Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
HUKUMAN YANG DATANG PERLAHAN #1


__ADS_3

Ken tak bisa berhenti tersenyum padahal maminya sudah lama pergi. Dia selalu memerhatikan Ara dan membuat gadis itu jadi salah tingkah.


"Sudahlah, Ken. Jangan tatap aku seperti itu!" ucap Ara yang tidak bisa bersembunyi dari tatapan Ken. Dia sudah terikat di ranjang rumah sakit dan tidak bisa kemana-mana.


Ken tertawa kecil meski kurang suka karena Ara masih berbicara formal padanya, "memangnya kenapa? Aku hanya ingin menebus waktu yang terlewat tanpa kamu!" jawabnya tanpa memalingkan wajah dari Ara.


"Tapi aku kan jadi malu, Ken. Jangan-jangan, ada belek di mataku, ya? Apa mamimu juga melihatnya?"


Ara jadi kelabakan dan mengusap matanya sampai berkali-kali.


"Kamu sih, ga bilang-bilang kalau mamimu mau datang!" gerutu Ara.


Ken kembali tertawa melihat tingkah Ara, "gak ada belek kok di mata kamu, Ra. Bahkan kamu lebih cantik dari sebelumnya!"


"Gombal!" celetuk Ara seraya melemparkan bantal ke arah Ken.


Untung saja Ken sigap dan segera menangkap bantal yang dilemparkan Ara.


"Ada apa ini?!"


Tiba-tiba, Aldy muncul. Dia baru saja selesai lembur.


Ken langsung berdiri dan buru-buru mengembalikan bantal Ara.


"Ga ada apa-apa kok, Kak. Apa kakak baru pulang kerja?" tanya Ara yang melihat kakaknya masih memakai seragam kerja.


Aldy mengangguk dan meletakan tasnya di bawah tempat tidur.


"Besok aku libur jadi bisa menjagamu seharian!" jawabnya seraya menatap Ken, "kamu gak kuliah, Ken? Bukankah kamu harus membuat skripsi?" tanya Aldy kepada Ken.


Ken gelagapan karena tidak siap dengan jawabannya. Dia memang tidak bisa konsentrasi karena Ara masih belum sembuh benar.


"I-iya, kak. Mungkin minggu depan kalau kondisi Ara sudah baikan!" jawab Ken sedikit gugup.


"Jangan Ara kamu jadikan alasan. Skripsi itu sangat penting untukmu! Jangan khawatirkan Ara," ungkap Aldy sedikit tegas. Itu untuk kebaikan Ken juga meski sebenarnya kurang suka Ken selalu ada di dekat adiknya.


"I-iya, kak!" jawab Ken singkat.


Ara malah memberi kode seakan sedang mengejek Ken. Padahal itu untuk menghiburnya karena terlalu tegang menghadapi kakaknya.


Ken langsung melotot dan membalas kode yang sama seperti Ara.


"Kalau begitu, saya mau pulang, kak. Selamat tidur, Ra. Jangan begadang, ya!" ucap Ken seraya mengambil tasnya.


Kemudian Ken mengatakan sesuatu kepada Ara meski tanpa suara.


"Apa?" tanya Ara yang tidak bisa mendengar ucapan Ken.

__ADS_1


"Mim pi kan a ku!" ucap Ken lagi dengan lebih lambat.


Ara langsung menjulurkan lidahnya setelah tahu apa maksud Ken.


*****


Malam itu berlangsung dengan tenang. Seperti yang dikatakan Ken, Ara juga memimpikannya. Mereka berada di taman kampus tempat biasa mereka bertemu. Ada Laras dan Andre juga di sana. Mereka tertawa dan saling bercanda.


Hanya saja, Ara seperti melihat seseorang masuk ke dalam kamarnya. Aldy juga tertidur sangat nyenyak sehingga tidak menyadari kehadiran orang lain.


Wajah orang itu sangat menyeramkan dengan bekas luka bakar. Dia hanya berdiri menatap Ara tanpa berbuat apapun.


Ara mengira kalau sedang bermimpi dan tidak terbangun hingga pagi. Namun bayangan orang asing itu masih nelekat dalam pikirannya.


"Ada apa, Ra?" tanya Aldy ketika melihat Ara sedang termenung.


"Semalam Ara memimpikan seseorang yang sangat aneh, kak. Wajahnya cacat seperti bekas terbakar. Dia hanya melihat Ara tanpa melakukan apapun!" ungkap Ara tentang mimpinya.


Aldy tertegun. Dia teringat orang yang sudah mendonorkan darah untuk Ara. Kata perawat, laki-laki itu juga memiliki luka bakar di wajahnya.


"Jangan-jangan, semalam orang itu kesini! Aah, aku tertidur nyenyak sekali sampai tak tahu ada orang yang datang!" gerutu Aldy yang menyalahkan dirinya sendiri.


"Apa kakak mengenal orang itu?" tanya Ara penasaran


Aldy pun mengangguk, "mungkin dia orang yang sudah mendonorkan darahnya untukmu. Tapi, kakak tidak mengenalnya. Siapa sebenarnya orang itu, ya?" Aldy semakin ingin tahu sosok orang berwajah cacat itu.


*****


"Tidaaak! Aku tidak mau masuk penjara. Pergilah! Jangan ganggu aku," teriak Janet sambil melemparkan barang-barang yang ada di dekatnya.


Mami Janet menangis melihat puterinya menjadi seperti itu, "ini mami, net. Kamu gak akan dibawa ke mana-mana apalagi ke dalam penjara. Mami tidak akan membiarkan siapapun membawamu pergi!" ucap Mami Janet tak kalah histeris. Airmatanya terus saja mengalir.


Asisten rumah tangga yang orang Vietnam juga sangat ketakutan melihat anak majikannya seperti itu. Sepertinya dia sudah tidak tahan.


Tiba-tiba, Janet meraih vas bunga yang di atas meja dan melemparnya ke arah asisten rumah tangga itu. Vas bunga itu tepat mengenai keningnya.


"Aaaakh! No no. Aku pergi saja!" katanya langsung berlari keluar kamar sambil menutup keningnya yang berdarah.


Hampir sebulan Janet seperti itu. Maminya tidak akan membiarkan Janet lebih lama. Dia akan membawa psikiater untuk menyembuhkannya.


Janet memang tidak bisa melupakan peristiwa yang telah terjadi. Dia memang sudah lolos dari jeratan hukum. Namun, dia sendiri yang sudah menghukum dirinya.


"Cepat kesini, pih. Janet semakin parah. Dia hampir gila!" ujar Mami Janet di ujung telpon.


Rony yang mulai gelisah dengan kasusnya juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk puterinya.


"Papi sudah menutupi perbuatan Janet untuk sekarang. Tapi suatu saat nanti, peristiwa tabrak lari itu akan terungkap. Papi sudah lelah, mih. Urus saja Janet di sana. Terserah mami mau apakan dia!" ungkap Rony yang sudah putus asa dengan kelakuan puterinya.

__ADS_1


Masalahnya saja sudah banyak, ditambah lagi dengan masalah Janet yang juga semakin pelik.


"Maaf, pak. Pak Remond dari kantor pajak mau menemui bapak!" ujar Sardi, sekretaris Pak Rony.


Rony menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ada lagi masalah yang membuat kepalanya hampir pecah.


"Suruh dia masuk!" kata Rony singkat.


"Baik, pak!" sahut Sardi seraya keluar dari ruangan.


Tak berapa lama, muncul seorang laki-laki muda berpakaian seragam pegawai pajak.


"Selamat siang, pak. Saya Remond dari kantor pajak. Ada beberapa hal yang harus saya bicarakan dengan bapak!" katanya dengan sopan.


"Ya, silakan duduk. Ada apa?" tanya Rony yang merasa tak bersalah.


Remond segera duduk dan mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tasnya.


"Ini adalah file dari kantor pajak. Bapak sudah menunggak pajak selama lima tahun terakhir!" jelasnya.


Rony sangat terkejut mendengar penjelasan Remond.


"Apa? Menunggak pajak selama lima tahun? Mungkin kalian salah! Aku sudah menyelesaikan semua pajak perusahaan setiap tahun!" serunya.


"Tapi, ini adalah berkas sebenarnya, pak. Mungkin bapak sudah membayarnya lewat orang yang salah!" ucap Remond tenang. Dia sering menghadapi orang-orang seperti Pak Rony. Mereka pura-pura sudah membayar pajak padahal belum.


"Aku menyerahkannya kepada Pak Dany di perusahaan pajak juga! Dia sudah membantuku selama sepuluh tahun!" jelas Rony tegas.


"Pak Dany? Setahu saya, dia sudah dipecat karena kasus korupsi, pak!" jawab Remond.


"Dipecat? Kapan?" Rony penasaran.


"Sekitar dua tahun yang lalu, pak!"


"Tapi, belum lama aku masih bertemu dengannya. Bahkan aku memberikan uang pembayaran pajak melalui rekeningnya!"


Rony mulai tersadar kalau sudah ditipu oleh Dany.


"Maaf, pak. Jika begitu silakan ajukan pengaduan ke kepolisian. Tapi bapak masih harus membayar pajak yang selama lima tahun ini. Berikut ini adalah berkasnya, pak!" Remond menyerahkan beberapa file kepada Pak Rony.


Rony langsung membacanya. Kepalanya langsung pusing begitu melihat jumlahnya yang cukup besar hingga sampai satu milyar.


"Gila! Apa sebanyak ini jumlahnya?" tanyanya tak percaya.


"Seperti bapak ketahui, perusahaan milik bapak ada tiga. Belum lagi properti yang bapak miliki. Baiklah! Saya hanya bertugas memberitahukan dan silakan hubungi bagian pembayaran pajak yang resmi. Saya permisi, pak!" Remond pun berdiri dan bersiap untuk pergi.


Rony hanya tertegun melihat berkas yang tadi diberikan Remond. Ternyata dia sudah ditipu Dany selama ini. Akhirnya hukumannya datang perlahan.

__ADS_1


Kepalanya semakin terasa sakit. Dia pun berdiri untuk mengambil obat. Namun pandangannya menjadi gelap. Tak lama, Rony pun roboh dan terjatuh ke lantai. Badannya tidak bergerak lagi. Apakah dia meninggal?


*****


__ADS_2