Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
KOTAK KENANGAN #1


__ADS_3

Semalaman Ken gak bisa tidur. Seminggu lagi dia harus kembali ke Amerika untuk bekerja kembali sebagai dokter. Sedangkan masih ada urusan yang harus diselesaikan terutama soal Ara. Ken harus mendapatkan cinta Ara lagi.


" Ekheem, aku punya pengumuman penting. Aku sudah memutuskan mau ikut mengajar di sekolah luar biasa bersama Jessica." cetus Ken ketika sarapan di meja makan. Mami Ken dan papinya sangat terkejut dengan keputusan Ken. Apalagi Jessica yang masih belum mengerti apa yang dipikirkan Ken.


Papi Ken dipercaya untuk memegang Universitas Nusantara lagi. Sementara, Rony menderita stroke dan tinggal di luar negeri. Janet dikabarnya juga depresi dan harus tetap berobat, meski pun sudah bisa memulai usahanya sendiri di bidang fashion. Peristiwa kecelakaan Ara gak diperpanjang lagi. Keluarga Ara memutuskan untuk menarik laporan di kepolisian. Mereka hanya berharap kesehatan Ara bisa kembali lagi seperti semula.


"Kamu kan masih bertugas di Amerika, Ken. Apa gak mengganggu pekerjaanmu?" tanya Papi Ken setelah mendengar keputusan Ken. Sebenarnya Januar sudah menyerahkan semua keputusan di tangan Ken. Sekarang Ken sudah dewasa.


"Masih ada waktu seminggu lagi, pih. Ken mau membantu Ara mengembalikan semua ingatannya seperti semula!" Akhirnya Ken mengutarakan alasannya.


Mami Ken terdiam, ada sesuatu yang harus dipikirkan Ken.


"Ada sesuatu yang tidak perlu diingat, Ken. Karena jika ingatan Ara kembali, mungkin kamu gak akan bisa bersamanya lagi! Apa kamu sudah siap?" tanya Mami Ken lebih serius.


Ken langsung mengangguk, "Ken sudah siap, Mih. Yang penting Ara bisa kembali seperti semula!" jawab Ken yakin. Dia juga seorang spikolog seperti maminya. Ken yakin bisa mengembalikan ingatan Ara.


"Baiklah! Papi setuju aja dengan keputusanmu Ken. Ajaklah Ara kesini jika ada kesempatan. Iya kan, mih?" ujar Papi Ken.


"I-iya, Ken. Mami juga senang kalau Ara mau kesini!"

__ADS_1


Ken merasa hatinya berbunga-bunga. Kini, orangtuanya sudah memberikan restu. Dia tahu masih memerlukan waktu agak bisa membuat Ara seperti semula. Ken akan melakukan semuanya dengan penuh cinta.


*****


Ara mulai memikirkan sosok laki-laki bernama Ken. Ara merasa gak asing dengannya. Tapi, siapa dia sebenarnya? Semua mengenal Ken kecuali dirinya.


"Ara! Pak dokter tadi telepon. Katanya hari ini mau mengajakmu jalan-jalan. Apa kamu mau?" tanya Aldy yang sudah menjadi guru dan mengajar di sebuah sekolah swasta.


Ara langsung semringah begitu mendengar pertanyaan kakaknya.


"Tentu aja Ara mau, kak. Tapi, kan hari ini kita mau ke makam mama. Semalam ayah sudah bilang sama Ara," jawab Ara yang ingat hari ini adalah peringatan kematian mamanya.


Ara memerhatikan apa yang dilakukan kakaknya. Dia seperti memikirkan sesuatu.


"Ara pengen juga punya hape kayak kakak. Jadi bisa bicara langsung dengan pak dokter," celetuknya.


"Kamu kan sudah punya tapi sudah lama gak dipakai. Nanti kakak belikan aja yang baru!" jawab Aldy yang langsung kembali ke kamarnya untuk mandi.


Ara masih di tempatnya semula. Ternyata, dia juga pernah memiliki sebuah hape. Tapi, dimana hape itu sekarang. Pasti tersimpan di dalam lemari. Selama ini Ara gak pernah memikirkannya.

__ADS_1


Bergegas, Ara menuju ke kamarnya. Dia harus menemukan hape itu. Jika sudah ada, Ara bisa bicara langsung dengan dokter Raffi.


Perlahan Ara membuka lemari satu persatu. Biasanya, neneknya yang membantunya mencari sesuatu. Sekarang, Ara mau melakukannya sendiri.


Tak lama kemudian, Ara menemukan sebuah kotak hitam di salah satu laci lemari. Dia gak pernah melihatnya. Ara pun pun membukanya hati-hati.


Di dalam kotak itu terdapat berbagai macam barang, juga ada sebuah buku dan hape seperti punya kakaknya.


Ara ingin menyalakan hape yang dia temukan namun gak tahu caranya. Kemudian perhatiannya tertuju kepada buku kecil berwarna pastel. Ara memegang buku itu dan mengamatinya. Dia gak mengingat buku itu sama sekali.


Perlahan, Ara membuka buku itu. Di dalamnya banyak tulisan yang abstrak dan gak bisa terbaca sama sekali. Halaman selanjutnya, tulisan itu sudah mulai membaik. Ara tersenyum ketika membaca tulisan itu yang ternyata adalah namanya. "Arrabella". Pasti dokter Raffi yang sudah mengajarnya menulis.


"Ara, cepat turun. Kita sudah mau berangkat!" teriak Aldy dari ruang tamu. Dia juga akan ikut ke makam mamanya.


Ara segera memasukan buku kecil itu ke dalam kotak. Besok, dia akan menunjukannya kepada dokter Raffi. Dia pasti ingat kalau pernah mengajari Ara menulis.


Satrio sudah menunggu di dalam mobil. Ini adalah tahun ketiga ke makam istrinya bersama anak-anak dan ibunya. Hatinya sudah merasa tenang karena bisa berkumpul bersama keluarganya lagi. Istrinya pasti ikut senang melihat mereka dari dalam surga.


*****

__ADS_1


__ADS_2