Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
INIKAH KARMA? #3


__ADS_3

Dokter Ratna baru saja sampai ke rumah sakit. Tiba-tiba seorang wanita sedikit lusuh menghadangnya. Wajahnya banyak kerutan seperti sudah menua.


"Dokter Ratna, tolonglah anakku," ujarnya lirih sambil memegangi baju dokter Ratna.


Dokter Ratna sangat terkejut, "si-siapa kamu? Anak ibu kenapa?" tanyanya yang sedikit panik.


"Aku mamihnya Janet. Apa kamu gak mengenaliku?" jawab wanita itu yang ternyata mamihnya Janet.


Dokter Ratna tertegun dan mengamati wanita itu lekat. Perlahan wajahnya bisa dikenali.


"Mamih Janet? Kenapa disini? Bukankah kalian ada diluar negeri? Lalu anak yang kamu maksud, apakah Janet?" tanya dokter Ratna tanpa henti.


Mamih Janet hanya mengangguk pelan, matanya kembali basah.


"Iya, dokter. Kemarin Janet kecelakaan. Sekarang dia di ruang Ugd dan harus dioperasi karena kakinya patah. Tolonglah Janet, dok. Aku sudah gak punya apa-apa untuk membayar biaya operasinya!"


"Astaga! Jadi Janet kecelakaan. Biar aku lihat keadaannya dulu!"


Dokter Ratna segera berjalan ke ruang Ugd. Mamih Janet juga mendampinginya. Dia berharap dokter Ratna yang merupakan Maminya Ken bisa membantu Janet.


*****


Ara baru selesai bekerja menjadi host ketika Laras menghampirinya. Wajahnya kelihatan sangat cemas.


"Ada apa, Ras?"


"Ja-Janet, Ra! Dia kecelakaan," ungkap Laras dengan suara gemetar, "sekarang dia lagi dioperasi. Kata dokter Raffi, kakinya diamputasi!"


Ara tertegun mendengar cerita Laras. Apakah Janet mengalami apa yang dialaminya dulu?


"Kita kesana sekarang, Ras. Apa kamu ada waktu?" ucap Ara yang gak bisa diam saja. Bagaimana pun sikap Janet, Ara gak akan bisa membencinya. Apalagi, traumanya sudah sembuh. Sudah waktunya bertemu Janet.


"Sebenarnya semalam aku siaran disana, Ra. Kak Aldy juga sudah menjenguk Janet!"

__ADS_1


"Kak Aldy? Bagaimana dia bisa tahu soal Janet?"


Laras terdiam. Dialah yang sudah memberitahukan Aldy.


"Maafkan aku, Ra. Sebenarnya aku yang ngasih tahu Kak Aldy. Aku tahu kalau Kak Aldy sangat mencemaskan Janet!" Laras akhirnya mengaku. Apapun yang terjadi antara Ara dan Janet, Kak Aldy sangat mencemaskan keduanya.


"Jadi, Kak Aldy sudah tahu. Tapi, kenapa gak ngomong sama aku? Aku emang blom bertemu dengan Kak Aldy, setidaknya kan bisa menelponku!"


"Mungkin Kak Aldy gak mau kamu jadi kepikiran, Ra. Aku juga gak tega memberitahumu. Janet sudah banyak salah padamu!"


"Aku sudah memafkannya sejak lama, Ras. Tapi, Janet yang gak bisa memaafkan dirinya sendiri!"


Tiba-tiba, hape Ara menyala. Dia melirik siapa yang sudah menghubunginya. Ternyata Ken, biasanya jam segini sudah tengah malam.


"Apa Ken sudah tahu soal Janet, Ras?"


Laras menggeleng, "aku gak ngasih tahu Ken, Ra. Tapi, Janet ada sirumah sakit mamahnya. Saat ini, Mamah Ken pasti sudah tahu!"


Ara menarik napas panjang. Jangan-jangan, Ken mau menanyakan soal Janet!


"Gak knapa-napa. Aku kangen, aja!"


Nah! Ken lagi kumat sakit malarindunya tuh! Kirain mau menanyakan soal Janet.


"Aku baru selesai kerja, Ken. Kamu gak tidur?"


Ara memberi kode sama Laras kalau dia mau ke balkon untuk menerima telpon Ken.


Laras langsung mengangguk. Dia selalu oro dengan hubungan Ara dan Ken. Meskipun banyak masalah mereka dipersatukan lagi. Sementara Laras, akan selalu sendirian.


"Kamu lagi ngomong sama orang ya, Ra? Apa Boy?" tebak Ken. Dia membayangkan kalau Boy selalu mengejar Ara.


"Bukan Boy, tapi Laras!"

__ADS_1


"Ada apa? Sepertinya kalian lagi ngomong serius," ucap Ken kepo.


"Ada, deh. Sudah tidur aja! Jangan lupa mimpikan aku," ujar Ara yang sedikit malu. Dia gak terbiasa bucin.


"Aku gak bisa tidur. Kalau sudah dengar suaramu aku pasti ngantuk."


"Gombal!"


Pipi Ara bersemu merah. Kalau aja Ken ada didekatnya pasti Ara akan memberikan sebuah cubitan sayang padanya.


Ken tersenyum. Sebenarnya, dia baru mendapat kabar soal Janet dari mamahnya. Ken hanya ingin tahu keadaan Ara. Sepertinya, Ara belum tahu kalau Janet kecelakaan.


*****


Dokter Raffi teringat perkataan Aldy kalau Ara sudah jadi pemandu acara di televisi. Kini, dia sedang menonton acara yang dibawakan Ara. Penyintas Beruntung.


Sekarang Ara sangat berbeda. Dia bertambah cantik dan dewasa. Tapi, Raffi malah merindukan Ara ketika menjadi gadis kecil yang selalu manja padanya. Saat itu sangat menyenangkan meskipun mental Ara berubah.


"Ekheeem! Siapa sih yang kamu lihat sampai serius begitu!"


Dokter Irena muncul sambil membawa makan siang.


Raffi sedikit terkejut dan gak sempat menutup laptop yang sedang menyiarkan acara Ara.


"Acara apa itu? Oh, aku juga suka acara ini. Banyak para penyintas yang diundang. Mereka sangat senang dan bisa mengendalikan trauma mereka!"


Ternyata, Irena juga sering menonton acara itu. Hanya saja, dia gak mengenali Ara. Mungkin karena dulu juga mereka jarang bertemu.


"Ayolah, makan dulu. Oh iya, besok datanglah ke rumahku. Orang tuaku mau bertemu denganmu. Aku cerita soal kamu dan mereka ikutan jadi ngefans juga!" Irena tertawa kecil sambil menyiapkan makan siang di atas meja. Dia memang selalu memuja Raffi. Untuk itulah dia pura-pura gak tahu kalau host acara itu adalah Ara. Gadis yang selalu berada di hati Raffi.


Hubungan Raffi dan Irena memang semakin dekat. Orang tua Raffi sudah tahu soal Irena. Raffi sudah mengajak Irena bertemu mereka beberapa kali. Sekarang orang tua Irenalah yang ingin bertemu Raffi. Tentu saja, mereka mengharapkan hubungan keduanya lebih dari sekarang. Yaitu dalam pernikahan.


Setelah makan siang, Raffi ingin mencari angin di taman sementara Irena juga kembali ke ruang kerjanya. Angin sepoi menyambutnya. Hatinya masih terasa hampa meski sudah ada Irena. Seperti ada sesuatu yang hilang namun gak tahu apa itu.

__ADS_1


Angin menerbangkan semua rasanya. Kemudian pandangannya terhenti pada seseorang. Dia adalah Ara. Gadis yang selalu ada di dalam hatinya!


*****


__ADS_2