Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
JAGALAH HATIMU #1


__ADS_3

Ken gelisah karena besok harus pergi meninggalkan Ara lagi. Malam ini adalah saat terakhir bersamanya. Tetapi Ara baru saja melewati fase lepas dari trauma. Ken berharap Ara bisa menjaga hatinya ketika dia gak ada.


"Besok aku akan berangkat pagi-pagi, Ra!" ungkap Ken ketika sedang menyetir.


Ara menatap Ken lekat, "jadi, sekarang hari terakhir kita bersama?" tanyanya lirih. Ara merasa baru aja bertemu dengan Ken kemarin.


"Gak terakhir, kok. Aku kan pergi hanya sebentar!"


"Kalo sampe lama, aku pasti nyusul!" cetus Ara.


Wajah Ken langsung semringah, "beneran? Ya sudah, kamu ikut aja sekarang!"


Kali ini, Ara terdiam. Ken ngomong beneran apa bercanda, sih?


"Masih banyak yang belum aku lakukan. Aku mau jadi reporter profesional dan melanjutkan kuliah!"


"Jadi, aku aja yang kesini!"


"Gak usah buru-buru. Aku kan gak kemana-mana," sahut Ara.


"Jagalah hatimu sampai aku kembali, Ra!"


Ara kembali menatap Ken, "kapan aku pernah ke lain hati? Hatiku kan hanya milikmu!"


Duh! Ken langusng melayang, deh.


"Nyatanya cincin yang aku berikan gak kamu pakai. Orang lain mengira kalau kamu itu masih jomblo. Aku aja pakai!" jelas Ken sambil memamerkan cincin di jarinya.


"Iya, iya. Mulai besok aku akan memakainya. Besok kan aku akan ke kantor tempat aku magang dulu!"

__ADS_1


"Hhmm, aku sudah menghubungi Om Bachtiar. Katanya kamu akan dibuatkan program baru!"


Sebenarnya, tadi pagi Ken mampir ke kantor stasiun tv milik omnya. Dia tahu kalau Ara akan ke sana, namun gak ketemu. Ara sudah pergi bersama Laras. Jadi, Ken sekalian bertemu dengan omnya.


"Kapan kamu ketemu om kamu?"


"Ada, deh. Aku harap kalau kamu sudah jadi reporter terkenal, hatimu tetap milikku!"


"Jelas lah, Ken. Ada apa, sih? Jangan-jangan, kamu sendiri yang meragukan!" tebak Ara.


Ken hanya tertawa kecil. Dia sempat melihat Boy yang sudah berbeda. Dia jauh lebih terkenal. Akan tetapi, dia masih menunggu Ara. Ken mendengarnya sendiri ketika Boy bicara dengan Prilly.


"Nih, aku udah dapat nomor hape Ara! Apa sih yang kamu harapkan dari gadis hutan itu?" tanya Prilly yang ternyata meminta nomor hape Ara karena suruhan Boy.


"Dia bukan gadis hutan lagi. Tapi gadis dari kahyangan!" sahut Boy dengan wajah semringah.


Prilly malah tertawa mendengar ucapan Boy.


Boy tersenyum, "Aralah yang membuatku seperti ini. Dulu, aku memang seorang bajingan. Aku ingin berubah karena ingin memilikinya. Ara pasti tahu bagaimana aku sekarang!"


Ken yang sedang berada di balik pintu, gak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Ternyata, selama ini ada laki-laki lain yang mengharapkan cinta Ara!


*****


Ya! Boy sudah menunggu Ara sejak lama. Dia baru tahu kalau Ara kecelakaan dan hilang ingatan.


"Apa? Ara kecelakaan? Apa yang sudah terjadi padanya?" Boy sangat terkejut ketika Prilly menceritakan soal kecelakaan yang menimpa Ara.


"Katanya, gadis hutan itu tertabrak mobil dan gak ingat apa-apa. Ketika sembuh, malah menjadi gadis kecil!"

__ADS_1


"Seharusnya aku tahu dan bisa menjaganya!" Boy sangat menyesali gak ada disamping Ara saat itu.


"Saat kecelakaan itu terjadi, kamu masih seorang bajingan. Apa kamu gak ingat sewaktu polisi menangkapmu karena pertengkaran di salah satu cafe? Saat itulah Ara sedang terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma!" ungkap Prilly sedikit geram. Dulu Boy memang sangat nakal.


Boy menarik napas panjang. Dia sangat ingat bagaimana Ara dulu. Dia gadis sederhana dan satu-satunya yang menolak cintanya. Membuat Boy bertekad untuk berubah.


Siapa Ara? Ya, siapa dia? Boy selalu menanyakan hal yang sama. Nyatanya, dirinya yang dulu sudah terkubur dan kini, Boy bertransformasi menjadi seorang bintang yang lebih bersinar. Boy berharap, Ara bisa menjadi rembulan yang selalu mendampinginya.


*****


"Aach, aku malas pulang. Aku menginap di rumahmu aja, ya!" celetuk Ken ketika sudah sampai di depan rumah Ara.


Ara tertegun. Dia seperti pernah mendengar ucapan Ken barusan.


"Boleh! Tapi kamu harus berhadapan dengan ayah dan Kak Aldy!" sahut Ara.


"Kok gitu? Berarti kalau menikah gak bisa tinggal dirumahmu, dong?" tanya Ken serius.


Ara mengerutkan keningnya, "menikah? Kan kita belum menikah?"


Ken tertawa kecil, "ya, udah. Kalau begitu kita secepatnya menikah aja!"


Ara melotot mendengar ucapan Ken. Dia masih bingung apakah Ken bercanda apa serius!


"Jangan bercanda, Ken. Urusan menikah itu penting! Jangan dibuat lelucon!" ujar Ara sambil manyun. Kali ini, Ara gak suka becandaan Ken. Apalagi itu menyangkut soal pernikahan.


Ken tahu Ara sedikit marah. Dia pun meraih tangan Ara dan menggenggamnya erat, "aku gak bercanda, sayang. Kalau aku pulang, kita akan menikah secepatnya!" ungkap Ken.


"Ken?!" Ara menatap mata Ken lekat. Dia menemukan kejujuran di dalamnya. Tentu aja, kali ini Ara setuju.

__ADS_1


*****


__ADS_2