Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
KENANGAN YANG TIDAK BISA TERLUPAKAN #2


__ADS_3

Raffi sedikit kecewa karena Ara belum bisa mengingat soal boneka jari yang diberikannya dahulu. Dia hanya ingin memastikan jika Ara adalah orang yang dicarinya.


Dahulu, Raffi sempat terpuruk dan tidak mempunyai gairah hidup. Kehilangan ibunya sudah cukup berat kemudian harus kehilangan ayahnya juga.


Harapan itu hadir ketika Raffi bertemu dengan anak perempuan yang bernama Ara. Dia bertekad akan mencarinya sampai ketemu. Bahkan Raffi tidak berniat mencari pasangan dan memilih untuk tetap menjomblo.


Aaah! Seandainya pertemuan dengan Ara lebih cepat. Raffi pasti akan menjadikan Ara sebagai istrinya.


"Dokter Raffi?"


Raffi sangat terkejut ketika seseorang memanggilnya. Dia pun segera mendongak.


"Dokter Ratna?" Ternyata dokter Ratna sudah berdiri di hadapannya.


Dokter Ratna hanya tersenyum melihat ekspresi dokter Raffi.


"Jarang sekali seorang dokter sampai melamun ketika sedang bertugas. Ada dua hal yang terjadi. Dia sedang kelelahan atau sedang jatuh cinta!" sergap dokter Ratna.


Wajah Raffi langsung memerah, "aaah! Tidak, dok. Saya hanya sedang memikirkan sesuatu saja, kok!" jawabnya berkilah.


"Apa yang sedang dokter pikirkan adalah seorang wanita?" tanya dokter Ratna yang belum berhenti menggoda.


"Eeem, bener juga sih. Tapi, dia hanya pasien saja, kok!" jawab Raffi gelagapan.


Dokter Ratna tertawa kecil. Dokter Raffi memang sering digoda dokter senior. Itu karena usianya yang sudah hampir kepala tiga namun belum juga beristri.


"Oh, begitu. Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan. Soal pasien dokter yang bernama Arabella. Bagaimana keadaannya, dok?"

__ADS_1


Akhirnya dokter Ratna berhenti menggoda dokter Raffi. Dia teringat permintaan Ken untuk menemui Ara.


"Oh, Ara ya, dok. Saya baru saja menemuinya. Keadaannya sangat baik meski kemampuan mengingatnya belum kembali sepenuhnya. Mungkin dua hari lagi sudah bisa pulang," jelang dokter Raffi dengan mata berbinar. Entah mengapa jika teringat Ara, hatinya merasa senang.


"Eeem, sepertinya dokter sangat senang setelah menemui Ara?" tanya dokter Ratna lagi sambil bercanda.


Raffi langsung gelagapan, "tentu saja saya senang, dok. Siapapun pasien saya jika keadaannya lebih baik pasti saya juga ikut senang!" Raffi berusaha untuk tenang. Dia tahu kalau Ken adalah pacar Ara.


Dokter Ratna hanya tersenyum. Ekspresi dokter Raffi sangat mirip dengan Ken jika sedang membicarakan Ara. Jangan-jangan, dokter Raffi juga sedang jatuh cinta kepada Ara!


"Alhamdulillah. Baiklah, dok. Saya akan menemui Ara sekarang juga. Terima kasih, dok! Maaf aku suka menggoda dokter!" katanya lembut.


"Tidak apa-apa, dok. Sudah nasib saya menjadi jomblo jadi banyak yang menggoda!" Dokter Raffi hanya bisa menertawakan dirinya sendiri.


Pembicaraan itu pun berakhir. Raffi kembali lagi ke ruang prakteknya. Hatinya masih menyisakan tanda tanya. Apa benar yang dikatakan dokter Ratna kalau dirinya sedang jatuh cinta? Gadis mana yang bisa meluluhkan hatinya? Apakah Ara???


*****


Wajah Ken langsung cerah, "mam, akhirnya kesini juga. Ini mamiku yang paling aku sayang, Ra!" ucap Ken saling mengenalkan Ara dan maminya.


"Bagaimana keadaanmu, Ara? Aku sangat senang bisa bertemu denganmu," sapa Mami Ken dengan suaranya yang selalu lembut.


Ara langsung bangkit dari tidurnya, "alhamdulillah baik, tante. Saya juga senang bertemu tante. Maaf jika kondisi saya seperti ini!" jawabnya sopan.


"Tidak, jangan bangun. Kamu berbaring sajalah. Lagipula jangan panggil tante, mami saja seperti Ken, ya!" ujar Mami Ken sambil membetulkan posisi duduk Ara.


"Nah, begini kan enak," ucap Mami Ken lagi.

__ADS_1


"Terima kasih tante. Eeem, mami!' sahut Ara sedikit ragu. Dia tidak terbiasa memanggil orang lain dengan sebutan ibu ataupun mami.


"Nah! Mami sangat suka dengan panggilan itu. Maafkan Ken ya, Ra. Dia itu uring-uringan terus sejak kamu kecelakaan. Jangan heran kalau dia langsung nempel kayak perangko setelah kamu sadar!" ungkap Mami Ken.


"Mam!" Wajah Ken langsung merah.


"Eeeh, emang bener kok! Iya kan, ra? Tapi, mami sempat dengar kalau kamu gak ingat sama Ken. Mungkin, aku sedikit jenuh dengannya, ya?" tanya Mami Ken sedikit menggoda puteranya.


"Mami! Ara yang ingat sendiri, kok. Itu berarti, di dalam pikiran Ara hanya ada Ken, mih!" Ken bersikeras.


Mami Ken hanya tertawa melihat Ken kayak kebakaran jenggot begitu. Tanpa sadar Ara pun ikut menertawakan Ken.


"Kamu juga, Ra! Apa aku aja yang ngerasa seperti badut?" Ken cemberut.


"Maafkan Ken ya, Ra. Dia memang suka merajuk seperti itu!" ungkap Mami Ken lagi.


Ara tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi Ken. Memang ingatan tentang Ken tidak banyak. Tapi, Ara sangat yakin kalau dirinya sangat mencintainya.


Mami Ken teringat janjinya kepada laki-laki berwajah cacat yang ternyata adalah Satrio, ayahnya Ara yang masih hidup. Dia akan membuat Janet mengakui kesalahannya karena sudah menabrak Ara.


Masa lalu memang tidak bisa terulang lagi. Tapi, Mami Ken masih bisa memperbaiki peristiwa yang baru saja terjadi. Apalagi, kehadiran Ara sangat berarti bagi hidup puteranya.


"Jangan katakan siapapun kalau aku masih hidup! Tidak juga dengan suamimu. Masih banyak yang harus aku lakukan. Tolong jagalah puteriku, aku tidak bisa menjaganya karena kondisiku seperti ini!"


Permintaan Satrio masih terngiang di telinga Ratna. Dia hanya bisa memperbaiki kesalahan yang pernah diperbuatnya dahulu meski tidak bisa mengubah apapun.


*****

__ADS_1


__ADS_2