
Aldy masih gak percaya sama perkataan neneknya kalau laki-laki berwajah cacat itu adalah ayahnya yang sudah meninggal!
"Jangan bercanda, nek. Aldy melihat sendiri kalau jenazah ayah dikuburkan ke liang lahat!" ucap Aldy berkeras pada pendiriannya.
Mak Isah pun tak bisa menahan airmatanya. Satriolah yang harus menjelaskan.
"Benar, Al. Aku adalah ayahmu. Saat itu ayah terluka parah dan wajah ayah tidak bisa dikenali lagi. Ayah terpaksa memalsukan kematian ayah agar bisa membalas dendam kepada orang yang terlibat dalam kecelakaan yang sudah terjadi. Tapi, proses penyembuhan ayah ternyata sangat lama sampai setahun lamanya. Ayah berjanji akan menemui kalian setelah membalas dendam!" ungkap Satrio lirih. Bahkan sampai saat ini dendamnya pun belum terbalaskan.
"Lima belas tahun. Itu waktu yang sangat lama. Mungkin aku bisa bertahan tapi tidak dengan Ara. Lihatlah dia sekarang! Kata dokter nyawanya tinggal sebentar lagi," jelas Aldy dengan badan yang gemetar. Dia teringat dengan perkataan dokter Raffi.
Satrio juga sangat terkejut, begitu juga dengan Mak Isah.
"Apa maksudmu? Bukankah kondisinya sudah membaik?" tanya Satrio. Dia mengira kalau keadaan puterinya baik-baik saja.
"Setelah pingsan waktu itu, kepalanya mulai sering sakit. Dia akan dioperasi lagi hari ini. Kemungkinannya ada dua, Ara akan meninggal atau pun hidup namun kondisi otaknya seperti anak kecil! Sebaiknya, ayah menemuinya sebelum terlambat," terang Aldy yang tidak menahan kesedihannya. Airmatanya pun menetes. Dia tidak tahu harus bagaimana. Merasa senang karena bisa bertemu ayahnya lagi dan sedih karena takut kehilangan adiknya.
Satrio tak bisa berkata apa-apa. Dia pun segera berlari menuju ke tampat puterinya berada. Kali ini, dia sudah melupakan cacat di wajahnya. Yang ada di dalam pikirannya adalah bertemu dengan Ara! Dia tidak menghiraukan banyak pasang mata yang menatapnya jijik. Kejadian itu sudah sering dijalaninya. Tatapan mereka sudah tidak mempan lagi sekarang.
Di depan kamar Ara, Satrio menghentikan langkahnya. Ara akan dibawa ke meja operasi. Satrio gemetaran, dia harus bicara dengan puterinya sekarang juga.
Gak lama, Aldy dan Mak Isah sampai juga. Dia melihat Ara sedang dibawa perawat dan segera menghampiri dokter Raffi.
"Maaf, dok. Apakah bisa tunggu sebentar. Ada seseorang yang akan menemui adik saya," ujar Aldy dengan napas tersengal-sengal.
__ADS_1
"Waktunya sebentar lagi. Baiklah, hanya lima menit aja, ya!" ujar dokter Raffi sambil melihat jam tangannya. Dia sempat melihat laki-laki menghampiri Ara. Wajahnya banyak luka bakar.
"Ayah ...."
Baru saja Satrio akan bicara tapi Ara sudah memanggilnya dengan sebutan ayah. Tentu aja membuat Satrio terkejut mengira kalau Ara tidak mengingatnya.
Aldy juga sama terkejutnya. Ara gak ingat dirinya tapi darimana dia tahu soal ayahnya.
Tanpa sadar mata Satrio basah. Dia mencium kening putrinya itu lembut. Ara tersenyum meski merasakan kesedihan karena waktunya gak banyak lagi.
Mak Isah juga mendekati cucunya dan memeluknya erat. Tak bisa menahan airmatanya yang deras mengalir.
Aldy masih menggenggam tangan Ara untuk memberinya kekuatan. Meskipun dadanya terasa sesak karena menahan kesedihan.
Ara tidak melihat cowok ganteng yang mengaku pacarnya. Seharusnya, cowok itu ada disini. Ara juga ingin melihatnya untuk terakhir kali. Ara hanya berharap bisa bertemu lagi dengannya suatu hari nanti.
Satrio langsung ke lab untuk mendonorkan darahnya buat Ara. Dia tidak ingin terjadi hal buruk kepada puterinya. Sudah cukup waktu lima belas tahun meninggalkan anak-anaknya. Kali ini, Satrio tidak akan melepaskan mereka.
Nyatanya, Ken ada di depan rumah sakit. Kakinya terlalu lemas untuk masuk ke dalam. Entah apa yang akan dilakukannya ketika melihat Ara masuk ke ruang operasi.
Kali ini, mungkin Ken akan menangis meraung-raung. Perasaannya sudah tak bisa ditahan lagi. Seperti ada bom waktu yang siap meledak kapan saja. Namun langkahnya sangat berat. Ken sangat takut kalau terjadi hal buruk pada Ara.
"Ken?!" Tiba-tiba, Laras menegur Ken. Dia datang bersama Andre.
__ADS_1
"Oh iya, Ras," jawab Ken dengan suara gemetar.
"Kamu gak nemenin Ara, Ken?" tanya Andre yang penasaran juga melihat Ken hanya mondar mandir di depan rumah sakit.
"Iya, nanti aku masuk. Kalian duluan sajalah!" jawab Ken sebisanya. Dia tidak bisa bilang bagaimana perasaannya.
"Oke! Kami masuk dulu, ya! Ayo, Ras!"
Andre langsung menarik tangan Laras. Seharusnya dia sudah berada di dalam pesawat, namun hatinya gak bisa tenang kalau belum melihat keadaan Ara. Untungnya Laras mengerti kalau Andre memperlakukan Ara seperti adiknya sendiri.
Ken masih belum bisa masuk ke dalam rumah sakit. Akhirnya, dia hanya terduduk lemas di ruang tunggu. Marah dan sedih menjadi satu. Mana bisa Ken memukul dirinya sendiri!
Andre melihat orang aneh bersama Aldy dan neneknya. Orang itu gak pernah dilihat Andre sebelumnya. Wajahnya sangat menyeramkan seperti monster!
Laras segera menghampiri Nenek Ara yang sedang menangis. Laras juga melihat laki-laki berwajah cacat diantara mereka. Dia gak berani menanyakannya.
"Apa Ara sudah masuk ruang operasi, Nek? Aku terlambat menemuinya," ucap Laras menyesal. Dia pun langsung memeluk Nenek Ara.
"Iya, Neng. Doain Ara biar kembali seperti semula lagi, ya," jawab Nenek Ara sambil menyeka air matanya.
"Tentu saja, Nek. Ara sudah seperti saudaraku sendiri," jawab Laras yang merasakan matanya juga basah.
Malam itu akan terasa sangat panjang. Ara berada dalam dua pilihan. Tidak! Hanya ada satu pilihan. Dia harus hidup agar bisa bertemu dengan ayahnya. Dia juga ingin melihat wajah tampan Ken dan memulai hari baru bersamanya!!!
__ADS_1
*****