Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
MELANGKAH PASTI #3


__ADS_3

Laras baru aja keluar dari tempat kerjanya. Sudah jam sebelas malam. Hari ini banyak pekerjaan dan kejadian gak mengenakan. Jiwa dan raganya terasa sangat lelah. Laras hanya ingin merebahkan tubuhnya di kasur empuk.


Sebentar lagi bus terakhir datang. Laras berharap ada tempat duduk untuknya beristirahat. Pekerjaannya sekarang lumayan menguras energi, apalagi skripsi yang belum selesai padahal sebentar lagi sidang. Sepertinya malam ini, Laras harus begadang lagi.


Tiba-tiba, sebuah motor berhenti di depan Laras. Pengemudinya memakai helm tertutup sehingga Laras gak jelas melihat wajahnya.


"Ka-kak Andre?"


Laras sangat terkejut ketika laki-laki itu membuka helmnya. Dia adalah Andre!


"Iya, Ras. Ini aku. Ayolah, aku akan mengantarmu pulang!" ungkap Andre yang sengaja menemui Laras.


Wajah Laras semringah. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Laras sudah menunggu pertemuan seperti ini.


Tapi, begitu teringat kejadian di bandara, wajah Laras berubah. Gadis bule yang mencium Andre terbayang di matanya. Dia pasti bukan gadis biasa.


"Maaf, kak. Aku naik bus aja. Sebentar lagi juga datang," tolak Laras. Dia gak mau berdekatan dengan laki-laki milik orang.


"Gak apa-apa, Ras. Ada yang mau aku omongin!" ucap Andre penuh harap.


"Sekali lagi, maaf kak. Ketika di bandara, saya sempat nelihat kakak dengan gadis lain. Saya yakin hubungan kakak dengan gadis itu sangat istimewa. Saya mengerti, kok. Jadi, kakak gak perlu menjelaskan apapun kepada saya!" ungkap Laras dengan penuh kepastian. Hatinya sudah tertata meski sakit itu juga nyata.


"Laura adalah istriku. Aku menikahinya karena ayahnya adalah Ceo di perusahaan tempatku bekerja. Pernikahan itu terjadi sangat cepat. Tapi dihatiku selalu ada kamu, Ras. Kita tetap bisa menjalankan hubungan meski aku sudah menikah!"


Laras tertegun mendengar ucapan Andre. Jadi, Andre mengajaknya tetap bersama dan mengkhianati istrinya.


"Gak, kak. Lupakanlah saya. Jangan khianati istri kakak. Maaf, kak. Busnya sudah datang. Saya harus pergi!"


Laras segera naik ke dalam bus yang berhenti tepat di depannya. Dia gak menoleh lagi ke belakang meski keinginan itu sangat kuat. Kisah mereka sudah lama berakhir. Laras gak akan mengenangnya kembali meski pun tanpa terasa, air mata membasahi pipinya.


Andre menarik napas panjang. Bus yang membawa laras sudah gak kelihatan. Dia merasa kehilangan sesuatu dan jiwanya terasa hampa.


Entah, sejak kapan Andre jadi terobsesi dengan pekerjaannya. Mungkin karena banyak kesempatan dan gak mau menyia-nyiakannya. Hingga akhirnya ambisi itu memisahkannya dari orang yang sangat dicintai yaitu Laras.


*****


"Lihatlah, Ras. Ken memberikan cincin ini. Cantik kan?" Ara memamerkan cincin di jarinya di depan Laras. Saat ini, mereka sedang berada di taman kampus.

__ADS_1


Laras berusaha tersenyum meski berat, "cantik, Ra. Apa kamu sudah tunangan sama Ken. Aku ikut senang, Ra!" sahut Laras pelan.


Ara menatap Laras lekat. Ada sesuatu yang terjadi kepada sahabatnya itu. Dia baru sadar kalau mata Laras sembab.


"Ada apa, Ras. Apa kamu habis menangis? Apa ada kabar dari Kak Andre?" Ara bisa menebak kalau ada hubungannya dengan Andre.


Laras terdiam. Matanya kembali berkaca-kaca, " semalam aku udah bertemu dengan Kak Andre, Ra!"


"Terus, mengapa kamu sedih?" Ara semakin penasaran. Seharusnya Laras gembira karena bisa bertemu lagi dengan Andre.


Laras menguatkan hatinya. Dia gak mau menjadi lemah. Apalagi di depan sahabatnya.


"Kak Andre sudah menikah, Ra. Aku melihatnya sewaktu siaran di bandara. Kak Andre sedang bersama seorang gadia bule yang ternyata adalah istrinya!" ungkap Laras sedang suara bergetar.


"Menikah? Masa sih, Ras. Dulu kan selalu ngejar-ngejar kamu? Kalau ada disini, aku akan mencubitnya sampai minta ampun!" Ara malah jadi geregetan dengan Andre. Dia juga sangat marah karena sudah menyakiti sahabatnya.


"Kak Andre sekarang sudah berubah, Ra. Tapi aku gak mau menekannya. Dia pasti punya alasan. Hidup diluar negeri sendirian itu gak mudah dan perlu biaya yang gak sedikit. Kak Andre sangat bekerja keras agar bisa kuliah dan ke luar negeri. Aku gak akan membencinya atas apapun!"


Ara tertegun mendengar pengakuan Laras. Hatinya memang selalu putih meski terkadang sekitarnya mencoba menodai ketulusannya.


"Tenanglah, Ras. Kan masih ada aku. Oh, iya. Kapan kamu libur? Gimana kalau kita ke tempat rekreasi. Aku kangen jalan-jalan sama kamu!" celetuk Ara yang ingin mengurangi kesedihan Laras.


Ara kasihan juga dengan Laras. Dari dulu selalu saja nelangsa, "okelah kalau begitu! Sini, aku pijat kepalamu aja biar gak terlalu pusing!"


Ara langsung berdiri dan mulai memijat bagian belakang kepala Laras. Mulanya Laras gak nyaman namun setelah beberapa lama mulai relax.


"Makasih ya, Ra. Kamu selalu ada buat aku. Malah dulu aku sempat mengacuhkanmu!" ungkap Laras lirih.


"Sudahlah, Ras. Yang lalu biarlah berlalu. Aku juga ingin melangkah ke depan untuk masa depanku. Aku akan mengambil kursus bahasa aja biar lebih cepat. Aku mau melamar kerja di tempat magang kita yang dulu!"


"Benar, Ra? Kenapa pakai melamar kerja segala. Aku kan sudah kerja di sana. Mereka selalu menanyakanmu! Katanya kamu disuruh jadi presenter seperti dulu," jelas Laras.


"Benarkah, Ras. Hhmmm, tapi aku blum pede. Aku mau menambah ilmu tentang dunia penyiaran dulu, Ras!" ungkap Ara sangat antusias.


"Iya, Ra. Aku sangat senang kita bisa bekerja sama-sama lagi. Hanya aja, aku sering ditugaskan di lapangan. Tapi aku senang juga sih, bisa jalan-jalan terus!"


Suasana pun lebih berwarna dan menghiasi hati keduanya. Mereka punya minpi masing-masing dan siap melangkah pasti menuju ke masa depan. Walau apapun yang akan terjadi, mereka akan selalu bersama.

__ADS_1


*****


"Kak Aldy!!!" panggil Ara yang sudah menunggu Aldy di ruang tamu. Di sana juga ada Laras yang tengah membaca buku.


Aldy sangat terkejut mendengar suara Ara yang seperti petir. Dia akan menjewer adiknya itu tapi ada Laras disana.


"Ada apa sih, Ra. Bikin orang jantungan aja, sih!" sungut Aldy.


Ara menaikan kedua tangannya di atas pinggang. Matanya melotot seperti orang kemasukan.


"Teman kakak itu tuh! Dia sudah menyakiti Laras. Sekarang suruh kesini, biar Ara cubit sampai minta ampun!" teriak Ara.


Laras sangat terkejut melihat kelakuan Ara dan segera menghampirinya, "sudahlah, Ra. Gak usah diungkit lagi!" ucapnya sambil menarik tangan Ara.


"Biar, Ras. Aku akan memberi pelajaran sama Kak Andre! Sampai tega menikah diam-diam padahal Laras selalu menunggunya!"


"Ra ...," bisik Laras yang sedikit malu karena ada Aldy.


"Oh, soal Andre?" Akhirnya Aldy mengetahui sebab Ara sampai emosi seperti itu.


"Iya, dia! Cepat telepon dan suruh kesini!" perintah Ara. Andre memang dulu sering ke rumah Ara dan tidur di kamar Aldy. Mereka sering bermain bersama.


"Beneran mau ketemu sama Andre, Ras. Kalau kamu mau, aku akan menelponnya?" Aldy malah bertanya kepada Laras.


"Gak usah, kak. Masalah kami udah selesai. Udahlah, Ra. Aku udah gak sedih lagi, kok!"


"Tapi aku masih emosi, Ras. Lihat aja, tanganku sampe gemeteran!" sahut Ara sambil memperlihatkan tangannya yang memang gemetaran.


"Aakh! Itu sih karena belum makan. Nih, kakak bawa martabak kesukaanmu!" Aldy menyodorkan sebuah bungkusan.


Konsentrasi Ara langsung buyar, "iya, juga sih. Ya sudah, sini Ara makan. Tapi nanti lanjut lagi emosiannya!" Ara langsung menyambar bungkusan martabak yang diberikan kakaknya.


"Ayo, Ras. Kita ke kamar aja!" lanjut Ara yang langsung menarik tangan Laras.


"Eeh, aku juga lapar!" teriak Aldy tapi Ara cuek aja. Aldy hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Ara.


Setidaknya, Aldy sempat melihat senyuman di wajah Laras. Berharap masalah Andre gak membuatnya bersedih terlalu lama.

__ADS_1


*****


__ADS_2