Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
JANGAN LUPAKAN AKU! #1


__ADS_3

Kondisi Ara sudah membaik berkat darah yang diberikan sosok misterius. Pagi itu, Ara membuka mata namun belum sadar benar.


"Alhamdulillah, masa kritis adik kamu sudah lewat dan sudah membuka mata. Hari ini bisa dipindahkan ke ruangan rawat inap biasa!" jelas dokter yang baru keluar dari ruang ICU.


"Benarkah, dok? Alhamdulillah!" ucap Aldy hampir saja memeluk dokter karena kesenangan.


"Hanya saja, ingatannya belum sepenuhnya kembali karena efek operasi. Saya harap, kamu bisa membantu mengembalikan ingatannya lagi," jelas dokter lagi.


"Ba-baik, dok. Saya ucapkan banyak terima kasih, dok!" Aldy menyalami dokter yang kelihatan masih muda itu. Aldy sempat melirik namanya. Dia adalah dokter Raffi.


"Sama-sama, memang sudah kewajiban saya, kok. Nanti kita ketemu lagi di ruang rawat inap, ya. Maaf, saya harus pergi dulu," ungkap dokter Raffi sopan.


"Baik, dok!" sahut Aldy.


"Gimana Ara, Al?" Andre langsung menghampiri Aldy.


"Keadaan Ara sudah membaik, Dre. Kata dokter, Ara akan dipindahkan ke ruang biasa hari ini. Tapi ...,"


"Ada apa, Al?" tanya Andre penasaran.


"Ingatan Ara belum sembuh benar," ucap Aldy yang masih cemas.


"Memang seperti itu kalau habis dioperasi, Al. Kita bisa membantunya mengingat," jelas Andre.


"Iya, Dre. Gue ke admin dulu, ya. Ada yang harus diurus!"


"Iya, Al. Biar gue nunggu di sini!"


Aldy langsung berjalan menuju ke bagian admin. Dia harus mengurus masalah keuangan yang belum selesai. Sebelum Ara dioperasi sebenarnya pihak rumah sakit meminta uang deposit tapi Aldy belum membayarnya semua.


"Sepertinya semua keuangan sudah lunas, pak!" ucap petugas bagian administrasi.


"Lunas? Siapa yang membayarnya?" tanya Aldy yang sedikit bingung. Padahal, dia baru mau akan melunasinya.


"Bapak Ken yang sudah membayarnya. Dia juga memberikan deposit lebih untuk sepuluh hari ke depan!" jelas petugas itu lagi.


"Ken?" tanya Aldy dalam hati. Sepertinya, Ken sangat bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa Ara. Aldy sudah salah menilainya.


*****


Laras datang sambil membawa makanan. Namun, yang dilihat di depan ruangan Ara hanyalah Andre. Laras berusaha tetap tenang meski hatinya penuh debar.

__ADS_1


"Siang, kak. Kak Aldy kemana? Ini saya bawakan makanan," ucap Laras yang menjadi canggung.


Andre menatap Laras lekat. "Aldy sedang ke bagian admin. Apa makanan itu hanya untuk Aldy? Terus terang, aku juga lapar," tanya Andre sedikit menggoda Laras.


"Tentu aja buat Kak Andre juga. Sa-saya bikin rendangnya banyak, kok!" ungkap Laras sedikit gagap. Penyakit lamanya kambuh lagi kalau sedang grogi.


"Asyiiik, pasti masakanmu enak!" ucap Andre dengan mata berbinar.


Laras tak sadar mukanya jadi merah.


"Hai, Ras!"


Aldy datang tepat waktu. Kalau tidak, Laras bisa membeku.


"Iya, Kak. Ini saya bawa makanan buat kakak dan Kak Aldy!" ucap Laras sembari menyodorkan kotak makanan.


"Makasih ya, Ras. Sebaiknya, kamu makan duluan aja, Dre. Gue tunggu sampai Ara akan dipindahkan ke ruangan biasa!" jelas Aldy.


Laras sangat senang mendengar keadaan Ara, "apakah Ara sudah membaik, kak?" tanyanya antusias.


"Syukurlah, Ara sudah baikkan, Ras. Oh, iya. Kalau kalian melihat Ken, katakan aku mau bicara dengannya." Aldy teringat soal keuangan yang sudah dibayarkan Ken.


"Kata bagian admin, Ken sudah membayar semua keuangan Ara. Gue mau ngomong soal itu, Dre. Gue gak mau menyusahkan siapapun!" jelas Aldy.


"Memang Ken harus tanggung jawab kok, Al. Elo gak usah ngerasa bersalah!" ucap Andre sedikit keras.


Laras sangat terkejut dengan perkataan Andre. Sepertinya, Andre sangat membenci Ken.


"Iya sih, Dre. Tapi, gue harus ngomong sama Ken juga!"


"Ya, sudah. Nanti gue kasih tahu Ken. Kabari gue kalau Ara jadi dipindahkan ya!"


"Iya, Dre. Sudah, makan dulu sana!"


Andre terpaksa menuruti Aldy meski masih penasaran dengan Ken. Sudah seharusnya Ken bertanggung jawab soal Ara. Dia yang lalai menjaganya.


Laras diam saja ketika Andre mulai menyantap masakannya. Mereka memilih kantin rumah sakit untuk tempat makan.


"Hhmmm, masakanmu enak, Ras. Kamu pantas jadi chef!" puji Andre setelah menyuap rendang ke mulutnya, "bukan! Bukan chef, tapi ibu rumah tangga!" lanjut Andre sedikit menggoda.


Laras mulai merasakan dadanya kembali berdegup kencang. Dia sangat kesal karena tidak bisa menahan perasannya. Aaakh! Muka Laras tambah menor aja deeh!

__ADS_1


"Ga aah, kak. Saya gak mau jadi ibu rumah tangga!" sahut Laras berusaha menenangkan hatinya.


"Looh, kenapa?" tanya Andre penasaran.


"Mana ada yang mau menjadi pasangan saya, kak. Gimana mau jadi ibu rumah tangga!" jawab Laras sebisanya.


Andre tertawa begitu mendengar jawaban Laras, "tentu saja ada aku, tapi kamu harus mau menunggu," ungkap Andre.


Laras terdiam. Ucapan Andre membuatnya bingung. Setahunya, Andre masih menyukai Ara.


"Bagaimana dengan Ara?"


Andre terpaku. Ternyata Laras masih meragukan hatinya.


"Ara adalah adikku, Ras. Kami tumbuh bersama-sama. Aku mengganggapnya hanya sebagai saudara. Tapi hatiku sepenuhnya hanya milikmu. Jangan ragukan aku!" ucap Andre tegas. Dia tidak ingin Laras meragukan perasaannya.


"Ta-tapi ...." Laras kembali gagap.


Andre segera meraih tangan Laras dan menggenggamnya erat.


"Perasaanku sangat jelas, Ras. Aku sangat menyukaimu," ucap Andre tanpa ragu sedikit pun.


Laras hanya tertunduk. Entah mengapa matanya basah. Perkataan Andre malah membuatnya bersedih.


Aldy malah kebingungan melihat Laras nangis.


"Laah! Mengapa kamu malah nangis? Apa kata-kataku salah?"


Laras mengusap airmata yang mengalir di pipinya.


"Aku kira kakak masih menyukai Ara!" ungkap Laras pelan.


"Haduh! Kamu ini, Ras. Aku kan sudah jelaskan perasaanku sama Ara itu bagaimana. Apa perlu aku berlutut agar kamu mau percaya padaku?!" Aldy segera berdiri dan bersiap untuk berlutut.


Laras melotot, dia tidak mau Andre berlutut apalagi di depan banyak orang. Dia pun segera menarik baju Andre.


"Ja-jangan, kak. Malu dilihat orang! Iya-iya, aku percaya kakak," sungut Laras.


Andre tersenyum puas. Laras sudah mengakui perasaannya meski harus dipaksa.


*****

__ADS_1


__ADS_2