Pacarku Idola Tajir

Pacarku Idola Tajir
KENANGAN YANG TAK BISA TERLUPAKAN #1


__ADS_3

Dokter Raffi masih memegang boneka jari di tangannya. Boneka yang sama seperti yang diberikannya kepada Ara.


Ingatannya kembali ke masa silam ketika ayahnya meninggal dunia di rumah sakit. Ibunya sudah meninggal sejak dia kecil. Ayahnya pun meninggal ketika usianya tujuh belas tahun.


Saat itu, Raffi sangat terpuruk. Hidupnya tinggal sendirian tanpa orang tua. Dia menangis di koridor rumah sakit. Boneka jari pemberian ibunya dahulu selalu menemaninya.


Tiba-tiba, seorang anak perempuan berusia 7 tahun muncul sambil menangis. Dia terus saja menangis dengan suara yang cukup keras. Raffi agak kesal karena anak perempuan itu sudah mengganggunya.


Tak berapa lama, datang seorang anak laki-laki yang tak jauh beda usianya dengan anak perempuan itu. Mungkin dia adalah kakaknya.


"Jangan menangis, Ra. Ayah dan ibu sudah tenang di surga!" ucap anak laki-laki itu.


"Tapi, Ara sendirian kak. Ara kangen ayah dan ibu," jawab anak perempuan itu tanpa menghentikan tangisnya.


Raffi tidak bisa tinggal diam. Nasib anak itu seperti dirinya yang sudah tidak mempunyai orang tua.


Raffi pun menghampiri anak kecil itu, "hei, jangan menangis terus. Ambillah boneka jariku ini. Dia akan menemanimu dan menghapus semua kesedihanmu!" ungkapnya.


Anak perempuan itu pun berhenti menangis. Dia menatap Raffi dengan mata yang masih basah sambil memerhatikan boneka jari yang disodorkannya.


"Ambillah," ucap Raffi lagi. Kali ini lebih tulus. Dia tahu perasaan anak perempuan itu yang pasti sangat sedih.


"Terima kasih!" Anak perempuan itu pun mengambil boneka jari dari Raffi.


Sebuah senyuman mengembang di bibir anak perempuan itu. Kesedihan di hati Raffi pun sirna.


Di saat yang lain. Raffi melihat anak perempuan itu kembali menangis ketika melihat jenazah orang tuanya di bawa pergi. Dia sangat histeris sampai menjatuhkan boneka jari pemberian Raffi.


Raffi segera memungut boneka itu dan akan memberikannya lagi kepadanya. Namun, anak perempuan itu sudah masuk ke dalam mobil. Raffi berlari mengejarnya namun sudah terlambat.


Akhirnya, boneka jari itu kembali padanya. Raffi selalu mengingat peristiwa itu dan berharap masih bisa bertemu dengannya suatu saat nanti.


Makanya, Raffi selalu memberikan boneka jari kepada setiap pasien perempuannya. Dia berharap boneka jari itu akan mempertemukannya dengan anak perempuan yang pernah dijumpainya dahulu.


Ara mengingatkan Raffi kepada anak perempuan yang dicarinya. Nama mereka sama bisa jadi orang yang sama juga. Sayang, Ara tidak ingat apapun ketika Raffi memberikan boneka jarinya.

__ADS_1


"Hallo, Ra. Apa kabarmu hari ini?" tanya Raffi gak kayak seorang dokter. Gayanya yang santai sangat disukai pasiennya termasuk Ara.


"Alhamdulillah baik, dok. Oh iya, kenalkan ini adalah kawan kuliahku tapi seperti saudara perempuanku. Namanya Laras!" jawab Ara yang mengenalkan Laras kepada dokter Raffi.


"Hai, dok. Nama saya adalah Laras. Mereka menamaiku Upik Abu!" Laras juga mengenalkan dirinya dan sedikit bercanda. Dia pun mengulurkan tangannya. Gadis mana yang mau menyia-nyiakan bisa bersalaman dengan dokter seganteng ini, pikir Laras.


"Upik Abu? Apa kamu seorang pelayan?" tanya Raffi dengan senyuman.


"I-iya, dok. Saya adalah seorang pelayan tuan puteri Ara," jawab Laras masih dengan bahasa komedi.


"Bukan! Laras bukanlah pelayan. Dia adalah seorang tuan puteri!"


Tiba-tiba, Andre muncul. Dia tidak suka kalau Laras selalu menyebut dirinya seorang pelayan.


"Cuma bercanda aja, kak!" jawab Laras sambil memasang muka cemberut.


Andre tetap pada pendiriannya, "tetap aja aku gak suka. Kamu itu punya aura seorang puteri. Bukan pelayan!"


Laras dan Andre saling pandang dengan mata nanar. Ara dan dokter Raffi hanya tertawa kecil melihat kelakuan keduanya.


"Iya, dok. Cuman masih belum launching!" jawab Ara juga dengan gurauan.


"Lalu bagaimana dengan pacarmu? Apa dia masih di sini?" Raffi jadi ingat Ken yang kelihatan sangat berwibawa.


"Entahlah, tadi sih ada di sini!" jawab Ara singkat. Dia juga gak tahu kemana perginya Ken.


"Mungkin ke kantor maminya, Ra. Tadi sih bilang begitu!" sahut Laras. Ken sempat bicara dengannya sebelum pergi. Ketika itu Ara sedang tidur.


"Maminya? Apa beliau dokter di sini?" tanya Raffi ingin tahu.


Ara tidak bisa menjawab karena tidak mengingat siapa ibunya Ken.


"Kalau gak salah namanya dokter Ratna, dok!" Laraslah yang menjawab.


Andre gak suka kalau Ara terlalu banyak tahu soal Ken. Sepertinya dia mulai cemburu lagi.

__ADS_1


"Dokter Ratna? Pantes, aku sepertinya sering melihatnya di rumah sakit ini.


"Iya, dok. Katanya sih Ken mau magang di sini. Dia kan kuliah di jurusan kedokteran juga!" jelas Laras lagi.


"Ras! Kamu kok tahu banyak soal Ken?" tanya Andre yang hampir tidak bisa mengendalikan rasa cemburunya.


"Tahulah! Ken kan idola di kampus. Pastilah aku tahu banyak soal dia! Selain idola, Ken juga tampan dan keren. Banyak yang suka padanya!"


Andre semakin naik pitam, "sudahlah, Ras. Ikut aku aja ke kantin, yuk!" ajak Andre seraya menarik tangan Laras.


"Eeeh, tapi kak!"


Andre tak peduli jawaban Laras. Dia tidak suka kalau Laras terlalu memuji Ken.


Raffi tertawa kecil melihat keduanya. Ketika melihat ke arah Ara, ada sesuatu bergemuruh di dadanya. Ara juga sedang tersenyum. Dia seperti mengenali senyuman itu. Jangan-jangan, Ara adalah ....


"Ada yang ingin aku tanyakan, Ra. Apa orang tuamu meninggal di rumah sakit ini?" Raffi memberanikan diri untuk memastikan hatinya.


Ara terdiam. Waktu itu Ara terlalu kecil. Dia tidak ingat kejadian itu sama sekali.


"Aku tidak tahu, dok. Waktu itu aku masih kecil. Mungkin Kak Aldy tahu!"


"Ya, sudah. Jangan terlalu dipikirkan. Aku hanya sekedar bertanya aja, kok! Baiklah, kondisimu sudah sangat baik. Mungkin besok atau lusa kamu sudah boleh pulang!" ungkap Raffi.


"Benarkah, dok. Berarti aku sudah bisa kuliah lagi dong!"


"Tidak, tidak. Kamu harus bedrest di rumah sampai minggu depan. Setelah itu kita lihat hasil operasimu dulu! Aku pergi dulu, ya. Besok aku akan datang lagi. Jaga Buddy baik-baik, ya!" ucap Raffi dengan pesan yang sama.


Ara cepat mengangguk, "baik, dok. Terima kasih!" katanya.


Raffi pun mengangguk dan melangkah pergi diikuti seorang perawat yang baru muncul setelah dokter Raffi selesai memeriksa Ara.


Ara hanya tertegun setelah dokter Raffi pergi. Bagaimana dokter Raffi tahu kalau orang tuanya sudah tiada?


*****

__ADS_1


__ADS_2