ternyata, suara Ara memang cukup bagus. Bahkan dia dengan mudah berbaur dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Ken semakin terpesona pada Ara dan jatuh cinta padanya berkali-kali.
Namun ada yang dikhawatirkan Ken. Dia harus menyelesaikan urusannya di rumah sakit tempatnya bekerja. Berarti dia harus berpisah dengan Ara untuk sementara waktu. Kali ini jauh lebih berat untuk meninggalkannya.
"Sebenarnya ada yang harus aku katakan, Ra!" ungkap Ken ketika sudah sampai di depan rumah Ara.
"Ada apa, Ken?" tanyanya sedikit cemas. Wajah Ken nampak murung.
"Aku harus pergi, Ra. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku sebelum berhenti. Mungkin sebulan ini aku baru kembali lagi," jelas Ken. Tenggorokannya terasa kering.
"Sebulan?"
"Iya, Ra. Aku kan gak bisa berhenti begitu aja. Sebenarnya sekarang ini aku hanya mengambil cuti. Aku harap kamu mau menungguku," ucap Ken dengan penuh harap.
Ara menatap Ken lekat. Dia baru saja menemukan dirinya sendiri dan Ken selalu ada di sampingnya. Sekarang Ara harus bisa melangkah sendirian. Namun, dia juga gak mau Ken khawatir.
"Ya udah, Ken. Aku gak apa-apa, kok. Asal ...."
"Asal apa, Ra?"
__ADS_1
"Asal jangan menatap gadis lain!" lanjut Ara dengan wajah serius.
Ken menarik napas panjang. Permintaan Ara sangat berat.
"Maaf, Ra. Permintaanmu itu gak bisa aku lakukan. Kau tahu kan aku adalah seorang dokter. Bagaimana aku gak menatap pasienku? Aku kan selalu melihat mata mereka ketika aku bekerja!" jawab Ken setengah bercanda.
"Ken! Sudah aah, aku pergi." Ara kembali membuka pintu mobil dan berniat untuk keluar.
"Tunggu, Ra!"
"Ada apa lagi sih, Ken. Sudah pergi aja. Aku gak apa-apa, kok!" ucap Ara dengan suara sedikit tinggi.
Ken meraih tangan Ara dan menggenggamnya erat, "kamu harus percaya hatiku hanya untukmu, Ra!"
Tiba-tiba, Ken mengeluarkan sebuah cincin dari saku bajunya kemudian menyematkannya di jari manis Ara.
"Cincin ini penanda kalau kamu adalah milikku. Aku juga akan memakai cincin yang sama dan gak akan aku lepaskan dimanapun aku berada!"
Ken juga mengeluarkan cincin untuknya dan menyodorkannya kepada Ara. Sementara Ara masih belum sadar. Dia merasa sedang bermimpi.
Ketika sadar, Ara mengambil cincin yang disodorkan Ken dan memakaikan di jari manisnya. Sekarang mereka memakai cincin yang sama.
"Cincin ini sangat indah, Ken. Seperti cincin pertunangan aja! Seharusnya kamu mencari cincin yang lebih sederhana!" ungkap Ara seraya memerhatikan cincin dijarinya yang kelihatan mewah.
"Memang ini cincin pertunangan!" celetuk Ken.
Ara kembali bengong. Apa dia salah dengar ya?
"Ci-cincin pertunangan? Maksud kamu apa, Ken?" tanyanya yang belum mengerti maksud Ken.
"Masa sih kamu gak ngerti, Ra. Berarti sekarang ini, kita juga sudah bertunangan. Awas kamu dekat dengan cowok lain, ya!" ancam Ken.
"Ken ...." Ara gak tahu harus berkata apa. Berarti hatinya dan Ken sudah menjadi satu. Ara gak akan khawatir lagi meski Ken akan pergi.
__ADS_1
*****