Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
CINTA SANG IDOLA #1


__ADS_3

Acara peresmian duta kampus berlangsung juga. Ara sedikit gugup begitu melihat banyak mahasiswa dihadapannya. Mau gak mau Ara harus menjalani tugas sebagai duta kampus.


"Apa aku harus memegang tanganmu?" bisik Ken ketika melihat Ara gelisah.


Ara melotot. Ken malah membuatnya semakin gelisah.


"Jangan nambah masalah aah, Ken!"


"Aku gak tega melihatmu gemetaran seperti itu!"


"Gue lebih suka ada di depan kamera daripada ketemu banyak orang secara langsung. Lihatlah mereka! Gadis-gadis itu melihatku seperti srigala yang siap menerkam!"


Ken tertawa kecil. Ara masih bisa bercanda meski sedang gugup.


"Tenanglah! Aku akan menjagamu. Aku kan seorang power ranger!"


"Power ranger? Aah, Ken. Kamu itu lebih pantes jadi idola drakor tahu!"


"Benarkah? Apa aku seganteng itu?"


Ara mulai kesal dengan ucapan Ken. Tanpa sadar mencubit pinggang Ken. Dengan begitu groginya cepat hilang.


"Aaagh!"


Ken tak mampu menahan rasa sakit akibat cubitan Ara meskipun tambah lebay.


"Ada apa, Ken?" tanya Hendrik yang mendengar suara teriakan Ken.


"Ti-tidak apa-apa, pak. Mungkin ada semut nakal di badan saya," jawab Ken sekenanya.


"Setelah ini, kalian ada wawancara dengan wartawan. Pertanyaannya ringan saja, soal misi dan visi kampus. Kalian baca ini dulu, ya!"


Hendrik menyerahkan secarik kertas berisi beberapa info tentang kampus Nusantara.


"Baik, pak!" Ken mengambil kertas itu tanpa banyak pertanyaan.


"Wartawan? Emangnya kita ini artis apa?" gerutu Ara.


"Mungkin nanti kamu bisa jadi artis, Ra. Aku bisa melihatmu lebih sering lewat tv!"


"Ken! Jangan meledek terus, dong. Mau aku cubit lagi, ya!"


Ken cengengesan melihat ekspresi Ara.

__ADS_1


"Nanti dibelakang aja, Ra. Kamu bebas mencubit tubuhku dimanapun!"


"Ken!"


Ara dan Ken sibuk sendiri dan memperlihatkan kemesraan mereka di depan para mahasiswa.


Janet hanya melihat Ken dari kejauhan tanpa perasaan apapun. Hatinya terasa kosong. Aldy yang sudah mengambilnya. Mungkin saja sudah membuang hatinya ke dasar lautan atau menguburnya di pedalaman hutan yang sangat jauh.


"Lihatlah mereka! Udah kayak suami istri aja. Mana pantas duta kampus seperti itu!" celetuk Sisi.


"Tapi, Janet lebih pantas berada disamping Ken daripada Ara!" Dea juga mulai ikut ngomporin Janet.


Sayangnya, Janet tak bereaksi sedikitpun.


"Maaf, gue mau keluar sebentar!"


"Eeh, gue ikut!"


"Gue juga!"


"Kalian disini aja. Nanti akan ada wartawan, aku akan kembali lagi!" cegah Janet seraya ngeluyur pergi.


"Sikap Janet jadi aneh, ya!" Sisi tak bisa melawan perintah Janet.


"Gara-gara cintanya ditolak kakaknya Ara, Janet jadi seperti itu. Kasihan dia!"


"Lagian, ngapain sih ngejar-ngejar cinta kakaknya Ara. Banyak cogan yang seneng sama Janet!"


"Janet emang kayak gitu. Dia lebih suka cowok yang cuek sama dia. Dulu aja dia seneng bener sama Ken. Padahal Ken gak peduli!"


Duh! Sisi dan Dea malah ngerumpiin temennya sendiri!!!


Janet berjalan menuju ke taman. Dadanya terasa sesak dan ingin menghirup udara segar.


Tiba-tiba, Janet melihat bayangan Aldy di ruang admin. Apa matanya salah lihat, ya?


Janet memastikan apakah sosok yang dilihatnya adalah Aldy. Gadis itu memutuskan untuk mencari tahu. Namun baru saja di depan pintu, langkah Janet terhenti.


"Sebentar lagi wartawan akan datang. Ada salah satu yang akan menanyakan soal Pak Rony dan Pak Januar. Mereka juga akan mengungkit peristiwa kematian orangtuamu!"


Terdengar suara seseorang. Janet tidak melihat wajahnya.


"Apa Pak Rony akan datang?"

__ADS_1


"Katanya sih dia mau datang. Kalau Pak Januar pasti ada. Lihat saja apa yang mereka katakan!"


"Aku sudah gak sabar! Meskipun polisi sudah tidak bisa mengungkap kematian orangtuaku, mereka tetap harus bertanggung jawab di depan masyarakat!"


"Aku dengar masih ada satu lagi yang terlibat. Tapi aku belum yakin!"


"Aku akan mencari tahu siapapun yang sudah terlibat dalam kematian orangtuaku!"


Janet sangat mengenal suara Aldy. Mereka juga membicarakan soal papinya dan papinya Ken. Sebenarnya apa yang sudah terjadi?


"Tunggu sebentar! Sepertinya ada orang lain di luar," ucap Andre yang seperti melihat bayangan. Dia pun berjalan ke arah pintu.


Janet gemetaran karena takut ketahuan.


"Memangnya siapa? Semuanya sedang ada diruang aula!"


"Ini, aku!"


Akhirnya Janet keluar dari persembunyiannya.


"Janet? Sedang apa kamu di sini?" tanya Andre heran.


Aldy sedikit sungkan melihat Janet di depannya.


"Nona Janet!" sapa Aldy.


"Ternyata penglihatanku gak salah. Aku melihatmu di lorong tadi. Aku mengira kalau salah lihat jadi aku menyusulmu!" terang Janet yang pura-pura tak mendengar pembicaraan Aldy dan Andre.


"I-iya, non. Saya mau bertemu dengan Andre. Dia mendapat beasiswa keluar negeri. Sepertinya saya gak bisa menemuinya lagi. Iya kan, Dre!" ucap Aldy seraya menepuk pundak Andre.


"Oh, iya! Betul sekali. Bagaimana kalau kita makan siang tapi di kantin saja! Setidaknya untuk mengingat kalau kita pernah kuliah disini!" jawab Andre juga.


"Benarkah? Ya sudah, aku akan ikut dengan kalian!" celetuk Janet.


Aldy dan Andre jadi kebingungan.


"Aah, jangan. Kami akan membicarakan sesuatu yang sedikit parno. Biasa soal gadis-gadis disini!" jawab Andre sebisanya.


"Apa aku salah satu yang akan kalian bicarakan? Apa orangtuaku juga?"


Aldy dan Andre kembali tertegun. Jangan, jangan ... Janet sudah mendengar pembicaraan mereka!


*****

__ADS_1


__ADS_2