Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
TAMAN PENUH KENANGAN #2


__ADS_3

Ara terus saja berlari tanpa henti mengitari taman. Baginya tempat itu seperti tempat bermain. Yah! Dulu taman itu memang seperti taman bermain bagi Ken juga Ara. Karena di sana mereka bisa tertawa lepas.


Kemudian, langkah Ara terhenti tepat di pinggir kolam yang ada air mancur di tengahnya. Ara menatap kolam itu lekat. Bayangan seorang laki-laki muncul. Wajahnya bersinar sehingga gak kelihatan jelas.


"Aku akan mengambil fotomu, Ra!" ucap laki-laki itu seraya memotret Ara dari hapenya, "lihatlah! Kamu emang cantik, kan!" katanya lagi dengan senyum mengembang.


Perlahan bayangan itu menghilang, berganti dengan sosok dokter Ken.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, Ra?" tanya Ken ketika melihatnya dengan tatapan aneh.


"Gak apa-apa, Pak dokter. Ara seperti melihat seseorang yang mirip dokter," jawab Ara yang masih kebingungan.


"Benarkah? Dimana orang itu? Apa setampan aku?" tanya Ken sedikit bercanda.


Ara malah semakin bingung. Perkataan dokter Ken seperti pernah didengarnya.


"Orang itu gak ada wajahnya, Pak dokter!" jawab Ara singkat.


"Apa? Gak ada wajahnya? Apa dia hantu?"


Ara menggeleng pelan, "entahlah. Tapi, orang itu mau memotret Ara," jawab Ara pelan.


Ken terdiam. Dia teringat kejadian sewaktu meminta untuk memotret Ara. Peristiwa itu tepat di mana mereka berdiri sekarang.


"Bagaimana kalau sekarang aku memotretmu juga? Buat menambah semangatmu belajar dan nanti bisa kuliah disini," usul Ken yang memang berharap Ara kembali seperti dulu.


"Boleh, Pak dokter. Nanti Ara kasih tahu Pak dokter Raffi kalau Ara pernah kesini!" jawab Ara antusias.


Ken sedikit kurang suka kalau Ara menyebut dokter Raffi lagi. Ken harus bisa menahan perasaannya. Setidaknya, dia bisa mempunyai foto Ara sekarang.

__ADS_1


"Baiklah. Kamu bisa menunjukan foto itu kepada siapa saja, kok!" ujar Ken datar. Dia benar gak suka Ara menyebut nama itu.


Ken pun membuka hapenya dan mulai memotret Ara dari berbagai sudut. Ara sangat senang. Ken ingat kalau dulu, Ara sangat sulit difoto. Dia harus mengeluarkan jurus mautnya agar Ara mau.


"Apa boleh aku berfoto denganmu, Ra?" tanya Ken setelah beberapa kali memotret Ara.


"Tentu aja boleh, Pak dokter. Ara senang bisa satu foto dengan Pak dokter!" ujar Ara yang langsung menempel ke badan Ken.


Tentu aja, dada Ken bergemuruh ketika berdekatan dengan Ara. Sepertinya dia jatuh cinta lagi!


"Ayo, Pak dokter. Ara mau masuk ke dalam kelas!"


Ara pun kembali berlari setelah selesai berfoto. Tak lama, Ara berhenti di depan gedung kampus. Dia seperti mengenali tempat itu. Namun, Ara gak mengingatnya sama sekali.


Ken tertegun ketika melihat Ara berdiri di tempat yang sama seperti kejadian pot kembang yang jatuh dari atas. Ara kelihatan seperti sedang mengingat sesuatu. Apakah Ara mengingat kejadian buruk itu?


Tiba-tiba, angin berembus kencang. Ken terpejam sesaat. Ketika membuka matanya, dia sangat terkejut melihat pot kembang di atas Ara sedikit lagi akan terjatuh.


Ara menoleh. Dia gak bisa mendengar ucapan Ken. Angin yang berembus cukup kencang membuat perdengarannya berkurang. Ara tertegun. Dia seperti pernah mengalami kejadian yang sama.


Ken berlari secepat mungkin untuk sampai ke tempat Ara. Dia gak ingin terjadi hal buruk dengannya. Sebentar lagi, pot kembang itu akan menimpa Ara.


Beberapa detik kemudian, seorang gadis mendorong tubuh Ara hingga terhindar dari pot kembang yang langsung jatuh ke atas tanah.


"Kamu gak apa-apa, Ra?" Ternyata, gadis itu adalah Laras.


Ara yang sangat terkejut berusaha untuk mengenali gadis itu. Apalagi, dia mengetahui namanya.


"Iya, Ra. Kamu gak apa-apa. Aku sudah memberitahumu soal pot kembang itu. Tapi, lariku kurang cepat!" Ken sampai juga dengan ngos-ngosan.

__ADS_1


"I-iya, Ara gak apa-apa. Sepertinya Ara juga pernah ada di sini. Tapi, apa itu cuma mimpi, ya? Ka-kamu siapa?" tanya Ara setelah melihat Laras. Perasaan itu sangat jelas meski gak ada di dalam ingatannya.


"Mereka memanggilku Upik Abu, Ra. Tapi kamu selalu memanggil namaku dengan benar. Namaku adalah Laras, teman kampusmu. Maafkan aku jarang menjengukmu. Aku sibuk kerja dan kuliah. Kau kan ingat tempat magang kita dulu. Mereka menanyakanmu!" terang laras. Dia memang tahu kalau Ara kehilangan ingatannya. Tapi, Laras juga merindukan Ara yang dulu.


"Teman kampus? Apa Ara pernah kuliah dengan kamu di sini? Sebenarnya, Ara juga merasa pernah di sini. Terus magang itu apa?" tanya Ara yang semakin kebingungan.


"Iya, Ra! Magang itu bekerja sambil kuliah. Kita kuliah di sini, sama Kak Ken juga. Apa kabar Kak Ken?" Laras beralih kepada Ken. Dia bersyukur Ken kembali.


"Aku baik, Ras. Aku juga baru kembali!" jawab Ken yang masih menyesali kepergiannya meninggalkan Ara.


Ara benar-benar bingung. Dia melihat Laras dan Ken bicara seakan sudah kenal. Dia pun melepaskan pandangan ke seluruh penjuru tempat itu. Tempat yang tidak asing.


Sebuah bayangan seorang gadis muncul. Rambutnya keriting panjang dan wajah kemerahan. Dia berjalan menunduk diantara banyak orang seakan tidak mau kelihatan. Ara seperti mengenal gadis itu. Apakah dia adalah dirinya?


"Ara sedikit pusing, apa kita bisa pulang Pak dokter. Oh, iya. Apa kamu mau ikut ke rumah Ara, Laras?"


Laras terdiam. Dulu Kak Aldy melarangnya menyinggung masa lalu Ara. Makanya Laras memilih menjauh. Sampai sekarang pun, Laras ingin mengungkapkannya.


Ken mengangguk seakan menyetujui permintaan Ara. Dia sangat tahu kehadiran Laras bisa membuat Ara mengingat kenangannya yang hilang.


"Baiklah, Ra. Aku akan ikut dengan kalian!" jawab Laras yang sudah memutuskan tidak akan menjauhi Ara lagi.


"Nak Laras? Syukurlah kalian sudah ketemu lagi!" tanya Mak Isah ketika melihat Ara kembali bersama Laras.


"Iya, nek. Kebetulan tadi kami bertemu. Apa boleh saya ikut bersama Ara, nek?" tanya Laras sopan.


"Tentu aja boleh, Nak Laras. Nenek malah senang kalian bisa bersama lagi. Ara juga pasti sangat senang bertemu denganmu! Iya, kan Ra?"


Ara hanya mengangguk. Ternyata neneknya juga mengenal Laras. Sepanjang perjalanan Ara jadi pendiam. Dia hanya mendengar ocehan neneknya yang mengobrol dengan Laras. Ingatan Ara sedikit demi sedikit telah kembali.

__ADS_1


Ken mengamati Ara dari kaca spion. Dia tahu, Ara sedang memikirkan sesuatu. Ara lebih pendiam seperti dulu. Apakah ingatan Ara sudah kembali?


*****


__ADS_2