Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
MENGEJAR CINTA #2


__ADS_3

Ken ingin secepatnya bertemu dengan Ara. Penyesalan itu seperti bom yang siap meledak. Ken rela dihukum apapun agar bisa bersama Ara lagi.


Tujuannya adalah rumah Ara. Dia masih ingat jalan menuju kesana. Ken bisa sampai di sana meski dengan mata tertutup. Namun, ketika sampai di depan rumah Ara, langkahnya terhenti. Rumah Ara tidak seperti dulu dan sudah lebih bagus juga modern.


Ada sesuatu yang membuat Ken tertegun. Dia melihat seorang laki-laki berdiri di depan rumahnya. Wajahnya gak begitu jelas. Siapa lagi dia?


Tiba-tiba, pintu rumah terbuka dan Ara muncul. Dia langsung memeluk laki-laki itu dengan erat. Ken tertegun melihatnya. Sebagian dirinya ingin segera bertemu Ara. Sebagian lagi mengikatnya dalam rasa bersalah yang teramat besar.


"Ayaah!" teriak Ara ketika melihat seorang laki-laki di depannya. Ara pun memeluknya erat.


Dia adalah Satrio. Luka diwajahnya sudah tidak kelihatan lagi. Setelah kondisi Ara stabil, Satrio memutuskan untuk mengoperasi wajahnya agar tidak menyeramkan lagi.


"Bagaimana keadaanmu, Ara? Katanya kamu mulai sekolah, ya?" tanya Satrio seraya menggandeng puterinya itu masuk ke dalam rumah.


"Iya, yah. Ara sudah sekolah. Gurunya sangat baik dan cantik. Ara betah lama-lama di sekolah. Bagaimana kalau Ara juga bersekolah di rumah, yah?" jawab Ara dengan sebuah permintaan.


Satrio manggut-manggut. Sekarang apapun akan dilakukannya untuk Ara.


"Boleh aja. Nanti ayah bicarakan dengan gurumu. Di mana nenek?"


"Asyiiik. Nenek sedang ke warung, yah." Ara sangat senang mendengar jawaban ayahnya. Gurunya memang sangat baik dan cantik. Dia bisa lebih lama berbicara dengannya kalau sudah di rumah.


Ken tak mampu menggerakkan kakinya lagi meski hanya beberapa langkah. Akhirnya, dia memutuskan untuk pergi.


"Nak Ken?!"


Ken kembali terdiam. Dia mendengar seseorang memanggilnya.


"Nenek?"


Ternyata, orang yang memanggil Ken adalah Nenek Ara.


"Jadi benar, kamu adalah Nak Ken. Kamu kemana aja selama ini? Ayo masuk. Nenek akan membuatkan gado-gado spesial kesukaanmu!" ujar Mak Isah yang sangat senang bisa melihat Ken lagi.


"Ti-tidak usah, nek. Aku hanya sebentar aja. Sepertinya Ara ada tamu," jawab Ken mencari alasan.

__ADS_1


"Tamu? Aah, paling itu ayahnya Ara yang baru pulang kerja. Sudah, ikut nenek aja!"


Mak Isah langsung menarik tangan Ken tanpa menunggu persetujuannya lagi.


Mau gak mau, Ken mengikuti langkah Nenek Ara. Dadanya berdegup kencang. Dia harus siap menerima hukuman.


"Nenek, ayah udah pulang!" teriak Ara ketika neneknya muncul. Namun, Ara malah terkejut melihat seseorang yang datang bersama neneknya.


"Araa, lihatlah. Ini ada Nak Ken di depan. Jadi nenek ajak masuk aja!" jelas Mak Isah.


Ara diam saja. Laki-laki bersama neneknya adalah Ken. Tapi, dia seperti pernah melihatnya.


"Kak Ken? Bukankah kakak temennya Kak Jessica?"


Ya! Ara baru ingat siapa laki-laki itu.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Ken?"


Ken menoleh. Laki-laki yang tadi dilihatnya juga memanggil namanya. Dia pun melihat lebih jelas. Sepertinya Ken pernah bertemu dengannya.


Ara benar-benar bingung. Ternyata nenek dan ayahnya juga mengenal Ken. Sebenarnya siapakah Ken itu?


"Ara pusing. Nenek dan ayah mengenal Kak Ken. Apa cuma Ara aja yang gak kenal?" tanya Ara memecah kesunyian.


"Oh iya, Ra. Dulu kami memang mengenal Ken di rumah sakit. Ya sudah, ayah mau istirahat dulu!" Satrio memilih mengalah. Padahal banyak pertanyaan di kepalanya. Mengapa dulu Ken menghilang? Apalagi, Ara sempat menangis sebelum operasi terakhir yang mengakibatkan semua ingatannya hilang.


"Duduklah, Nak Ken. Biar nenek bikinkan gado-gadonya dulu, ya!"


Mak Isah langsung menuju ke dapur tempatnya berjualan. Sementara Ken dibiarkan bersama Ara.


"Apa dulu kakak bekerja di rumah sakit?" tanya Ara memecah kesunyian.


"Oh, gak juga. Ibuku dokter disana. Jadi aku sering bolak balik ke rumah sakit!" jawab Ken sebisanya. Dia gak berani mengungkapkan siapa dia sebenarnya.


"Benarkah? Siapa nama ibu kakak?" tanya Ara antusias.

__ADS_1


Ken terpaksa membongkar siapa dirinya sedikit demi sedikit. Ara seperti detektif yang sedang menyelidikinya.


"Ibuku adalah dokter Ratna!"


"Apa? Dokter Ratna? Ara kan sering bertemu dokter Ratna. Jadi beliau adalah ibunya kakak. Wah, kakak beruntung mempunyai ibu seperti dokter Ratna. Beliau sangat baik dan penyayang!" ucap Ara panjang lebar. Kini, dia jadi banyak bicara padahal dulu agak pendiam.


"Iya, Ra! Maaf, aku harus pergi. Sampaikan maafku kepada nenek, ya!"


Ken memilih pergi. Dadanya terasa sesak. Dia takut kalau mengatakan bahwa Ara adalah pacarnya.


"Tapi kakak belum makan gado-gado nenek!" cetus Ara.


"Mungkin lain kali. Maaf aku harus pergi!"


Ara gak bisa mengatakan apapun lagi. Dia hanya melihat kepergian Ken sampai mobilnya gak kelihatan lagi. Ada sesuatu yang bergemuruh di hati Ara. Sesuatu yang aneh!


"Kemana Nak Ken, Ra?" tanya Mak Isah sambil mencari Ken.


"Kak Ken sudah pergi, nek!"


"Padahal nenek sudah membuatkan gado-gado untuknya. Ya sudah, kasih ayahmu aja sana!"


Mak Isah menyodorkan sepiring gado-gado yang sudah dibuatnya. Sementara Ara hanya memandangi gado-gado itu.


"Apa Kak Ken pernah memakan gado-gado seperti ini, nek?" tanyanya penasaran.


"Udah pasti pernah makan, malahan sampe nambah. Waktu itu kan kalian mau pergi tapi nenek suruh makan dulu!" Mak Isah keceplosan. Dia pun langsung menutup mulutnya.


"Katanya nenek dan ayah bertemu dengannya di rumah sakit. Jadi, dulu Kak Ken pernah ke sini dan mengenal Ara juga? Lalu, mengapa Ara gak ingat sama sekali, ya?"


Mak Isah gak tega melihat Ara kebingungan.


"Sudahlah! Berikan gado-gado itu buat ayahmu. Dia pasti udah kelaparan!"


Ara pun segera pergi menuju ke kamar ayahnya. Pertanyaan itu pun langsung hilang.

__ADS_1


*****


__ADS_2