Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
SIAPAKAH DIA? #2


__ADS_3

Ken berlari seperti orang gila untuk mengejar Ara. Terus mencarinya ke sana ke mari tanpa berpikir jernih. Rindu yang tersimpan dalam sebentar lagi akan membuncah.


Tak lama kemudian, Ken pun menghentikan langkahnya. Putus asa memenuhi relung hatinya. Mungkin, takdir memang tidak mengijinkannya untuk bertemu Ara selamanya.


Kemudian pandangannya tertuju kepada seseorang. Di hadapannya ada seorang gadis yang seperti anak kecil tengah menangis di sebuah kursi. Di depannya ada seorang laki-laki berseragam dokter sedang mengobati kaki gadis itu yang sedikit terluka.


"Aduuuh! Sakit, Pak dokter. Pelan-pelan aja, dong!" ujar gadis itu dengan mata yang masih basah.


Laki-laki berjas dokter itu hanya tersenyum penuh kesabaran, "iya, iya. Ini sudah pelan-pelan, kok. Nah, lukamu ini sudah dikasih obat, sebentar lagi juga sembuh. Jangan menangis lagi ya, Princess Ara!" ucap dokter itu lembut.


"Iya, Pak dokter. Kaki Ara jadi gak sakit lagi. Makasih ya, Pak dokter," cetus Ara yang langsung memeluk dokter itu tanpa canggung sedikitpun.


"Nah! Cepatlah masuk ke kelasmu. Kalau sudah selesai, nanti aku akan kasih hadiah!" ucap dokter itu lagi sambil mengusap sisa airmata gadis itu.


"Asyiiik, makasih ya, Pak dokter yang supeer dupeer baiik!"


Sekali lagi, gadis itu memeluk sang dokter. Tanpa sadar, dia melihat ke arah Ken yang masih tertegun memandangi mereka.


"Siapa dia, Pak dokter? Mengapa melihatku seperti itu?" tanya Ara lugu.


Dokter itu tersenyum dan membalikan badan. Setelah melihat orang yang dimaksud Ara, wajahnya langsung berubah.


"Mungkin orang itu terpesona dengan kecantikan Princess Ara. Sudahlah! Cepat masuk ke kelasmu. Nanti terlambat!" ujar dokter itu sedikit mendorong tubuh gadis aneh itu agar lepas dari pelukannya. Gadis aneh itu pun mengangguk dan segera berlari menjauh.


Ken masih tertegun di tempatnya semula. Dia mengenal dokter di depannya dan gadis aneh itu. Dia adalah dokter Raffi dan Ara!


"Apa kabar, Ken!"


Lamunan Ken buyar ketika dokter Raffi ada di depannya.


"Ooh baik, dok. Saya baru saja sampai dan akan menemui ibu saya. Apa kabar dok?"


Ken mengulurkan tangannya. Sikapnya seakan tidak terjadi apa-apa.


Dokter Raffi menyambut ukuran tangan Ken. Sikapnya juga biasa saja meski hatinya berdegup kencang.


"Aku selalu baik. Oke, aku mau memeriksa pasien dulu. Senang sekali kamu sudah di sini!"

__ADS_1


Ken mengangguk dan langsung pergi. Namun, di sebuah koridor dia menghentikan langkahnya dan terduduk lemas di sebuah kursi.


Ternyata benar. Gadis aneh itu adalah Ara! Kekasihnya yang ditinggalkan begitu lama. Tapi, mengapa dokter Raffi memperlakukan Ara dengan istimewa. Apakah mereka ada hubungan lebih dari pasien dan dokter?


Dokter Raffi kembali memikirkan kedatangan Ken. Sikapnya sangat aneh. Seharusnya, dia masih mengenali Ara meski penampilannya berbeda. Namun, sikap Ken biasa saja.


Sementara, Raffi mulai khawatir Ara akan mengenali Ken. Seharusnya, dia senang karena ingatan Ara kembali. Entah mengapa, Raffi tidak menyukai hal itu terjadi.


Suasana di sekolah Ara berlangsung lancar. Ternyata Jessica bekerja sebagai guru di sana. Semua murid banyak yang menyukainya karena ramah dan cantik, begitu juga Ara.


Biasanya Ara selalu saja berlarian, kali ini dia duduk diam memperhatikan Jessica dengan tenang.


Setelah selesai belajar, Ara langsung mendekati Jessica, "kakak cantik sekali. Pasti banyak yang menyukai kakak," puji Ara.


Jessica tersenyum. Dia sudah biasa mengajar anak-anak berkebutuhan khusus sebelumnya.


"Ara juga cantik, kok. Pasti banyak yang menyukai kamu juga!" sahut Jessica yang balik memuji.


"Tapi gak sebaik dan secantik kakak!" cetus Ara lagi.


Jessica hanya tertawa kecil. Sebenarnya usia Ara gak jauh darinya. Entah apa sebabnya Ara jadi seperti itu? Jessica ingin mengetahui riwayat kesehatannya agar bisa mengenalnya lebih baik lagi.


Terdengar suara seseorang. Ara dan Jessica pun menoleh padanya.


"Aaakh! Ken. Kamu tahu aja kalau kelasku sudah selesai!" ucap Jessica dengan mata bercahaya.


Ara memerhatikan laki-laki di depannya. Wajahnya langsung berubah ketika mengenalinya.


"Ara pernah melihat kakak. Kakak kenal dengan dokter Raffi, kan? Hhmmm, pasti kakak ini pacarnya kak Jessica!" celetuk Ara yang sama sekali gak mengenali Ken.


Ken berusaha mengendalikan dirinya. Mengetahui kondisi Ara, dia gak mau memaksakan diri. Apalagi rasa bersalah karena sudah meninggalkan Ara cukup lama.


"Iya, aku kenal dokter Raffi juga dokter Ratna. Tapi aku bukan pacarnya bu guru yang cerewet ini. Kenalkan, namaku Ken!" jawab Ken senatural mungkin. Dia pun mengulurkan tangannya.


Ara tertegun. Dia pun langsung menyambut uluran tangan laki-laki yang baru dilihatnya itu. Tangan mereka pun saling bersentuhan. Ara merasakan sesuatu yang tidak asing.


"Namaku, Arabella. Panggil aja Ara!" ucap Ara memperkenalkan diri.

__ADS_1


Ken berusaha tersenyum, padahal ingin sekali memeluk Ara. Kerinduan itu seperti sebuah bom. Namun belum saatnya untuk meledak.


"Hai, Ara. Senang sekali bisa mengenalmu. Apa kamu mau makan siang denganku?" tanya Ken yang gak mau menyia-nyiakan kesempatan lebih lama dengan Ara.


"Heh! Kita kan sudah janji mau makan siang, Ken!" ucap Jessica yang mengingatkan janji Ken.


"Kamu kan mau menemui mami!" sahut Ken dengan tatapan tajam seakan menghipnotis Jessica.


"Oh, iya aku lupa! Ya, sudah. Kamu pergi saja sama Ara, ya. Jaga dia baik-baik!" pesan Jessica yang mengikuti kemauan Ken.


"Bagaimana, Nona Ara. Apa kamu mau makan siang denganku?" tanya Ken.


Ara diam saja. Dia teringat akan bertemu dengan dokter Raffi setelah selesai sekolah.


"Nona Ara ada janji denganku. Iya kan, Nona Arabella?"


Tiba-tiba, dokter Raffi muncul. Ken sangat terkejut dengan kedatangannya.


"I-iya, pak dokter. Ara juga mau bilang!" ucap Ara juga.


Jessica yang baru pertama melihat dokter Raffi sedikit grogi. Dia baru melihat ada dokter ganteng di rumah sakit itu. Dia pasti akan betah bekerja di sana.


"Kenalkan, saya Jessica. Gurunya Nona Ara. Saya baru pertama kali mengajar jadi saya mohon bimbingannya," ungkap Jessica yang langsung menunjukan diri.


Dokter Raffi tertawa kecil, "santai, aja. Jangan seformal itu dengan saya. Saya juga belum lama kerja di sini. Maaf, ya. Saya pergi dulu. Mari, Nona Ara!"


Dokter Raffi langsung menarik tangan Ara tanpa canggung.


"Ara pergi dulu ya, kak. Bye bye ...."


Ara pun mengikuti langkah dokter Raffi sambil melambaikan tangannya.


Jessica juga melambaikan tangannya. Dia sedikit heran mengapa Ken bisa seakrab itu dengan Ara padahal baru bertemu. Bahkan Ken langsung mengajaknya makan bersama.


"Kamu kenal dengan Ara, Ken?" tanya Jessica terus terang.


Ken gak menjawab. Dia masih memandangi kepergian Ara bersama dokter Raffi. Sepertinya Ara sangat nyaman bersamanya. Apakah Ara benar-benar tidak mengenalinya? Bagaimana dengan hatinya? Sementara, Ken merasakan ada sesuatu bergejolak di dalam hatinya. Apa itu cemburu???

__ADS_1


*****


__ADS_2