
Perkataan Andre masih terngiang di kepala Aldy. Soal kematian orang tuanya yang sangat janggal. Hampir sepuluh tahun berlalu dan batas kasusnya hampir berakhir.
Aldy sangat bingung harus bicara dengan siapa. Belum lagi masalah Janet yang membuat kepalanya semakin pusing.
Hari itu, Aldy sudah memutuskan tidak mau memenuhi permintaan Janet lagi. Dia sudah mengembalikan jam tangan yang diberikannya. Benar kata Ara. Janet selalu memperlakukan orang lain tanpa perasaan sedikitpun.
Tapi, Janet tetap menunggu Aldy di parkiran. Bahkan ketika hujan, dia tidak masuk kedalam mobil dan memilih untuk basah-basahan. Hatinya memang keras. Kemauannya harus dipenuhi meski harus menyiksa diri sendiri.
Aldy bukanlah orang yang tak peduli. Hatinya treyuh juga melihat Janet basah-basahan. Terkadang kilat saling menyambar. Janet tetap berdiri di di tempatnya semula.
"Pergilah, Al! Aku gak mau ada masalah kalau Non Janet sampai sakit. Terkadang perempuan memang begitu, Al. Lihat aja sampai dimana kemauannya!" ucap atasan Aldy.
"Sifatnya sangat jelek, Pak. Dia menghina siapapun yang menolak kemauannya!"
"Itu karena dia kesepian. Selama aku kerja, dia gak pernah mengajak temannya makan disini. Dia selalu sendirian. Kasihan, kekayaan melimpah namun tak menjamin akan bahagia!"
"Apa tidak apa-apa kalau saya izin, pak?"
Atasan Aldy langsung mengangguk.
"Kalau melayani anak bos sih sudah termasuk kerja, Al. Sudah sana!"
Aldy terpaksa meninggalkan pekerjaannya dan menemui Janet yang mulai kedinginan.
"Kamu memang gila ya, non! Ayolah, aku akan mengantarkanmu pulang!"
Janet diam saja ketika Aldy datang dan mengantarnya pulang. Dia sudah tak punya keinginan apa-apa. Kecuali Aldy selalu ada di sampingnya.
Aldy tidak bicara sedikit pun. Hujan semakin deras, dia hanya serius menyetir meski hatinya sedikit ketar ketir. Sesekali melirik Janet yang menggigil.
"Non Janet? Kenapa non basah-basahan?" Pembantu yang bekerja di rumah Janet langsung menyambutnya dengan penuh keheranan.
__ADS_1
"Non Janet habis hujan-hujanan, bik. Tolong diurus ya. Saya harus kembali ke tempat kerja!" ujar Aldy seraya menyerahkan kunci mobil.
Aldi sudah membalikkan badannya dan berniat pergi. Namun, tiba-tiba terdengar teriakan pembantu Janet.
"Astaga! bangun, non. Kenapa non pingsan? Badan non juga panas!"
Aldy menoleh dan melihat Janet sudah tergeletak di atas lantai. Dadanya bergemuruh berharap Janet baik-baik saja. Dia pun segera memindahkan Janet ke dalam kamarnya.
Kamar Janet ternyata sangat besar. Hampir seluas rumah yang ditempati Aldy. Belum lagi perabotannya yang semuanya mahal dan berkelas.
"Sebaiknya ganti baju non Janet, bik. Saya akan membelikan obat untuknya!"
"Kalau obat sih disini sudah ada, mas. Ada di lemari dapur. Bisa tolong ambilkan ya, mas. Saya akan mengganti baju non Janet," mohon Bik Warsih.
Aldy segera melangkah keluar kamar Janet. Sementara Janet masih tak sadarkan diri.
Setelah sadar, Janet meminum obat yang disodorkan Aldy.
Aldy hanya mengangguk.
"Baiklah, non. Semoga cepat sembuh!"
Aldy meninggalkan Janet dengan jantung yang masih berdebar. Ada sesuatu yang membuat langkahnya menjadi berat. Padahal, sebelumnya malah tidak ingin ada di dekat Janet.
Namun, ketika Aldy sudah sampai di depan pintu, Bik Warsih memanggilnya.
"Maaf, mas. Saya minta tolong agar mas jangan pergi dulu. Saya takut ada apa-apa sama non Janet!"
"Sepertinya non Janet sudah tidak apa-apa, bik!"
"Iya, mas. Saya takutnya nanti malam malah tambah parah. Non Janet itu kalau sudah sakit lama sembuhnya."
__ADS_1
Aldy terdiam. Jangan-jangan, Janet yang sudah menyuruh bik Warsih untuk mencegahnya pergi.
"Bibik gak disuruh Janet untuk melarang saya pergi, kan?"
"Gak kok, mas. Non Janet sekarang sedang tidur tapi badannya masih panas. Tolonglah, mas. Saya takut terjadi hal buruk sama non Janet!"
Aldy luluh juga mendengar permintaan bik Warsih. Ternyata masih ada yang peduli dengan keadaan Janet.
Akhirnya Aldy terpaksa menginap di rumah Janet. Sebelumnya sudah meminta izin kepada atasannya. Aldy sampai tertidur di atas sofa yang lebih nyaman dari tempat tidurnya sendiri. Sampai tak sadar hari sudah pagi.
"Hei! Kamu siapa? Apa yang kamu lakukan di sini?"
Tiba-tiba terdengar suara seseorang.
Aldy segera bangun dan berdiri. Di hadapannya ada seorang laki-laki setengah tua dengan pakaian parlente. Alangkah terkejutnya, Aldy begitu sadar kalau laki-laki itu adalah bos besar, Rony Darusman. Dia adalah papihnya Janet!!!
"Sa-saya Aldy, pak. Saya bekerja di restoran punya bapak," ucap Aldy memperkenalkan diri.
Rony melihat Aldy dengan tatapan tajam. Dia mengenali seragam yang dipakai Aldy.
"Lalu, kamu sedang apa disini?"
"Saya mengantar non Janet semalam, pak. Sepertinya non Janet sakit karena kehujanan. Bik Warsih mencegah saya pergi karena takut terjadi hal buruk sama non Janet!"
Wajah Rony sesikit tegang begitu mendengar Janet sakit.
"Ya, sudah. Kamu pergi saja! Saya sudah ada disini," ucap Rony seraya melangkah menuju kamar Janet tanpa berterima kasih lagi.
"Ba-baik, pak."
Aldy segera meninggalkan rumah Janet. Dadanya semakin bergemuruh. Sikap Janet sama papinya sama persis. Pantas saja, Janet menjadi keras hatinya!
__ADS_1
*****