Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
RAHASIA YANG TERPENDAM #2


__ADS_3

Aldy sudah memutuskan untuk mengembalikan jam tangan yang diberikan Janet. Ara memang benar. Janet akan semakin memanfaatkannya setelah menerima jam tangan itu.


"Al! Ada cewek cantik yang menunggu kamu di depan restoran, tuh!" ucap Tegar, teman sekerja Aldy.


"Siapa? Ara? Tumben dia kesini!"


Aldy menyangka adiknya yang datang.


"Bukan! Biasa, puterinya bos besar!" sahut Tegar sambil cengengesan.


Aldy mengintip dari jendela. Dia melihat Janet tengah berdiri di depan restoran.


Hadeh! Nenek sihir itu datang lagi!!!


Hari itu, Janet datang langsung ke restoran. Beberapa hari ini, Aldy selalu mencari alasan agar tidak datang ke rumahnya. Dia sangat senang karena Aldy memakai jam tangan pemberiannya.


"Aku mau ke pantai! Temanilah aku."


Jiaah! Apalagi yang diinginkan Janet. Aldy mulai pusing lagi.


"Maaf, non. Saya harus kerja. Saya akan dapat masalah jika sering absen!"


Aldy mencari alasan.


"Tenanglah! Restoran tempat kamu kerja kan punya papiku. Mereka gak akan berani memecat kamu!"


Aldy kembali memutar otak agar bisa menghindari permintaan Janet.


"Aku bukan orang seperti itu, nona. Pekerjaan dan kehidupan pribadi gak bisa disatukan!"


Janet tertawa kecil.


"Kakak dan adik sama saja. Ara juga seperti itu. Kalian sama-sama punya harga diri tinggi padahal bukan siapa-siapa!"


Penyakit Janet kambuh.


Muka Aldy merah. Perkataan Janet sangat menusuk hatinya.


"Maaf, nona. Setiap manusia pasti punya harga diri. Kalau gak punya berarti dia bukanlah manusia. Sebaiknya, ini saya kembalikan! Dengan begitu nona gak akan merendahkan orang lagi!"


Aldy membuka jam tangannya dan menyerahkan pada Janet.


"Buat apa dikembalikan! Buang saja jam tangan itu. Pokoknya aku gak akan bergerak dari tempat ini sampai kamu mau menuruti kemauanku!"


Janet melempar jam tangan itu kasar. Seketika jam tangan mewah itu pun hancur berantakan.

__ADS_1


Aldy merasa hatinya sangat ngenes melihat jam tangan mahal itu hancur. Harganya sebanding dengan gajinya setahun. Namun, perlakuan Janet tidak bisa dimaafkan. Dia tidak bisa menghargai orang apalagi barang.


"Terserah! Aku gak peduli."


Aldy nyelonong masuk ke dalam restoran tanpa menoleh lagi.


Janet tetap bertekad meluluhkan hati Aldy. Dia sudah terlanjur jatuh cinta padanya.


*****


Ken senyam senyum melihat Ara keluar dari rumah. Dia selalu merasakan hatinya berbunga-bunga setiap melihat Ara.


"Iih! Kenapa senyum-senyum begitu?"


Ara malah jadi salting melihat senyuman Ken yang terlihat semakin tampan.


"Hari ini kan libur kuliah. Aku sudah minta izin ke kantor om bahtiar agar kamu boleh libur juga," jelas Ken.


"Apa boleh? Gue kan masih magang! Eeh, kenapa juga elo pake bahasa formal?"


Ara sedikit aneh mendengar bahasa Ken lebih sopan.


"Memangnya kenapa? Kamu juga harus lebih sopan dengan aku. Kamu kan lebih muda!" ujar Ken seraya mengusap kepala Ara.


"Cuman muda setahun aja, kok!" sanggah Ara.


"Oke, deh. Terserah kamu aja! Ayolah, kita ke pantai. Mumpung suasana cerah!"


"Hhmm, gue harus izin nenek dulu!"


"Ya, sudah. Aku tunggu di sini, ya!"


Ara mengangguk dan langsung masuk ke dalam rumah yang juga sekaligus warung jualan gado-gado neneknya.


Ken melihat beberapa orang datang dan pergi. Mereka pasti membeli gado-gado. Tiba-tiba, nenek Ara melambaikan tangan ke arahnya.


Ara merasakan dadanya tak berhenti berdebar. Dia sudah berusaha berdandan secantik mungkin. Namun penampilannya masih sama saja.


Akhirnya, Ara memutuskan berpenampilan biasa saja. Dia yakin Ken gak akan komplain.


"Nek, Ara keluar dulu ya!"


Baru saja, Ara berniat pergi. Langkahnya terhenti ketika melihat Ken sudah ada di depannya. Dia sedang menikmati gado-gado yang dibuat neneknya dengan santai.


"Biarin temen kamu itu makan dulu, Ra. Kasihan dia belum sarapan! Iya kan, nak ganteng?" ucap Mak Isah seraya menyodorkan segelas teh hangat.

__ADS_1


Ken hanya mengangguk sambil tersenyum manis.


"Nak ganteng? Emang bener elo belum sarapan, Ken?"


"Bener kok, aku belum pernah sarapan gado-gado!" jawab Ken tanpa melepaskan senyumannya. Dia baru pertama kali merasakan gado-gado buatan nenek Ara.


"Heh! Kalau ngomong sama orang yang sopan dong, Ra. Jangan elo gue kayak gitu. Emangnya nak ganteng ini preman apa?" semprot nenek Ara sambil menepuk pundak cucunya itu.


"Aduuh! Sakit, nek. Emang udah biasa ngomong gitu kok. Iya kan, Ken?"


Ara minta pembelaan Ken.


"Gak, kok. Kamu itu harus bicara lebih sopan dengan orang yang lebih tua. Iya kan, nek?"


Ken malah membela nenek Ara. Membuat Ara sedikit kesal.


"Ken!!!"


Ken tertawa. Kali ini Ken terpaksa tidak membela Ara.


*****


Januar tidak bisa tenang. Kehadiran puterinya Satrio membuat rahasia yang terpendam teringat kembali.


Hallo! Kapan kita bisa bertemu, Ron? Ada yang harus kita bicarakan!


Januar akhirnya bisa menghubungi Rony.


Ada masalah apa? Apa kamu mau membicarakan pertunangan anak kita?


Januar terdiam. Pertunangan Ken dan Janet adalah satu-satunya cara agar bisa bertemu dengan Rony.


Iya! Sebentar lagi Ken lulus dan akan meneruskan pendidikannya keluar negeri. Aku harap mereka bisa bertunangan secepatnya!


Oke! Kita akan bertemu akhir bulan ini!


Januar akhirnya bisa sedikit lebih tenang. Dia harus membicarakan soal Satrio lagi. Tentang kematiannya yang sedikit janggal.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.


"Silakan masuk!" ucap Januar. Wajahnya berubah ketika melihat Hendrik.


"Ada kabar apa?" tanya Januar lagi.


"Ada yang janggal, pak. Rem mobil pak Satrio blong tapi bukan karena kerusakan alami. Sepertinya ada seseorang yang sudah merusaknya!"

__ADS_1


Januar tertegun mendengar penjelasan Hendrik. Dia memang menugaskan Hendrik untuk menyelidiki kecelakaan Satrio. Kecurigaannya benar. Rony terlibat dalam kecelakaan itu!!!


*****


__ADS_2