Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
APA BENAR KAMU ADALAH PACARKU? #1


__ADS_3

Ara mulai menyadari siapa Ken. Dia adalah idola tajir di kampus. Setiap mahasiswi pasti tergila-gila padanya. Ara tidak ingat sejak kapan menyukai Ken. Tiba-tiba, Ken selalu menjadi dewa penolong ketika Ara di bully.


Kemudian, seraut wajah hadir. Seorang gadis cantik yang sombong dan angkuh. Dia selalu membully Ara bersama teman-temannya. Ara seperti pernah melihat wajahnya. Siapakah Dia?


"Gue senang kamu kesini, Ras," ungkap Ara ketika Laras muncul. Dia sangat senang bisa ngerumpi dengan Laras lagi.


Laras tersenyum dan langsung memeluk sahabatnya itu, "gue juga seneng elo udah semakin membaik, Ra. Oh, iya. Tadi Ken ke sini, ya?"


Ara mengangguk pelan, "iya, Ras. Gue merasa sering melihat dia. Tapi kenapa ya, gue gak begitu mengingatnya!" ungkap Ara.


"Gila loh, Ra. Elo itu sama Ken kayak kancing baju sama lobangnya. Udah klop gitu! Knapa juga loh bisa ngelupain dia. Dia itu kan pacar loh!"


Uups, Laras keceplosan dah! Gadis itu langsung menutup mulutnya. Namun, Ara terlanjur mendengar.


"Apa? Pacar? Cowok seganteng dia mau jadi pacar gue? Apa bener, Ras?"


Berbagai pertanyaan keluar dari mulut Ara. Dia antara percaya dan tidak percaya mendengarnya.


Sepertinya Laras harus mengatakannya sekarang. Dia gak mau melihat Ara kebingungan.


"Iya, Ra. Ken itu pacar loh. Dia itu sangat mencintai elo, Ra. Makanya dia selalu ada di sini!" jelas Laras.


Ara tertegun. Jujur, Ken itu memang ganteng! Postur tubuhnya tinggi dan berkulit putih. Siapa sih yang gak suka sama dia. Anehnya, kenapa Ken mau menjadi pacarnya. Padahal Ara adalah gadis culun.


"Sudahlah, Ra. Nanti juga elo ingat sama Ken. Hanya saja gue gak ngerti mengapa elo bisa melupakan cowok sebaik dia!"


Laras berusaha menenangkan Ara. Meski ada rasa kasihan juga sama Ken karena Ara tidak mengingatnya.


"Iya, Ras. Gue juga bermimpi seseorang. Dia adalah cewek cantik di kampus yang selalu membully gue. Tapi gue gak ingat namanya. Siapa sih dia, Ras?" tanya Ara ketika teringat sosok gadis sombong di dalam mimpinya.


Laras terkejut karena Ara bisa mengingat Janet. "Astaga! Dia itu Janet, Ra. Cewek paling jahat sedunia. Dia juga sudah memperalatku untuk menyakitimu. Memangnya ada ada sama Janet, Ra?"


Laras jadi teringat perkataan Ken kalau sebelum pingsan Ara sempat menyebut nama Janet.


"Entahlah, Ras. Jadi namanya Janet, ya. Dia mirip sama orang yang sudah menabrak gue, Ras. Tapi ..., gue gak terlalu yakin juga, sih!" ungkap Ara sedikit ragu.

__ADS_1


Jadi, yang dikatakan Ken benar. Janet yang sudah menabrak Ara!


"Apa benar Janet yang sudah menabrak elo, Ra? Soalnya Ken bilang elo ngomong soal Janet sebelum pingsan!" tanya Laras memastikan.


"Gue juga masih belum ingat benar, Ras. Makanya waktu Ken menanyakan soal Janet, gue gak bisa jawab. Soalnya gue juga takut salah. Apa sebabnya Janet sampai menabrakku, sih?"


Ara memang gak percaya kalau Janet bisa tega menabraknya. Padahal dia tahu kalau Janet menyukai kakaknya.


Laras menarik napas panjang. Banyak cerita tentang Janet. Kebanyakan adalah kenangan buruk.


"Janet bisa melakukan apapun, Ra. Dia itu cewek jahat! Gue udah sangat mengenalnya. Hampir setahun gue dijadikan pelayan dan kaki tangannya. Saat itu gue emang bodoh mau saja diperalatnya. Pas gue mengenal Lo, gue baru sadar, Ra!" cerita Laras lagi. Malahan dia sendiri ingin melupakan kenangan buruk itu.


"Ternyata Janet seperti itu ya, Ras. Tapi, seingat gue dia suka sama Kak Aldy!"


Laras menatap Ara lekat. Sepertinya, Ara melupakan kejadian di kampus sebelum kecelakaan terjadi. Tapi, Laras tidak ingin membahasnya karena masalah itu sangat berat.


"Sudahlah, Ra. Gue yakin Janet masih punya perasaan meski Kak Aldy sudah menolak cintanya. Dia pasti akan datang jika saatnya tepat!"


Laras hanya bisa mengatakan hal itu meskipun tidak akan memaafkan Janet. Dia tahu, Janet tidak akan pernah datang dan mengakui kesalahannya. Setidaknya, bisa membuat Ara tenang.


*****


Janet merasa selalu ketakutan jika polisi datang untuk menangkapnya. Membuat Janet tidak bisa tidur dan gelisah. Dia lebih suka mengurung diri di kamar dalam kegelapan.


Seperti malam itu, Janet merasa ada suara langkah kaki menuju ke kamarnya. Rasa takut itu kembali datang. Dia segera bangun dan duduk di pojok tempat tidur.


"Tidak! Jangan tangkap aku. Aku gak bersalah tapi Ara yang salah!" teriaknya ketika langkah kaki itu berhenti di depannya.


Lampu kamar pun menyala. Ternyata Mami Janet yang datang.


"Ada apa, Net? Mengapa kamu berteriak seperti itu? Semenjak tiba di sini, sikapmu sangat aneh! Apa yang terjadi pada Ara? Dia kan pacarnya Ken!" Mami Janet langsung menghujani Janet dengan berbagai pertanyaan.


"Ti-tidak, Mih. Janet baik-baik aja, kok!" sanggah Janet.


Mami Janet merasa Janet sudah melakukan hal buruk sehingga ketakutan seperti itu.

__ADS_1


"Mami juga heran mengapa tiba-tiba kamu mau kuliah di sini. Mami akan menanyakannya pada papimu!" ucap Mami Janet seraya melangkah pergi.


Janet masih terdiam di tempatnya semula. Cepat atau lambat, semua orang akan tahu kalau dia sudah menabrak Ara. Janet gak mau masuk penjara!"


*****


Dokter Raffi datang lagi untuk memeriksa keadaan Ara. Entah kenapa, Ara merasa nyaman jika melihatnya. Sepertinya, Ara sudah sangat mengenal dokter Raffi.


"Bagaimana keadaan Buddy, Ra?" tanya dokter Raffi ketika baru sampai. Seperti itulah sikapnya kepada pasien. Sehingga mereka melupakan penyakitnya.


"Buddy baik-baik saja, dok. Lihatlah, dia sedang bermain denganku. Katanya diluar sangat cerah!" ungkap Ara yang memang sedang memainkan boneka jari yang diberikan dokter Raffi kemarin.


"Benar katanya, Ra. Di luar memang sangat cerah. Apa kamu mau ke sana? Aku bisa mengantarmu. Tapi, tunggu sampai tugasku selesai, ya!" ungkap dokter Raffi dengan penuh senyuman.


"Benarkah, dok? Aku mau merasakan hangatnya matahari. Di sini sumpek dan membosankan! Tapi ..., maksudku suasananya bukan sama dokter," ralat Ara mengira kalau dokter Raffi akan tersinggung.


Dokter Raffi malah tertawa, "aku kira kamu merasa aku membosankan. Jika begitu aku gak mau kesini lagi!"


"Enggak kok, dok. Dokter itu orangnya sangat menyenangkan. Aku suka dokter sering kesini!" sahut Ara berterus terang meski sedikit sungkan.


Dokter Raffi kembali tertawa. "Itulah sebabnya banyak yang jatuh cinta padaku. Kamu gak seperti itu kan?" tanyanya sedikit menggoda.


Ara hanya diam saja dengan wajah memerah. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi karena takut salah bicara.


Laras masuk keruangan Ara begitu dokter Raffi pergi. Dia juga melihatnya dengan takjup.


"Dokter tadi ganteng bener, Ra. Mungkin dia itu artis yang lagi nyamar menjadi dokter, ya?" tanya Laras.


"Iya, Ras. Dia lumayan ganteng sih. Tapi tetap aja gantengan Ken. Dia kan pacar gue!" celetuk Ara. Dia langsung terkejut dengan perkataannya sendiri.


"Araaa! Gue seneng lo udah ingat Ken!" teriak Laras sambil memeluk Ara.


Ara hanya tertegun. Ucapannya tadi keluar begitu saja. Apa benar Ken adalah pacarnya?"


*****

__ADS_1


__ADS_2