Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
SIAPAKAH DIA? #1


__ADS_3

Ara sangat senang sekali karena sudah bisa masuk sekolah. Dia mengira kalau sekolah itu adalah tempat bermain. Makanya ketika neneknya memasukan buku dan pensil ke dalam tasnya, Ara jadi bingung.


"Apa itu, nek. Mengapa barang-barang itu dimasukan ke tas Ara?" tanyanya spontan.


Mak Isah tersenyum meski gak tahu bagaimana menjelaskannya kepada Ara.


"Kata Bu dokter harus bawa buku dan pensil. Selain bermain nanti juga bisa belajar!" jawab Mak Isah sebisanya.


Ara langsung cemberut, "katanya sekolah itu hanya bermain aja. Kalau begitu Ara gak jadi ikut!" rajuknya.


Mak isah terdiam. Mencari cara lain agak Ara mau ke sekolah. Kemudian pandangannya tertuju kepada boneka yang diberikan dokter Raffi.


"Lihatlah, boneka itu. Dia juga pernah sekolah, makanya memakai jubah sarjana. Pak dokter pasti sangat senang kalau Ara juga memakai jubah yang sama!" jelas Mak isah sesederhana mungkin.


Raut muka Ara langsung berubah ketika mendengar nama dokter Raffi.


"Iya deh, Ara mau sekolah, nek. Kakak Raffi pasti senang kalau Ara lulus nanti!"


"Kakak? Pak dokter, Ara. Gak boleh ngomong kayak gitu!' tegur Mak Isah yang memanggil dokter Raffi dengan sebutan kakak.


"Eeh, Kak Raffi yang nyuruh kemarin kok, nek. Tapi, kalau di rumahsakit, Ara boleh memanggilnya Pak dokter!" terang Ara sambil memeluk boneka beruang yang memakai jubah sarjana.


Mak Isah kehabisan kata-kata. Dia agak heran dengan sikap dokter Raffi selama ini yang memperlakukan Ara bukan seperti pasien biasa. Apa dokter Raffi menyukai Ara? Padahal Ara sudah kehilangan ingatannya dan menjadi seorang gadis kecil.


Akhirnya, Ara dan neneknya sampai juga di rumah sakit. Sekolah Ara memang ada di salah satu bangsal. Yang bersekolah disana adalah kebanyakan pasien rumah sakit.


"Kamu tunggu disini sebentar ya, Ra. Nenek mau memberikan gado-gado pesenan Ibu dokter!"


"Ara aja, nek. Ara tahu kok jalannya!" seru Ara yang langsung menyambar bungkusan berisi gado-gado di tangan neneknya.

__ADS_1


"Haduh, Ara! Jangan lari," teriak Mak Isah. Tapi Ara sudah gak kelihatan. Mak Isah pun segera menyusulnya ke kantor dokter Ratna.


Di sudut lain, Ken baru saja sampai. Dia datang bersama Jessica. Sudah tiga tahun berlalu tapi rumah sakit itu tidak banyak berubah. Kenangan terakhir bersama Ara kembali terbayang. Ken bukan tidak merindukannya. Dia hanya berharap, Ara akan bahagia meski tanpa dirinya.


"Kamu jalan duluan aja, Jes. Aku mau bertemu mami!" ucap Ken sebelum naik lift.


"Aku juga mau bertemu tante , Ken!" cetus Jessica.


"Nanti kamu terlambat! Sebentar lagi kelasmu akan dimulai, kan?"


Jessica melirik jam tangannya. Yang dikatakan Ken memang benar. Sudah hampir jam sembilan. Ini adalah hari pertamanya mengajar di sekolah luar biasa di rumah sakit.


"Okelah, Ken. Setelah selesai saja, aku akan menemui Tante Ratna!" sahut Jessica.


Ken mengangguk. Mereka pun berpisah. Sudah tiga hari dia pulang namun gak ke rumahnya. Bahkan maminya juga gak tahu soal kepulangannya.


Baru saja, Ken mau membuka pintu, seorang gadis muncul dari dalam. Spontan mereka pun bertabrakan. Gadis itu pun jatuh ke lantai sementara Ken masih berdiri.


Ken memerhatikan gadis aneh itu. Dia kelihatan sudah dewasa tapi gaya pakaiannya seperti anak kecil. Wajah gadis itu gak kelihatan karena Ken ada di belakangnya.


"Kamu gak knapa-napa?" tanya Ken yang akan membantu gadis itu berdiri.


Tiba-tiba, gadis itu menangis cukup kencang. Ken sangat terkejut dan membatalkan niatnya. Suara tangis gadis itu seperti anak kecil. Membuat suasana sunyi menjadi sedikit riuh.


Seorang nenek muncul dan langsung membantu gadis aneh itu.


"Maafkan cucu saya, tuan!" ujarnya sambil membawa gadis aneh yang masih saja menangis.


"Apa yang terjadi? Ken?" Dokter Ratna muncul. Dia sangat terkejut melihat Ken. Anehnya, dia tidak mengenali Ara!

__ADS_1


"Iya, mih. Maaf baru bisa ke sini. Jessica ngajak jalan-jalan dulu kemarin. Apa gadis aneh itu pasien mamih?"


"I-iya, dia pasien mamih. Masuklah ke dalam!" jawab dokter Ratna sedikit gugup. Belum waktunya memberitahukan soal Ara kepada Ken.


Ken masih berdiri di tempatnya semula. Dia masih mengenali nenek yang tadi dilihatnya. Dia adalah neneknya Ara. Lalu gadis aneh itu. Siapakah gadis itu? Apakah dia Ara?


"Apa kamu mau pindah bekerja di sini, Ken?" tanya dokter Ratna.


Ken masih belum konsen. Dia harus memastikan sesuatu.


"Siapa gadis aneh itu, mih?" Ken malah balik bertanya.


Dokter Ratna diam sesaat. Sepertinya Ken harus tahu yang sebenarnya.


"Apa gadis itu Ara, mih? Karena tadi ada neneknya Ara!" tanya Ken memastikan.


"Baiklah, Ken. Mami akan menceritakan soal Ara. Setelah operasi itu, Ara masih harus operasi sampai beberapa kali. Kondisinya sangat mengkhawatirkan!" cerita Mami ken.


Ken gemetaran mendengarnya. Dia tidak tahu kondisi Ara separah itu dan mengira kalau operasi Ara waktu itu adalah yang terakhir.


"Mengapa Mami gak cerita?" tanya Ken dengan suara bergetar.


Mami Ken merasa bersalah melihat Ken seperti itu, "saat itu kamu sibuk skripsi dan mami takut kalau kamu gak konsen. Maafkan mami, Ken. Semuanya itu untuk kebaikan kamu juga!"


"Jadi, gadis yang tadi. Dia adalah Ara, mih?"


Mami Ken mengangguk. Ken gak mau menunggu lama. Dia pun segera berdiri dan melangkah pergi. Dia harus bertemu Ara secepatnya!


*****

__ADS_1


__ADS_2