
Aldy hanya melihat Ara dan Ken yang berpegangan tangan dari jendela kamarnya. Dia tidak bisa memaksa jika Ara sudah menentukan pilihan untuk tetap bersama Ken.
Tiba-tiba, pandangannya melihat seseorang sedang memerhatikan Ara juga. Orang itu sangat aneh, dia memakai jaket dan topi juga masker sehingga wajahnya tidak terlihat jelas. Ciri-cirinya persis seperti yang diceritakan Ara!
Orang aneh itu terus memerhatikan Ara yang masih serius mengobrol dengan Ken. Aldy jadi galau. Apakah harus memberitahukan Ara soal keberadaan orang asing itu?
"Ya sudah, Ken. Pulanglah! Besok juga kita akan bertemu lagi di kampus," ucap Ara setelah beberapa lama mereka hanya berpegangan tangan.
"Aku malas pulang, Ra! Aku menginap saja di sini, ya?" tanya Ken sedikit meledek.
"Ken! Kamu mau ya dicepol Kak Aldy?"
"Aakh, cuman dicepol sih kecil, Ra!"
"Yee! Kak Aldy itu sudah punya ban hitam loh, Ken!" Ara malah menakut-nakuti Ken.
"Aku malah punya ban serep!"
"Ken!?"
Ken sangat senang jika sudah membuat Ara kesal dan memasang muka cemberut. Itulah yang sangat dirindukan Ken.
"Okelah! Aku pulang dulu. Jadi, lepasin tanganku!"
"Heeeh! Kamu kok yang pegang tanganku," sahut Ara sewot.
"Iya-iya! Besok pagi aku telpon ya. Kita ke kampus bareng. Lagipula ada jadwal duta kampus untuk kita!"
"Aah! Siapa sih yang sudah memilihku jadi duta kampus. Aku males cipika cipiki di depan orang banyak!" celetuk Ara.
__ADS_1
"Tenanglah! Kan ada aku."
"Justru ada kamu, penggemarmu itu suka melihatku sangat tajam setajam silet! Aku takut kan, Ken."
"Ya sudah! Nanti aku akan memegang tanganmu terus biar kamu gak takut lagi."
"Yeee! Bisa-bisa mereka malah akan membunuhku. Sudah, pulang sana!"
Ara terpaksa mendorong Ken agar mau pulang. Dia juga takut kalau kakak dan neneknya bangun dan melihat mereka.
"Iya, Sayang! Selamat tidur," ucap Ken seraya memberikan kissbye.
Ara tak kuat melihat sikap Ken seperti itu. Siapa yang gak klepek-klepek dengan cowok seganteng Ken. Ara gak bisa berpikir bagaimana jika mereka berpisah.
Aldy melihat orang aneh itu masih berdiri di tempatnya semula meski Ara sudah masuk. Bahkan Aldy sengaja membuka tirai jendelanya lebar-lebar.
Aldy sangat penasaran dengan orang aneh itu, bahkan dia tahu rumah mereka. Aldy menebak kalau orang aneh itu mengenal keluarganya dengan sangat baik.
Malam sebentar lagi akan berakhir. Aldy terpaksa memejamkan mata karena besok harus kerja lagi. Namun bayangan orang aneh itu masih saja terus terbayang.
"Yang aku tahu, ayahmu masih hidup meski terluka bakar. Aku sangat terkejut ketika mengetahui kalau dia sudah meninggal!"
ucapan polisi tua itu kembali terngiang di telinga Aldy. Apa mungkin, ayahnya masih hidup?
*****
Januar sudah memutuskan untuk keluar dari pimpinan Universitas Nusantara. Dia sangat tahu, cepat atau lambat kasus tanah akan diketahui banyak orang.
"Papi berniat akan keluar dari pimpinan kampus, Ken!" ucap Januar ketika sarapan di meja makan.
__ADS_1
"Keluar? Memangnya kenapa, pih?"
Ken sangat terkejut dengan keputusan papinya yang tiba-tiba. Begitu juga maminya yang baru mendengarnya juga.
"Ada apa, pih? Mami sangat tahu kampus itu adalah hidup papih. Papih yang membangunnya dari awal!" tanya Mami Ken penasaran.
"Ada masalah besar yang akan terjadi. Meskipun sudah keluar, papih akan bertanggung jawab!"
Januar sudah yakin dengan keputusannya. Dia sudah tidak mau menjadi kaki tangan Rony.
"Ya, sudah. Mami akan selalu mendukung papih. Oh iya, Ken. Kata Janet kamu sudah punya pacar. Jadi Ara itu pacar kamu, ya?" celetuk Mami Ken mencoba mencairkan suasana.
Januar malah kaget mendengar ucapan istrinya.
"Ara? Apa dia puterinya Satria?"
"Iya, pih. Pantas saja Ken menggebu-gebu kalau cerita soal Ken. Mami juga mau bertemu dengannya. Waktu kecil kalian masih suka berkumpul. Tapi setelah orang tuanya meninggal, mami gak mendengar kabarnya lagi!"
"Benarkah, mih? Apa mami sama papi kenal dengan orang tuanya Ara?"
"Tentu saja kami kenal, Ken. Orang tua Ara juga pendiri kampus. Sayang, kecelakaan itu sudah merenggut nyawa mereka. Ajaklah mampir ke rumah sakit. Siang nanti, mami ga ada jadwal pasien. Kita bisa makan siang di luar!"
"Aah, Ken sayang bener deh sama mami!"
Ken segera menghampiri maminya dan memeluknya erat.
Sementara Januar hanya tertegun. Ternyata takdir sudah membuat rencana sejak awal. Dia hanya terlambat mengetahuinya.
*****
__ADS_1