
Laras kerumah Ara secepatnya begitu mendengar kabar kalau Ara hampir tenggelam. Namun ada lagi kabar yang lebih mengejutkan. Ternyata kesehatan mental Ara sudah kembali normal.
"Araaa!" teriak Laras begitu Ara ada di hadapannya.
"Laraaas! Apa kabarmu? Sekarang kamu tambah cantik, deh!" Ara juga sangat antusias dengan sahabatnya itu. Gaya bicaranya sudah bukan seperti anak kecil lagi.
Laras gak bisa membendung rasa haru dan memeluk Ara erat.
"A-aku takut sekali begitu mendengar kamu kecelakaan lagi. Aku baru aja dekat denganmu setelah sekian lama. Aku takut kamu gak mengenaliku lagi!" Laras mulai terisak.
Ara memang gak ingat kejadian sebelumnya tapi ingat kalau Laras adalah sahabat baiknya.
"Aku mau kuliah lagi, Ras!" celetuk Ara.
Laras terkejut mendengarnya dan langsung melepaskan pelukannya.
"Iya, Ra. Kamu harus menyelesaikan kuliahmu yang tertunda. Aku juga sedang menyiapkan skripsiku. Aku bekerja lagi di perusahaan tempat kita magang dulu. Mereka menanyakanmu!" cerita Laras dengan penuh antusias.
"Iya, Ras. Aku pengen serius jadi reporter. Apa aku bisa bekerja lagi disana, ya?"
"Pasti bisa, Ra. Aku senang kita bisa sama-sama lagi!" Laras kembali memeluk Ara. Kali ini dengan mata yang sedikit basah.
"Hari ini aku mau ke tempat magang. Apa kamu mau ikut? Setidaknya lihat aja dulu perkembangannya. Sekarang Lola sudah menjadi seorang penyiar berita yang terkenal!"
"Siapa Lola?" tanya Ara yang melupakan sosok Lola. Ada sebagian ingatannya yang belum kembali.
"Dia itu mantannya Ken. Masa kamu lupa sama dia?"
Ara termenung. Mantan Ken? Ara berusaha mengingat bagaimana sosok gadis bernama Lola itu. Namun kepalanya masih terasa pusing.
"Entahlah, Ras. Aku masih belum ingat semuanya. Mungkin kalau sudah disana, aku bisa ingat gadis itu!"
__ADS_1
Laras menatap Ara lekat. Dia jadi sangsi kalau Ara sudah kembali sepenuhnya.
"Sepertinya, nanti aja kamu ikut denganku, Ra. Yang penting kamu harus memulihkan kesehatanmu dulu!"
Ara mengangguk, "iya, Ras. Gimana kalau lusa aja? Kalau besok aku mau ke rumah sakit!" cetus Ara.
"Hhmm, baiklah. Aku sih terserah kamu aja. Tapi jangan dipaksakan. Aku sangat senang kamu sudah kembali seperti dulu!"
Ara tersenyum mengembang mendengar ucapan Laras. Sebenarnya banyak yang harus Ara lakukan. Termasuk menyelesaikan kuliahnya yang tertunda cukup lama.
Laras terpaksa meninggalkan Ara karena harus bekerja. Sebenarnya dia ingin menghabiskan waktu dengan Ara. Namun, pekerjaannya sudah gak bisa ditinggalkan.
"Kamu mau kemana, Ras?"
Laras terkejut ketika melihat Aldy sudah ada di atas motor.
"Mau kerja, kak!" jawab Laras singkat.
"Ya sudah, aku antar. Kebetulan jam mengajarku agak siang!" Aldy langsung menyodorkan sebuah helm. Dia memang sudah menyiapkan helm itu untuk Laras.
"Tempat kerjanya masih yang dulu, kan?"
"Iya, kak!" jawab Laras sambil mengangguk pelan.
"Ya sudah. Peganglah pinggangku erat!"
Laras masih sungkan. Ketika motor sudah mulai jalan, Laras hanya memegang ujung jaket Aldy. Dia jadi teringat dengan Andre.
Andre juga selalu mengingatkan untuk berpegangan padanya. Saat itu, Laras hanya memegang ujung jaketnya seperti sekarang. Hanya saja dengan orang yang berbeda.
Aldy berusaha menenangkan hatinya. Sebenarnya Andre sudah memberi kabar. Dia gak tahu bagaimana perasaan Laras jika tahu yang sebenarnya.
__ADS_1
*****
Menjelang Sore, Ken menemui maminya di ruang praktek rumah sakit. Dia gak bisa lagi menahan diri untuk memberitahukan keadaan Ara.
Tadi siang, maminya sudah berangkat kerja begitu juga Jessica. Ken memutuskan menemui mereka di rumah sakit.
"Ada apa senyam senyum begitu, Ken? Apa ada kabar baik? Apa soal Ara? Bukankah kemarin kamu mengajaknya ke pantai?" Mami Ken menghujani puteranya itu dengan pertanyaan.
Kemarin Ken memang mengabari maminya kalau mengajak Ara ke pantai. Tapi belum mengabari apapun sesudahnya.
"Sebenarnya kemarin terjadi hal buruk, mam. Ara hampir tenggelam di laut. Ken lengah lagi dan kurang memerhatikan Ara!"
Mami Ken langsung terkejut begitu mendengar perkataan Ken, "astaga, Ken! Bagaimana sih kamu ini? Lalu keadaan Ara gimana?"
"Itulah, mam. Setelah siuman, ternyata Ara kembali seperti sebelum kecelakaan. Namun ingatan sesudahnya malah hilang!"
Ada sebabnya Ken menjadi psikolog seperti maminya. Ken hanya ingin menjadi pendamping Ara yang waktu itu kehilangan kepribadiannya.
"Jadi seperti itu, ya. Syukurlah Ara baik-baik aja. Ajaklah Ara kesini biar mami tahu keadaannya sekarang," ujar Mami Ken yang sedikit lega setelah mengetahui keadaan Ara.
"Iya, mam. Biar hari ini Ara istirahat. Besok Ken akan mengajak Ara ke sini! Ara juga ingin meneruskan kuliahnya dan kembali magang sebagai reporter. Ternyata semangat Ara sudah sepenuhnya kembali!"
Mami Ken terdiam. Meskipun keadaan Ara sudah kembali seperti dulu, kenangan buruk mengenai kecelakaan itu juga akan diingatnya. Trauma itu akan tetap ada. Tapi Ken pasti akan mendamping Ara sehingga trauma itu gak begitu terasa.
"Lalu, bagaimana pekerjaanmu di luar negeri. Apa kamu akan pindah kesini seterusnya!"
"Iya, mam. Ken mau tetap mengajar di sekolah luar biasa. Bukan hanya di rumah sakit ini. Masih banyak yang membutuhkan sekolah selain di sini!" jawab Ken tentang rencananya yang akan datang.
"Baguslah, Ken. Ajaklah Jessica. Dia juga seorang guru yang baik!"
"Baik, mam!"
__ADS_1
Ken sudah yakin dengan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Sudah saatnya menentukan masa depannya bersama Ara.
*****